Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • Halo, Kawans!

    Sudah lama saya tidak mengulas buku, meskipun sebenarnya kebiasaan membaca minimal satu buku per minggu masih saya pertahankan. Kali ini, saya akan kembali membuat ulasan buku dan lebih mengejutkan lagi, buku yang akan saya bukan novel atau cerita fiksi. Tidak seperti buku nonfiksi kebanyakan yang sering membuat saya mengantuk, buku ini justru membuat saya sibuk senam muka alias tertawa terpingkal-pingkal di banyak bagian.

    Sedikit mengulang pembahasan tentang diri saya (jangan bosan bacanya ya, Kakak!), sejak kecil saya sudah dicekoki oleh segala macam lawak dan dagelan dalam negeri. Selain Warkop DKI, junjungan lelucon saya adalah grup Srimulat. Bahkan, menurut cerita Mamah, ia bersama almarhum Papah menghabiskan masa pacaran dengan menonton pentas Srimulat di Taman Ria Remaja Senayan hampir setiap malam Minggu! Ditambah latar belakang alm. Papah yang berdarah Jawa, maka tak heran Srimulat sering berkumandang di rumah, baik dalam bentuk kaset lawak maupun siaran televisi.

    Sewaktu ada akun @srimulatism di ranah Twitter pada tahun 2011 pun, saya langsung sigap mengikuti. Girang sekali rasanya begitu tahu, akhirnya muncul buku yang khusus mengulas soal grup lawak legendaris ini. Apalagi format bukunya ringan, namun cukup rinci mengupas sejarah Srimulat dan banyak bonus lain yang mengundang gerrr habis-habisan. Simak ulasan saya kemarin kram perut usai menuntaskan buku ini dalam satu hari saja.

    -----

    Judul buku : Srimulatism – Selamatkan Indonesia dengan Tawa
    Genre : humor, nonfiksi
    Penulis : Thrio Haryanto
    Penyunting : Dyota Lakhsmi, Novikasari Eka S. 
    Ilustrasi : Pinot dan Hari Prast
    Perancang sampul : Hari Prast

    Penerbit : Penerbit Noura (PT. Mizan Publika), Jakarta
    Cetakan : 1, Maret 2018
    Tebal : 188 halaman
    ISBN : 9-786023-854011
    Harga : Rp. 49.000 (berlaku di Pulau Jawa)

    -----

    BLURB

    Srimulat bukan sekadar komedi. Kreativitas, kerja keras, nilai kekeluargaan, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci sukses kelompok ini dalam berkarya hingga lebih dari lima dekade. Bahkan, meski sudah dinyatakan bubar; lawakannya masih bertahan, menjadi genre tersendiri, hingga kita pun sering berucap, “Srimulat banget sih.”

    Sungguh menarik menjelajahi pakem-pakem, nilai, dan aturan tak tertulis – Srimulatologi – yang dianut kelompok ini. Selain itu, bersiaplah menahan tawa dengan lawakan Srimulat, sekaligus terinspirasi kisah-kisah tak terduga di balik layarnya.

    -----

    APA KATA SAYA TENTANG ISI BUKU INI?

    Selain kata pengantar, profil penulis, dan daftar referensi, ada empat belas bab yang dituangkan dalam buku Srimulatism. Keempat belas bab tersebut mengulik sejarah Srimulat, mulai dari kehidupan awal Raden Ayu (R.A.) Sri Mulat di masa dewasa muda hingga apa saja warisan grup Srimulat yang tak lekang oleh waktu hingga kini.

    Ada dua tokoh besar di balik terbentuknya Srimulat, yaitu  pasangan suami istri R.A. Sri Mulat, seorang wanita berdarah biru asal Kawedanan Bekonang. Sukoharjo, Jawa Tengah dan Teguh, seorang musisi muda keturunan Tionghoa yang berbeda 18 tahun lebih muda dari sang istri.

    Sri Mulat meninggalkan statusnya di kalangan atas dan menekuni passion-nya di dunia seni. Ia menjelma menjadi seorang biduanita bersuara emas dan menjajal peruntungan akting di layar perak. Popularitasnya meroket dan sempat menikah-cerai beberapa kali, sebelum akhirnya hatinya tertambat pada seorang gitaris muda dari Klaten, Teguh.

    Mendiang pasangan Pak Teguh dan Bu Sri Mulat
    pic : twitter @srimulatism


    Eits, jangan asal berpikir kalau Pak Teguh ini cuma brondong yang mencari sugar mommy untuk memuluskan kariernya, ya!

