Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • Halo, kawans!

    It’s so good to be back. Saya hari ini akan berubah lebih serius dari biasanya. Pasalnya, buku yang saya akan ulas ini memang bukan buku main-main. Kita dapat menemukan banyak informasi dan inspirasi dari curhatan seorang ibu yang merantau nun jauh di sebuah negara Eropa dari buku padat berisi ini.

    Judul buku : Groningen Mom’s JournalGenre : non fiksi, kisah inspiratif
    Penulis : Monika Oktora
    Editor : Aninta Mamoedi

    Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta
    Cetakan : 1, Januari 2018
    Tebal : 264 halaman
    ISBN : 9786020451800
    Harga : Rp. 64.800,- (Gramedia)

    -----

    BLURB

    Setelah menikah, tak lantas impian pribadi pupus. Memiliki suami dan anak sesungguhnya menambahkan satu lagi energi dan dukungan dalam hidup. Dukungan tersebutlah yang menguatkan langkah Monika untuk melanjutkan studi Master ke Benua Eropa. Keluarga kecilnya pun ikut diboyong untuk mengarungi petualangan empat musim di benua tersebut.

    Monika membagi penngalaman hidup barunya di belahan dunia yang jauh dari Indonesia dalam catatan yang merangkum pengembangan dirinya. Catatan harian ini juga membedah dari mulai kehidupan komunitas Indonesia di Groningen, strategi bertahan hidup di Belanda, strategi menempuh pendidikan di Belanda, parenting, dan juga kuliner. Sebuah panduan lengkap bagi Anda yang ingin mengenal Groningen.

    -----

    APA ISI BUKU INI?

    Groningen Mom’s Journal terdiri atas 5 bagian yang terbentang secara linimasa dari bulan Oktober 2013 hingga November 2016. Setiap bab memiliki tema tertentu yang membahas berbagai segi tentang kehidupan penulis menjalani peran sebagai student mom dan bagaimana kehidupan di Groningen (serta Belanda) itu sendiri.

    Bagian I bertajuk Jalan Menuju Groningen, mengupas latar belakang dan persiapan Monika sekeluarga hijrah ke Groningen. Ada cerita tentang dilema pengambilan keputusan, lika-liku wawancara beasiswa, dan pengalaman aplikasi visa.

    Bagian II bertajuk Life Starts When The Wind Blows, mengisahkan awal mula kehidupan Monika sekeluarga di Groningen dan bagaimana cara mereka beradaptasi. Mulai dari cuaca, pengalaman suami Monika mencari kerja, perkenalan dengan rutinitas bersepeda, belajar bahasa Belanda, mencari makanan halal, bursa barang bekas, dan upaya berbaur dengan komunitas, semua dibahas lengkap.

    Bagian III bertajuk Warna-Warni Groningen, menjabarkan lebih rinci dan luas mengenai budaya di Groningen, serta budaya Belanda pada umumnya. Di sini saya jadi tahu tentang bagaimana dinamika empat musim berbeda di Belanda, kuliner Belanda (termasuk kebiasaan ngopi), apa yang menarik dari kota Groningen, kebiasaan masyarakat Belanda, sampai fenomena yang bikin saya merinding tentang bunuh diri di rel kereta.

    Bagian IV bertajuk Cerita Runa, secara pribadi dan khusus, menyorot kehidupan Runa, putri pertama Monika. Berbagai pengetahuan baru saya serap mengenai sistem pendidikan anak di Belanda. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah keharusan penguasaan keterampilan berenang yang sampai harus menempuh ujian khusus.

    Bagian V bertajuk Being Student Mom, menjadi penutup yang manis dan sempurna. Bagian ini tidak hanya peru dibaca bagi mereka yang hendak studi ke Belanda. Namun, siapapun yang sedang mengalami kondisi sama dengan Monika, misalnya ibu dan wanita menikah yang galau membagi kehidupan merantau, belajar, sambil mengurus keluarga.

    Setiap cerita memiliki bagian yang menjadi highlight, misalnya trivia atau tips yang patut kamu baca lebih cermat untuk mendapatkan informasi terpentingnya. Ada pula beberapa kutipan inspiratif yang tersebar di beberapa akhir cerita. Tentu saja, semacam memberi kesimpulan yang bermakna atas apa yang sudah dibahas dalam cerita tersebut.

    -----

    KESAN SAYA TERHADAP BUKU INI

    Koleksi buku fiksi saya termasuk tidak banyak dan biasanya butuh waktu lama untuk saya menamatkan buku non fiksi. Biasanya, buku-buku non fiksi membuat saya bosan di dua bab pertama, atau saya memilih untuk membaca acak, tidak urut dari awal buku sampai akhir.

    Groningen Mom’s Journal mematahkan semua kebiasaan buruk saya saat membaca buku fiksi. Saya menamatkan buku ini dalam sekali baca. Lalu, saya mengulang lagi beberapa cerita yang benar-benar membekas di hati.

