Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview





  • Hai, Kawans!


    Enggak disangka, ternyata pandemi Corona membawa saya kembali membuka blog yang sudah lumutan, jamuran, atau mungkin sebentar lagi jadi fosil blog-saurus, hehehe.

    Berkat seretan seorang Asti Wisnu, yang tahu-tahu ngasih tongkat estafet ke saya buat bikin playlist lagu-lagu paling paporitoh di era 90-an, nih! Tentunya, enggak nanggung, disuruh bikinnya dari 1990 sampai 1999, kayak yang dia udah tulis! Gils, eyms!

    Kirain ini bakal jadi sebuah kerjaan gampil, kecil, cingcirimit. Tahunya? Anjay, puyeng beud!

    Makin sulit mengerucutkan mana yang jadi top of my mind saya. Maklum, saya pendengar musik berbagai genre sebenarnya sejak kecil. Sebelum pertengahan 90-an, saya menyaksikan video musik di RCTI, yang waktu itu baru mengudara sebagai stasiun televisi swasta perdana negeri ini. Plus, tentu saja jadi pendengar setia Sonora FM. Terutama, di program Kontak Pendengar dan Anda Meminta Kami Memutar (AMKM).

    Kok dengerin Sonora? Soalnya, ini radio kesayangan almarhum Papa. Dua program ini memutarkan lagu-lagu secara penuh, jadi oke banget buat direkam ke kaset kosong! Emang deh, masih SD, kelakuan saya udah sok gede. Sampai punya impian jadi penyiar radio juga!

    Setelah pertengahan 90-an, saya beralih mendengarkan Prambors FM dan Mustang FM. Layaknya ABG gaul pada masanya, dong! Tongkrongan depan televisi pun berganti jadi saluran musik kenamaan, MTV. Saya menontonnya di dua saluran, yaitu tayangan ulang via stasiun ANTEVE dan saluran MTV Asia lewat parabola (dulu belum ada saluran TV kabel, masih pakai wajan dibalik dan diiket di tiang hahaha).

    Saya akan masukkan 10 video untuk tiap tahun. Namun, ada lagu-lagu pendamping (side-kicks) yang bisa kamu cek di playlist Spotify dan Youtube saya.

    Penasaran, apa saja lagu-lagu pilihan saya? Tenang, kamu rata-rata pasti tahu lagu-lagu ini, kok! Ayo kita bernostalgila bersama!


    1990

    My top of mind: More than Words – Extreme
    Side-kick: U Can’t Touch This – MC Hammer






    Sebagai pembuka daftar, saya akan masukkan salah satu everlasting, yang sampai sekarang masih andalan mellow mode saya.

    Band dari AS ini aslinya beraliran funk metal. Namun, justru single balada ini yang jadi legenda. Beberapa musisi pun membuat cover dari lagu ini, seperti grup Westlife, Ruben Studdard (salah satu juara American Idol), dan Frankie J.

    Mengapa saya suka lagu ini? Dua kata, sweet and pure. Petikan gitar akustik sederhana berpadu vokal yang terdengar bersih tanpa ornamen macam-macam. Merdu dan melankolis. Sebuah lagu yang bisa dinyanyikan siapa saja dan menyentuh pendengarnya. Well, asal suaranya bukan tipe kaleng rombeng hehehe.

    Untuk side-kick, saya tambahkan sebuah lagu dari rapper Afro-Amerika yang pada zaman itu ngetop abis! Walaupun, kalau diingat, gaya pakaian, isi lagu, dan jogetnya, WEDEH BIKIN MALU!


    1991

    My top of mind: (Everything I Do) I Do It for You – Bryan Adams
    Side-kick: Give It Away – Red Hot Chilli Peppers




    Kemunculan film Robin Hood membawa soundtrack­ utamanya ikut naik daun. Om bersuara serak seksi dari Kanada ini, jadi salah satu solois pria favorit saya sejak kecil. I love his songs. Meskipun lagu ini durasinya panjang (lebih dari enam menit!), tetap saja enggak bikin otomatis jadi membosankan. Jujur saja, saya tidak yakin ada penyanyi lain yang cocok menyanyikannya, selain Om Bryan. Seriusan!

    Lagu satu lagi? Ini dia lagu yang bikin saya jatuh cinta pertama kali sama musik rock. Dengan lirik yang bikin lidah belibet, dari grup yang tiada duanya, selalu pedas dan nendang! Lihat video klipnya pun bikin mata cilik saya ternoda hahaha. Om Flea, si basis pecicilan, tetap yang enggak ada matinye soal tingkah sensasional.


    1992

    My top of mind: Jump – Kris Kross
    Side-kick: Tears in Heaven – Eric Clapton




    Namanya bocah, kalau lihat sesama bocah beraksi, bawaannya merasa senasib sepecicilan! Ini dia alasan mengapa begitu lihat lagu ini tayang, gerakan langsung refleks sesuai judul lagunya. LOMPAT! LONCAT! GABRUK! Betapa sedari kecil susah sekali saya bersikap sesuai kodrat kewanitaan hehehe.