    Pak Teguh justru merupakan peletak dasar Srimulat sebagai kelompok hiburan yang identik dengan lawak. Sebelumnya, Srimulat lebih condong sebagai grup musik keroncong. Segmen dagelan awalnya merupakan program sisipan yang ditampilkan sebagai pengisi jeda saat pertunjukkan supaya penonton tidak jemu menunggu penampil keroncong.

    Di luar dugaan, segmen humor ini malah lebih mencuat dan selanjutnya menjadi proyek serius yang ditekuni oleh Pak Teguh. Ia pun menyuguhkan gebrakan demi gebrakan dengan memasukkan konten-konten Barat yang sedang hits, seperti parodi film asing, tokoh drakula, termasuk judul pementasan yang memakai bahasa Inggris (jauh sebelum anak Jaksel gayanya keminggris!)

    Selain perjalanan secara kelompok, buku Srimulatism juga menampilkan kisah beberapa legenda hidup Srimulat, seperti Gepeng, Asmuni, sampai sepak terjang Gogon – yang biasanya tampil seperti anak bawang, namun ternyata punya semangat luar biasa ketika mempersiapkan sebuah pertunjukkan akbar.

    Ada bagian yang sangat mengiris hati saya, yaitu ketika diceritakan beberapa personel Srimulat yang merasa sudah populer, memutuskan untung hengkang dan menyebabkan pentas Srimulat menjadi sepi. Namun, pada akhirnya para personel ini akhirnya kembali kepada grup yang sudah membesarkan nama mereka, termasuk Gepeng yang sempat tersandung kasus kepemilikan senjata api ilegal dan hidupnya berubah drastis dari kaya raya hingga kembali morat-marit.

    Nah, yang jadi favorit saya, buku ini tidak melulu menampilkan kisah-kisah historis dan nostalgia. Sebagai penyeimbang, pada setiap bab ada bagian yang memuat contoh skenario cerita pementasan dan kumpulan anekdot khas Srimulat, lengkap dengan keterangan siapa yang ada dalam dialog tersebut. Bagian inilah yang membuat saya sangat betah membaca, sampai meluangkan terbahak-bahak sebelum membalik halaman.

    Memang deh, saya ini lemah banget sama jokes receh!

    Saya kasih bocoran beberapa leluconnya, nih!

    ***

    Halaman 67 :
    Mamiek : Nung, kamu itu cantik luar dalam.
    Nunung : Ah, masa, sih?
    Mamiek : Iya, tapi lebih cantik kalau di dalam.
    Nunung : Di dalam apa?
    Mamiek : Kegelapan!

    Halaman 93 :
    Tarsan : Pak Asmuniiiii .... Apa kabar?
    Asmuni : Alhamdulillah, sehat wal-Accord!
    Tarsan : Kok Accord?
    Asmuni : Fiat-nya sudah saya jual!
    (keterangan : Accord dan Fiat yang dimaksud adalah merek mobil)

    Halaman 127 :
    Gepeng (monolog) : Saya ini kerja sama Pak Asmuni sudah lama. Awalnya, cuma jadi pelayan. Kemudian, saya diangkat menjadi Kepala Bagian Keuangan. Khusus, ngurusin uang kerokan!


    ***


    Duh, kalau kamu enggak tertawa, mohon maaf berarti kita adalah spesies makhluk berbeda hahaha! *tutup muka ketahuan selera humor yang super ambyar*

    Secara kepenulisan, saya cukup menikmati penuturan Mas Thrio (yang juga menjadi tokoh di balik layar akun @srimulatism) terhadap segala kisah penyusun sejarah Srimulat. Meskipun banyak istilah dan kosakata dalam bahasa Jawa yang bertebaran, namun keterangan di catatan kaki sangat membantu saya untuk memahami maksudnya. Lagipula, bahasa Jawa memang sudah begitu lekat dengan citra Srimulat, sehingga nyaris tak mungkin meninggalkannya, termasuk saat menulis buku ini.

    Foto-foto yang dicantumkan di dalam buku pun tergolong cukup jelas, walaupun merupakan dokumentasi lama dan spesial, dicetak dalam warna hitam-putih. Ditambah ilustrasi-ilustrasi memikat dari Pinot (iya, ini Om Pinot ilustrator keren yang sekarang kerja di perusahaannya Babeh Gary Vee itu!) dan Hari Prast, memanjakan mata saya. Dengan tebal 188 halaman saja dan pilihan serta ukuran huruf yang cukup besar (jadi mata saya tidak cepat lelah), saya mudah menamatkan buku ini di kisaran 2-3 jam dengan kecepatan membaca santai.