    Rangkaian cerita yang disampaikan Monika benar-benar memiliki alur yang mulus. Saya jadi penasaran untuk terus melanjutkan membaca, sampai ternyata tidak terasa saya sudah sampai di akhir buku.

    Monika yang saya ketahui sempat mengikuti kelas menulis sebelum menyusun buku ini, ternyata benar-benar mengemas kisah-kisah yang selama ini mengisi blog-nya menjadi satu kesatuan kisah inspiratif. Hal ini yang tidak selalu dimiliki oleh penulis non fiksi.

    Saya merasakan betul bagaimana naik-turunnya emosi Monika. Mulai dari ragu, senang, takut, cemas, terpukau, prihatin, sampai rindu; seluruhnya tergambar jelas dalam pilihan kata-kata sederhana yang jujur dan tulus.

    Poin terpenting, saya merasa sama sekali tidak digurui oleh Monika di buku ini. Gaya bahasa yang digunakan cukup mudah diterima oleh pembaca dengan diksi yang tidak rumit. Secara tata bahasa, penyuntingan pun sudah termasuk rapi tanpa typo yang jelas mengganggu ataupun kalimat tak efektif.

    Kalaupun ada yang perlu diperbaiki di buku ini adalah foto-foto pelengkap yang tidak seluruhnya terlihat jelas. Namun, foto berwarna berarti akan menambah bandrol harga di buku ini dan tentu tidak bijaksana untuk meraih pangsa pasar pembaca. Mungkin ke depannya, penulis dan editor bisa selektif lagi memilih foto, khususnya yang menampilkan wajah, supaya lebih jelas saat tercetak.

    Semoga semakin banyak buku seperti ini yang bisa memberi gambaran tentang kehidupan merantau di luar negeri. Tentu saja, dengan penyajian yang bersahaja, namun mengena.

    -----

    KUTIPAN-KUTIPAN

    “Cita-cita saya juga adalah cita-cita suami, begitu pun sebaliknya, irama kaki kami sejalan, meski satu-satu. Bukankah itu yang diinginkan dalam rumah tangga?” (hal. 19)

    “Tetaplah kayuh sepedamu, karena pada akhirnya, kamu akan sampai juga di tujuan (dengan selamat, insya Allah).” (hal. 64)

    “Bagaimana bisa bekerja dengan baik kalau untuk bisa hadir tepat waktu saya susah. Kalau tidak berubah untuk menjadi disiplin, bisa-bisa dijajah lagi oleh kompeni di negaranya sendiri. Saya sih jelas tidak mau.” (hal. 119)

    “Belajar berenang di negara yang daratannya lebih rendah daripada lautannya adalah harga mati.” (hal. 209).

    “Yang saya yakini, menjadi mahasiswa dulu dan kini tugasnya masih sama, yaitu belajar. Belajar yang saya maksud bukan hanya belajar teori di kelas, tetapi juga belajar “hidup”.” (hal. 225)

    -----


    Untuk Groningen Mom’s Journal, saya memberikan nilai




    8 out of 10 stars!




    I really recommend this book to be a part of your collection!







    Continue Reading


    Halo kawans!

    Maaf ya saya hilang lama dari peredaran. Ada kelas menulis fiksi yang harus saya jalani dan kesibukan di sebuah komunitas online baru. Belum lagi badan remuk gara-gara nyeri bulanan yang menghebat, huft! Jadi, walaupun udah planning mau nulis apa, begitu di depan laptop, buyar aja gitu tenaga dan niat menulis.

    But, now I’m back!

    😎😎😎

    Saya akan mengulas sebuah buku anak. Tapi ini bukan sembarang buku, lo! Buku ini adalah buku Islami pertama yang sukses bikin saya mewek! Bahkan buku-buku agama yang bahasanya penuh untaian bunga surga, biasanya sukses bikin saya menguap.



    Nah, penasaran? Apa istimewanya buku ini? Kita simak dulu data bukunya.



    -----

    Judul buku : Allah Selalu Ada Untukku
    Jenis buku : cerita bergambar (cergam)
    Genre : Anak, Religi, Non fiksi
    Penulis dan Ilustrator : Amalia Kartika Sari
    Tebal : 48 halaman (full color)
    Penerbit : The Gang of Fur Books, Bandung
    Cetakan : 1, 2017
    Target usia pembaca : 3-5 tahun
    Harga : Rp. 90.000 (lewat PO) / Rp. 98.500 (ready stock)

    -----


    BLURP



    Lihatlah di sekelilingmu, betapa banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan jari-jari kecilmu.
    Dari mana ya datangnya?

    Orang tua dan keluarga yang sayang padamu, bumi yang luas, laut yang dalam, dan langit yang berhias gemerlap bintang. Siapa ya yang  menciptakan dan mengatur semuanya?