    Pilihan warna biru dan kuning untuk sampul seperti menyentil saya akan dua sisi dari Srimulat. Kuning nan ceria dari kesegaran humornya dan biru sebagai reprentasi kebijakan yang tersemat dalam prinsip lawakan mereka yang bukan sekadar “asal omong”.

    Mengutip kata-kata mendiang Pak Teguh, saya mengamini pernyataan beliau :

    “Segala sesuatu dapat dikomedikan. Masalahnya adalah tega atau tidak, tepat atau tidak.”

    Di tengah sensitifnya negeri ini, mengenang kembali kemeriahan canda dan gelak tawa bersama Srimulat begitu mengademkan hati. Misi menyelamatkan Indonesia dengan tawa melalui cara yang tidak melukai hati atau menjadikan kedukaan serta kelemahan orang lain sebagai bahan lelucon – atau populer dengan istilah mikul dhuwur, mendhem jero – adalah sebuah keinginan mulia yang saya dukung seratus persen!

    Keputusan akhir, saya memberikan 9 dari 10 bintang untuk buku Srimulatism. 



    Siapkan satu hari untuk menciptakan suasana gembira dengan para laskar tawa legenda ini! 



    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Setelah vakum beberapa lama, Back to the 90’s Battle setor muka lagi, nih! Sebagai tukang jajan, enggak lengkap kalau topik jajanan favorit era 90-an lewat dari bahasan.

    Seperti biasa, saya akan mulai meracau dengan kisah gimana Winda kecil suka jajan dan ngemil, walaupun badan kerempeng. Orang tua saya melihat bakat memamah biak pada kedua anaknya – saya dan Radit, adik laki-laki yang cuma selisih satu tahun sama saya – mengalir deras. Nah, ada satu lemari di rumah yang jadi brankas harta karun, alias isinya segala macam camilan, bersebelahan dengan kulkas kecil yang isinya macam-macam susu kotak dan minuman kemasan.

    Lupakan gaya hidup sehat, pantas banget saya super pecicilan. Baru sadar, kayanya dulu kecil itu saya sugar rush setiap hari hihihihi! Tapi, saya masih termasuk bisa mengontrol soal jajan. Karena emang dasarnya udah control freak dari kecil, rasanya kalo enggak sesuai standar dan jadwal, saya bisa uring-uringan sendiri deh!

    via GIPHY

    Selain punya lemari camilan, saya juga doyan menjelajahi warung. Saya coba berbagai jajanan, meskipun diam-diam. Maklum, nyokap biasanya suka wanti-wanti jangan asal jajan. Isu jajanan yang dulu sempat hits, salah satunya tentang biskuit beracun dan permen narkoba. Berhubung dulu belum marak acara TV yang temanya investigasi (dengan suara pelaku disamarin kaya tikus mencicit atau sekalian kaya robot), jadi berita-berita begini palingan “viral” di koran dan majalah aja.

    Nah, masuk ke bahasan. Saya dan Asti sempat berdiskusi soal jajanan macam apa yang akan dibahas, supaya fokus. Akhirnya, pilihan jatuh pada sweets, alias snack manis-manis. Saya akan bahas snack cokelat dan Asti bahas aneka permen yang ngetop di dekade 90-an.

    Saya sudah membaginya ke dalam lima kategori besar. Beberapa ada yang sudah hilang dari peredaran, sisanya masih bisa kita temui walaupun sudah lewat dua dasawarsa. Coba cari, adakah merek favoritmu di daftar ini!


    1. Wafer dan stik krenyes-krenyes

    Dari segala macam jajanan cokelat, yang paling menarik hati saya adalah wafer! Saya seneng banget sama suara ‘KRESSS’ yang mengikuti setiap menggigitnya. Yah, walaupun si remah-remah sering ikut bertebaran dan nambahin peer bebersih.

    Wafer yang paling legendaris tentu saja, Wafer Superman! Sekarang sih namanya udah ganti jadi wafer Superstar. Disebut Superman karena ada gambar tokoh serupa Superman di bagian depan bungkusnya. Sempet sedih karena wafer ini mengalami penyusutan ukuran dan ada masanya ia hilang, sekarang dengan merek baru, bentuknya langsing panjang. Anak-anak saya pun menjadi generasi penggemar wafer ini selanjutnya.

    wafer superman vs wafer superstar
    pic : idn times

     
    Wafer kedua yang sekarang makin bervariasi jenis produknya adalah Beng-beng. Berbeda dengan wafer Superman, Beng-beng menawarkan tekstur berbeda. Gabungan antara cokelat, crunchy, dan ada tekstur lengket chooey karamel bikin Beng-beng punya daya tarik bikin nagih! Kalau ingat pula iklannya (yang ambigu karena adegan cewek dan cowok remaja makan satu Beng-beng berdua, ala-ala mau ciuman), ada slogan “Asyik Berat!” yang disematkan. Kini, Beng-beng punya ukuran mini dan ada pula minuman cokelat seduhnya.

    Bengbeng jadul
    pic : mbakyumalang on blogspot


    Beralih ke stik rasa cokelat, ada Si Stik Loreng Bungkus Merah yang tak terganti di hati, Astor. Banyak stik loreng KW sejenis dengan nama mirip-mirip, tetapi kualitas dan rasa enggak bisa ngalahin aslinya, dong! Bagian paling mengasyikkan dari makan Astor, buat saya adalah ngemilin remahan atau bubukannya! Apalagi kalau kemasan kaleng, bisa saya kekep sendiri deh hehehe!

    Astor jadul
    pic : monster bego on blogspot


    Dan, ini dia yang paling saya kangenin, stik rasa cokelat terenak, Chiki Stick. Percayalah, kalo kamu udah cobain stick lapis cokelat dengan tiga varian rasa, cokelat, stroberi, dan lemon, kamu bakal bilang : 

    Momogi is sooooo overrated! 

    chiki stick yang saya kangenin banget
    pic : azizah laurensia on wordpress

    Cokelat stroberi favorit saya, di lidah menggabungkan rasa paling pas dan enggak enek!




    2. Pasta cokelat lezat

    Pindah ke jenis cokelat favorit selanjutnya, pasta cokelat! Otak saya langsung teringat dua merek ini lah!

    Pertama, siapa enggak kenal yang panjaaaang dan laaaamaaa, Choki-choki! Seperti halnya wafer Superman, Choki-choki adalah merek snack cokelat yang jadi ikon jajanan sejak lama dan awet bertahan hingga sekarang. Kedua jagoan saya juga menggandrungi cokelat ini, apalagi sekarang dibandrol dengan bonus kartu-kartu mainan.

    Choki-choki jadul
    pic : kapanlagi

     
    Kedua, ada cokelat pasta dalam cup kecil dan makannya kudu disendokin, Choyo-choyo. Ada tambahan rasa dan warna berbeda dalam variannya, selain warna dasar cokelat dan putih – merah muda, kuning, dan hijau. Ada yang menyebutnya rainbow chocolate dan produsennya sama seperti  permen karet Yosan, ditandai dengan ikon kartun yang sama.

    choyo choyo si cokelat pelangi
    pic : elevenia


    Seperti biasa, favorit saya yang ada stroberinya hehehe. Sendoknya kecil banget dan kalo dipikir, si pewarna serta bahan plastik sendoknya entah aman atau enggak. Tapi namanya jajanan, hajar bleh aja lah sikat!


    3. Cokelat batang murah dan bentuk unik

    Jenis ketiga adalah cokelat batangan nan keras dengan harga murah. Merek pertama juga menjadi ikon cokelat harga terjangkau yang membekas dalam kenangan, Cokelat Jago. Bungkus cokelat rasa susu ini sederhana. Warna merah putihnya ikonik banget (mungkin ada juga yang menghubungkan dengan nasionalisme Tanah Air) dan lambang ayam jantan sebagai penguatan nama mereknya. 

    cokelat jago
    pic : kompasiana

    Cokelat ini buat saya enggak bikin enek. Masih otentik rasa cokelat jadul sehingga menyenangkan untuk disantap sampai sekarang. Porsinya juga pas, enggak tergolong besar.

    Berikutnya, ada beberapa cokelat batang yang dikemas dalam bentuk unik. Ingatkah kamu dengan trio cokelat ini : cokelat koin, cokelat payung, dan cokelat rokok? 

    cokelat koin
    pic : twitter

    cokelat payung
    pic : tokopedia

    cokelat rokok
    pic : bukalapak

    Ketiganya selalu dicari setiap ada bingkisan ulang tahun hehehe. Selain dimakan, cokelat bentuk tak biasa ini dijadikan alat bermain pula. Paling epik tentu saja cokelat rokok yang diem-diem suka menyalurkan gaya meniru bapak-bapak ngerokok oleh anak-anak cowok. Tapi, jangan nekat ngebakar ya! Nanti malah meleleh, sayang dong!


    4. Bulat-bulat gemesin

    Cokelat bulat seperti bola begitu menggemaskan di mata saya. Ada dua merek yang paling nempel dalam kenangan. Pertama, tentu saja kesukaan anak Indonesia, Chiki Balls! Varian rasa manis di antara dua rasa asin, Ayam dan Keju, menitipkan cita rasa tersendiri. Kriuk-kriuk krenyes yang muncul saat kita mengunyah Chiki Balls jadi bagian ternikmat setiap memakannya. 

    chiki balls cokelat curah
    pic : bukalapak

    Kalau kamu masih susah lepas dari Chiki Balls cokelat, cari deh di lapak-lapak online, banyak kok yang jual dalam kemasan curah dengan isi mulai seperempat kilogram.