    Siapa Yang Mengabulkan doamu?
    Siapa Yang Mengetahui setiap perasaanmu?
    Siapa Yang selalu ada untukmu, menjaga, memelihara, melihatmu setiap waktu di mana pun kamu berada?

    Hanya Allah, Rabb yang satu, tak ada yang lain yang mampu melakukan semua itu.

    -----

    ULASAN

    Saya termasuk orang yang mengenal buku-buku TheGang of Fur (TGOF) Books sejak awal pertama mereka mengeluarkan buku Allah Ciptakan Tubuhku (ACT). Waktu itu, saya iseng melihat penawaran dari sang penulis dan ilustrator berbakar, Amalia Kartika Sari (atau akrab disebut Mamamel) di grup emak-emak alumni kampus.

    Ternyata, di luar dugaan, buku ACT ini booming! Sebanyak 10.500 eksemplar ACT ludes di edisi perdananya, luar biasa! Setelah itu, TGOF mengeluarkan tiga board book yang temanya pembelajaran dasar : abjad, angka, dan mengenal Islam. Ada pula buku jurnal syukur untuk anak dan ibu. Namun, saya melihat kesuksesan seri board book anak ini belum menandingi ACT.

    Hingga di penghujung 2017, dibukalah pre order (PO) buku sekuel ACT : Allah Selalu Ada Untukku (ASAU). Buku ini seperti ACT, termasuk dalam seri Allah Sayang Padaku. Dibuat dengan halaman matte full color dan sampul hard cover, buku ini menyasar anak usia prasekolah (3-5 tahun), walaupun bisa juga dibaca anak usia sedikit di atasnya (6-7 tahun).

    Apa yang membuat buku 48 halaman ini begitu menarik?

    Pertama, tentu ilustrasinya. Mamamel adalah ilustrator berbakat dengan gaya menggambar yang sangat khas. Gambarnya cute dan campuran warna yang digunakan memikat mata. Saya melihat ciri khas ilustrasinya yang sangat feminin. Emak-emak pasti suka, deh! Misalnya, ornamen-ornamen hati, bunga, sulur-sulur, cantik khas shabby chic masa kini.

    Cara Mamamel menggambarkan berbagai isi alam semesta juga menarik bagi anak-anak. Favorit Aryo dan Nara, dua jagoan cilik saya, adalah pemandangan dalam laut. Mereka akan menyebutkan makhluk penghuni laut dengan antusias dan lama-lama berebutan, berdebat seru (seperti biasa!).



    Kedua, cakupan topik yang dibahas dalam buku ASAU ini begitu beragam. Inti dari buku ASAU ini adalah mengupas apa saja sih hal-hal dalam hidup yang patut kita syukuri? Terus, kita disadarkan bahwa dalam kondisi apapun, Allah SWT selalu hadir memberikan rahmat-Nya untuk kita.

    Kata-kata yang digunakan dalam penceritaan tergolong sederhana. Tetapi, bagi saya, kesederhanaan ini jadi terasa tulus banget. Benar-benar mirip suara lembut seorang ayah atau ibu yang menasihati anaknya dengan kisah sebelum tidur. Nancep!

    Bagian yang paling membuat saya nyesss di hati (dan di mata!) adalah tentang keluarga. 



    Saya tertampar banget. Malu rasanya, saya masih suka mengeluh dengan tanggung jawab sebagai seorang mama. Padahal, menjadi orang tua dari Aryo dan Nara adalah sebuah anugerah. Saya yang spesial dipilih untuk mengandung, melahirkan, dan membesarkan mereka.

    Menyesal seubun-ubun berasa ibu paling durhaka sedunia.

    😭😭😭

    Bagian favorit saya lainnya adalah emosi. Banyak emosi yang diperkenalkan dengan gambar ekspresi yang lucu, bukan hanya emosi standar seperti bahagia, sedih, dan marah saja.



    Perlu alasan lagi buat beli dan baca buku ASAU? Keburu ludes di pasaran, Jon! Pesanan batch pertama saja sudah terbeli sejumlah 15.000 eksemplar. Sekarang ada PO waiting list batch 2 pun hanya dibatasi 3.000 eksemplar saja. Buruan, jangan kelamaan galau!

    Buku ASAU ini memang hanya tersedia online dengan harga yang cukup mahal, Rp. 90.000 jika ikut PO dan Rp. 98.500 untuk ready stock. Namun, saya sangat maklum dengan penghargaan terhadap ide dan kerja keras Mamamel menghasilkan buku sekeren ini.

    Plus, mencetak buku full color seperti ini tentu tingkat kesulitannya sangat tinggi. Saya lihat di Indonesia, belum ada buku yang sejajar soal ilustrasi berkualitas premium ini dengan harga masih di bawah Rp. 100.000,-

    Sejauh ini, buku-buku The Gang of Fur masih jadi peringkat pertama untuk buku anak lokal di hati saya.

    💖💖💖

    So, I proudly announce my final verdict :



    10 out of 10 stars!




    Continue Reading
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top