    Kedua, mungkin kamu lupa, saya sendiri kaget waktu menemukan di sebuah lapak jajanan jadul di kawasan Bandung Indah Plaza. Namanya Winball Chocolate. 

    winball chocolate
    pic : monarrefoodcompany

    Bola biskuit berlapis cokelat ini dikemas dalam sachet bening dengan aksen warna emas. Kesannya memang lebih mewah. Cokelatnya enggak terlalu manis, seperti selera kesukaan saya dan crunchy adonan biskuitnya juga pas serta enggak banyak beremah.


    5. Yang elit harga melangit

    Sebagai penutup, mari bahas tiga merek cokelat pembolong kantung dan hanya diharap diberikan saat ulang tahun atau bongkar parsel kantor orang tua kita.

    Merek pertama, Cadbury, jadi tolok ukur saya waktu kecil sebagai cokelat yang “wow”. Pasti deh setiap parsel bakal ada satu set cokelat Cadbury. Yang jadi sasaran saya sih milk chocolate, karena saya anti banget sama kacang-kacangan dan kismis. Males makan cokelat yang pakai acara potongan kacang nyelip di gigi, hedeh!

    cokelat cadbury masa kini
    pic : harga joss


    Selanjutnya, siapa tak kenal Toblerone? Amsyiong dah kalo pas ospek, kamu kedapetan harus kasih kado kakak senior cokelat ini lengkap dengan surat cinta abal-abal! Udahlah harganya mahal, entah kenapa, lidah saya enggak doyan sama cokelat ini. Ciri khasnya memang pada komposisi nougat, almond, dan rasa manis madu, dikawinkan dengan cokelat Swiss. Apa lidah saya emang ndeso, jadi cokelat internesyenel begini malah mental *tutup muka*

    toblerone yang jadi langganan tugas ospek
    pic : suaradotcom

    Last but not least, ada cokelat yang hits di kalangan remaja Indonesia 90-an, Silverqueen. Harganya tergolong lebih murah dari Cadbury dan Toblerone. Namun, karena sasarannya memang remaja, buat anak SD harganya tergolong mahal. Silverqueen bisa dibilang jadi syarat pergaulan (dan hadiah pacaran) remaja 90-an, lo!

    silverqueen idola remaja
    pic : hargacepatdotcom


    Iklannya pun terkenal banget dengan lirik catchy :

    Santai belum santai, tanpa dia
    Cokelat mede lezat, oh Silverqueen

    Silverqueen belakangan mengeluarkan banyak banget produk cokelat seperti Chunky Bar, Bites, dan Rock’R; namun varian asli tetap jadi pilihan utama banyak pembeli yang telanjur kepincut sejak masa muda.


    Masih banyak banget jajanan rasa cokelat di pasaran era 90-an dulu dan mungkin saja belum saya sebutkan dalam daftar.



    via GIPHY

    Cerita dong, kalo kamu paling suka sama jajanan cokelat yang mana? Lengkapin daftar ini juga boleh banget. Share di kolom Komentar, yuks!




    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Jika biasanya saya membuat review film yang sudah lama diputar bertahun-tahun silam, kali ini saya akan mengulas sebuah film keluarga yang masih hangat dan sedang tayang di bioskop terdekat. Kamu yang masa kecilnya dulu sangat menggemari Si Beruang Menggemaskan dari Disney, Winnie the Pooh, seperti saya, pasti sudah menantikan untuk menyaksikan film ini, Christopher Robin.

    -----



    Judul film : Christopher Robin
    Genre : fantasi, drama, keluarga
    Bulan dan tahun rilis : Agustus 2018
    Sutradara : Marc Foster
    Produser : Brigham Taylor, Kristin Burr
    Penulis skenario : Alex Ross Perry, Tom McCarthy, Allison Schroeder
    Pemeran : Ewan McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Oliver Ford Davies, Jim Cummings, Brad Garrett
    Produksi : Walt Disney Pictures
    Distribusi : Walt Disney Studios Motion Pictures
    Durasi : 104 menit

    -----

    SINOPSIS

    Selepas berpisah dari kawan-kawan fantasinya di Hundred Acre Woods, Christopher Robin (Ewan MacGregor) seolah kehilangan pribadi cerianya, ditelan kerasnya hidup. Ditempa disiplin keras di sekolah asrama dan sempat berjuang dalam Angkatan Bersenjata Inggris pada masa Perang Dunia II, Christopher menjadi pria yang jauh berbeda. 

    Sepulang perang, Christopher berhasil membangun karier di Winslow Enterprise, sebuah produsen koper di London, sebagai spesialis efisiensi. Namun, sang istri, Evelyn (Hayley Atwell) dan Madeline (Bronte Carmichael) merasa mereka kehilangan waktu serta diri seutuhnya Christopher sebagai bagian dari keluarga.


    Madeline - anak perempuan Christopher Robin

    Evelyn - istri Christopher Robin

    Puncaknya, ketika Christopher terpaksa membatalkan janji liburan akhir pekan mereka di rumah peristirahatan daerah Sussex, Evelyn yang sangat kecewa memutuskan tetap pergi bersama Madeline. Sementara, kepala Christopher makin pening mendapati sebuah permintaan presentasi di hari Senin dari Giles Winslow, Jr. (Mark Gatiss), anak pemilik Winslow Enterprise untuk membuat perencanaan PHK sebagai bagian dari “peningkatan efisiensi perusahaan”.

    When the BFF are reunited

     
    Tak disangka, sahabat masa kecil Christopher datang berkunjung. Ialah Winnie the Pooh – atau selanjutnya akrab dipanggil Pooh saja – Si Beruang Menggemaskan dengan filosofi hidup santainya : “Tidak berbuat apa-apa justru akan membawa kebaikan besar dalam hidup.”

    Christopher dan Pooh sama-sama bingung berhadapan dengan pribadi yang kini jadi bertolak belakang. Christopher menganggap Pooh jauh dari cerdas dengan kata-kata kekanakan dan prinsip hidup yang bentrok dengan kerasnya dunia nyata. Sementara, Pooh menyayangkan Christopher dewasa jadi semacam kehilangan “cahaya” aslinya.

    Christopher pun memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan mengembalikan Pooh ke Hundred Acre Woods, tepatnya dekat dengan rumah peristirahatannya di Sussex. Perjalanan pun diwarnai kejadian lucu karena Pooh yang enggan berhenti mengoceh dan menimbulkan kehebohan. Ternyata, misi Christopher memulangkan Pooh berlangsung lebih lama dan membangkitkan lagi nostalgianya, berjumpa dengan para penghuni Hundred Acre Woods seperti Eeyore, Piglet, Tigger, Rabbit, Owl, Kanga, dan Roo.

    Geng Hundred Acre Woods - yay!

    Meaningful convo with Pooh is always a pleasure!

    Christopher kembali ke London untuk menghadiri presentasi pentingnya. Tetapi, masalah ternyata belum selesai. Kini para tokoh yang merasa hidup mereka dulu terbantu oleh Christopher, ingin membalas budi dengan menyelamatkan hidup Christopher dari masalah di dunia barunya. Bagaimana akhirnya Christopher Robin bisa menemukan kembali cahaya dan semangat hidupnya yang menyurut?

    -----

    ULASAN

    Sewaktu saya membawa anak-anak menonton film Christopher Robin, bayangan saya, mereka akan menikmati film ini. Alasannya simpel, karena mereka antusias melihat Pooh dan para kawannya di Hundred Acre Woods sewaktu menonton trailer-nya.

    Ternyata, saya salah besar!

    Pertama, kisah yang ditampilkan dalam film ini, menurut saya bukan untuk konsumsi anak-anak prasekolah. Banyak dialog berat yang menurut saya, sulit untuk dipahami oleh anak-anak. Kemesraan yang ditunjukkan oleh Christopher dan Evelyn pun perlu jadi perhatian, karena ada adegan kissing yang tiba-tiba muncul! Anak-anak gampang bosan, apalagi saya menilai aura film ini cukup gloomy untuk ukuran drama keluarga ala Disney.

    Kedua, porsi para tokoh fantasi, selain Pooh, bisa dibilang hanya memenuhi paling mentok separuh film. Jadi, pupus harapan kalau menantikan banyak adegan menggemaskan dari geng Hundred Acre Woods. Walaupun begitu, saya sendiri lumayan puas waktu Pooh, Piglet, Eeyore, dan Tigger bertualang ke London menyusul Christopher, seru! Di bagian ini pula, anak-anak lumayan anteng dan ikut tertawa.

    Formula film Christopher Robin, mengingatkan saya pada film Hook, di mana sang tokoh utama yang tadinya anak-anak, kini telah menjadi dewasa dan menghadapi problematika tersendiri yang berbeda dengan masa petualangan fantasinya. Tetapi, Christopher Robin diarahkan dengan lebih apik, sehingga kesederhanaan premisnya bisa menjadi sebuah rangka cerita kuat berkat filosofi hidup yang begitu mengena, walaupun latar cerita ini berada puluhan tahun silam.

    Ewan MacGregor (duh, kelihatan banget dia sangat bapak-bapak di sini!) mampu menampilkan sebuah akting yang cukup meyakinkan sebagai Christopher Robin dewasa. Suasana gelap dalam hatinya terbaca jelas dari gestur dan ekspresi muka, sampai intonasi tutur katanya.

    Sementara Hayley Atwell, sayangnya, masih sulit melepaskan citra Agen Peggy Carter dari semesta sinema Marvel. Aktingnya terasa tanggung buat saya. Malah, aktris cilik pemeran Madeline, Bronte Carmichael lebih sukses mengeluarkan emosi sebagai anak yang kesepian dan terluka oleh ketiadaan sang Ayah.

    Yang mencuri perhatian saya, justru Mark Gatiss, yang kita kenal sebelumnya sebagai Mycroft, abang Sherlock Holmes dari serial Sherlock di BBC. Tanpa dialog saja, pasti sudah terbayang betapa menyebalkannya pria ini. Mingkem pun penonton terbawa pengin sleding, hahaha!

    Si antagonis yang bikin pengin sleding
    pic : disney wikia


    Kredit tertinggi saya nyatakan jatuh kepada Jim Cummings, pengisi suara Pooh. Bagaimana ia berhasil menghidupkan karakter Pooh, dengan nada bicara lembut, sesekali guyon, namun selalu ada pesan menohok di balik kalimat silly-but-true miliknya. Pooh inilah yang berhasil menampar saya dengan kiriman pesan untuk melonggarkan sejenak ketegangan berjuang menghadapi dunia nyata. Karena tantangan tak selamanya harus dilawan dengan ketangguhan nan keras, bersantai bukanlah sebuah kebodohan ataupun dosa.

    Kalau mau jujur, saya menyaksikan film ini di saat yang tepat. Saya tengah mengalami kegalauan dan kelelahan lahir batin seperti Christopher, hingga pada titik, saya seperti melupakan bagian hidup untuk relaks dan bersenang-senang. Segala macam tugas, tenggat waktu, proyek, seperti menghabiskan energi saya.

    Tanpa berniat menjadi seseorang yang tidak profesional, saya mengamini apa kata Pooh. Terkadang, tidak melakukan apa-apa (selama beberapa waktu), akan membuat kita justru menghasilkan sesuatu yang lebih berguna ketimbang ngotot mengejar ambisi.

    Untuk film yang memikat dengan kesederhanaannya ini, saya berikan nilai 8 dari 10. Mostly because Pooh stole my heart since his first line.


    Bagaimana dengan kamu? Apa kesan yang kamu dapatkan setelah menonton film Christopher Robin? Yuks, cerita di kolom Komentar!



    photos from IMDB


    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Bagaimana kamu memperingati Hari Kemerdekaan kemarin? Apakah kamu ikut lomba-lomba seru di kompleks atau kantor? Apakah kamu ngedumel karena harus bangun pagi di tanggal merah untuk ikut upacara? Atau apakah kamu terpukau sama prosesi upacara di Istana Merdeka yang ditayangkan di televisi?

    Bagaimanapun caramu merayakan hari jadi negara kita yang ke-73, semoga apa yang kamu lakukan adalah sebuah penghargaan atas kemerdekaan yang patut disyukuri.

    Saya sendiri membuat sebuah langkah spontan yang semoga bisa membawa manfaat bagi negeri ini, khususnya bagi kaum wanita.

    Berawal dari sebuah Facebook post di laman mentor menulis saya, Mak Hanny Dewanti yang baru saya baca kemarin pagi. Mak Oney – begitu ia akrab dipanggil – menyoroti sebuah kejadian yang sontak membuat saya geram sekaligus miris.


    Kisah ini menimpa salah satu novelis populer Indonesia, Ika Natassa. Saya memang bukan penggemar karyanya, namun tetap saja ini tidak membuat saya membenarkan apa terjadi padanya. Ada seseorang (anonim pula) yang menyinggung mengenai Ika yang dicela “fisiknya tidak secantik tokoh fiksi yang ditulisnya”. Saya masukin ya gambarnya di sini, diambil dari Facebook post Mak Oney, yang ternyata screenshot dari Instagram story Ika Natassa.





    Amarah dan kekecewaan saya membuncah. Jujur saja, dengan kemerdekaan yang sudah kita miliki lebih dari tujuh dekade, ternyata wanita Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari stigma dan penghakiman orang lain. Pahitnya, orang lain itu adalah sesama wanita.

    Saya sontak pula teringat salah satu buku non fiksi terbaik yang saya baca tahun ini, Imperfect karya Meira Anastasia. Buku ini mengangkat tentang perjuangan Meira membangun kepercayaan diri dan positive body image setelah mengalami body shaming, baik di masa lalu hingga masa kini. Sebagai istri Ernest Prakasa, Meira sering mendapatkan cemoohan dari netizen maha benar yang berekspektasi konyol “seharusnya istri Ernest bisa lebih menarik dipandang mata”.

    Saya rekomen banget baca buku ini supaya kamu juga dapat pandangan lebih luas mengapa body shaming ini hama yang harus diberantas!

    Well, saya sendiri juga mengalami body shaming sejak kecil sampai sekarang. Mungkin kamu juga mengalami hal yang sama.

    Saya dulu kurus banget, dengan nafsu makan luar biasa. Jadilah dituding cacingan, bulimia, you name it. Begitu kuliah, badan saya bisa lebih berisi, langsung dituding di bagian perut buncit. Sekarang, karena perut saya masih saja membusung, suka sebel kalau dikira hamil. Begitu tahu saya enggak hamil, eh jadi dikomentarin masalah perut, hedehhhh!

    Dan saya kemarin spontan menyadari, awal body shaming sering banget datang dari kalimat pembuka percakapan yang niatnya basa basi, tetapi malah jadi BASI beneran.

    “Eh, kamu kok kurus banget sih?”
    “Kamu gemukan ya?”
    “Jarang olahraga ya? Buncit dan gombyor banget badan.”
    “Kok udah lama lahirannya, masih gede aja badannya?”

    *OTOMATIS BERUBAH HIJAU, BESAR, DAN KEKAR KAYA HULK*


    via GIPHY


    Jadi, kemarin saya – dengan kemampuan desain pas-pasan dan bermodal Canva – langsung membuat sebuah gerakan sederhana. Namanya #STOPbasabasibodi, tagline-nya Mari mulai bicara, tanpa mencela raga. Tujuannya, saya ingin mengajak kita bikin percakapan bermutu, dimulai dari opening line yang enggak menyinggung fisik lawan bicara.



    Frankly speaking, mencela fisik seseorang sering dianggap sebagai lelucon yang menyenangkan. Makanya cela-celaan fisik masih jadi salah satu bahan lawakan yang digemari di Indonesia. Padahal, kata-kata yang awalnya kita lontarkan dalam konteks bercanda, rupanya bisa membekas bagi mereka yang mendengarnya.

    Curcol lagi, saya sempat sebal sama kacamata. Gara-gara sering dihina “mata empat” dan dibilang kacamata bikin saya makin culun, saya dulu gemes banget pengin buru-buru pakai lensa kontak. Akhirnya, saya jadi pemakai lensa kontak sejak tingkat 3 kuliah. Awalnya karena kacamata saya retak dan kacanya nyaris masuk mata waktu tanding basket. Kemudian, si kacamata lama-lama suka ganggu kalau saya praktikum di lab (suka berembun karena keringat).

    Tapi, setelah melahirkan, saya kembali lebih nyaman pakai kacamata sampai sekarang. Ya sudahlah, toh yang membuat saya terlihat menarik bukan melulu dari pakai kacamata atau tidak, tetapi masih banyak faktor lain, misalnya senyum, kulit terawat (pe-er buat rajin skinkeran), muka segar karena cukup istirahat, dan tentu saja bahagia secara batin juga bakal bikin saya lebih bersinar.

    Nah, enggak semua orang punya kesempatan untuk langsung tercerahkan. Membangun positive body image itu memang penting. Namun, tak kalah penting pula bagi kita untuk membantu orang lain memahami dirinya berharga dengan tidak menjatuhkan rasa percaya dirinya.

    repeat the mantra!
    pic : popsugar


    Saya sudah post tentang #STOPbasabasibodi ini di akun Facebook dan Instagram saya. Silakan banget buat share dan repost supaya lebih banyak lagi wanita tahu serta terinspirasi untuk menciptakan hari yang lebih baik.

    Post di Facebook
    Post di Instagram

    Seandainya kamu ingin ikut serta mendukung gerakan ini, kamu bisa kirim DM di Facebook, Instagram, atau e-mail saya, ya! Semakin banyak yang mendukung, semakin cepat dan mudah pula pesan positif ini tersebar serta tersampaikan kepada jutaan wanita Indonesia.

    Your body loves you, love it back! Semoga kita bisa selalu menghargai tubuh ini dan juga menghargai tubuh orang lain. Bikin hari dan dunia ini lebih menyenangkan, yuk!




    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top