    Lagu ini adalah debut sensasional dua cowok cilik, yang masa itu sampai berhasil melariskan jutaan kopi album. Warbyasak! Berkat tangan dingin seorang Jermaine Dupri, tokoh yang nantinya akan melahirkan banyak lagu terkenal dari artis ternama seperti Mariah Carey, Usher, dan Monica. Sure, he can make a diamond out from a dirty rock.

    Buat mitra lagu ini, saya pilihkan sebuah lagu yang bikin hati ambyar, jauh sebelum Didi Kempot terkenal. Dari gitaris kenamaan, Eric Clapton, lagu ini terinspirasi dari tragedi sang anak tersayang yang tewas terjatuh dari lantai 53 apartemen. Semua melodi dan lirik menggambarkan kerinduan dalam duka. I just can’t say much about it, very touching. Tiga penghargaan Grammy, termasuk Lagu Tahun Ini cukup menjelaskan mengapa lagu ini begitu membekas.


    1993

    My top of mind: Two Princes – Spin Doctors
    Side-kick: Ordinary World – Duran Duran




    Lagu-lagu berirama catchy selalu menarik perhatian. Salah satunya, one hit wonder dari band asal AS ini. Mungkin, hanya lagu ini satu-satunya pula yang menempel di benak orang-orang lain pada umumnya. Tembang ini juga diparodikan oleh grup kesayangan saya, P-Project di album perdana O Lea Leo (dulu masih bernama Padhyangan Project). Lucunya, waktu grup Spin Doctors sempat konser di Indonesia tahun 2006, pamor mereka malah kalah dengan band pembuka, Peterpan. Banyak penonton meninggalkan area, begitu Ariel dkk. selesai menghibur. Menambah daftar ketragisan band ini, ya?

    Buat nemenin, saya pilihkan sebuah lagu dari band legendaris, yang juga identik dengan tokoh Lupus pada era 90-an. Alm. Papa senang dengan lagu ini dan ketika diputar di radio mobil, pasti volume dibesarkan. Khidmat menikmati!


    1994

    My top of mind: Baby, I Love Your Way – Big Mountain
    Side-kick: Come Out and Play – The Offspring




    Masih dari lagu-lagu yang iramanya riang dan mudah diingat, soundtrack dari Reality Bites (salah satu film romantis recommended era 90-an) ini bikin badan langsung goyang-goyang santuy. Ini sebenarnya adalah versi cover dari penyanyi Inggris, Pieter Frampton, yang sudah merilis duluan di 1975 dan sama-sama jadi hits.

    Dengan sentuhan reggae-pop, lagu manis ini jadi enggak asal menye-menye. Seperti sebuah rayuan pulau kelapa di tepi pantai, ahzeek!

    Siapa rekan lagu ini? Tak lain adalah lagu yang intro-nya begitu dikenal dari band punk bervokalis jenius, The Offspring. Udah tahu kan, Dexter Holland si frontman adalah seorang Ph.D jurusan biologi molekular? Nyentrik dan eksentrik!


    1995

    My top of mind: Wonderwall – Oasis
    Side-kick: Just A Girl – No Doubt




    Pertama kali saya coba mainin program komputer untuk bikin logo, band Inggris ini yang jadi sasaran latihan. Logo Oasis yang simpel, cocok jadi bahan utak-atik. Apalagi lagu ini santer banget kedengaran di mana-mana. Di televisi, radio, dan petikan gitar kopong anak-anak muda yang poninya sampai nyolok mata kayak Gallagher bersaudara.

    Emang bikin nyangkut di kepala terus-terusan sih. Padahal suara yang nyanyi, macem cowok ngantuk dan malas-malasan, hehehe.

    Buat penawarnya, datang dari band yang vokalis ceweknya terkeren versi saya sampai saat ini (the chick who encouraged me to wear red lipstick). Lagu ini nakal, sekaligus nunjukin kekuatan cewek banget. Enggak heran, ia terpilih jadi salah satu lagu yang nongol di film Captain Marvel. Tentu saja pas adegan kicking the bad guys ass*s!


    1996

    My top of mind: Beautiful Ones – Suede
    Side-kick: I Will Survive – Cake




    Masih dari ranah Britania, datang lagi satu band yang lagu-lagunya pasti enggak absen di playlist 90-an saya. Band yang citranya woles dan flamboyan buat saya. Lagu ini pun punya video klip menarik hati. Dengan ornamen-ornamen lirik bertebaran dalam visualisasi. Artsy!

    Setiap karaoke, biasanya saya memasukkan lagu ini ke dalam daftar tembang yang akan saya nyanyikan. Begitu magisnya efek lagu ini buat saya.

    Satu lagi lagu yang jadi favorit saya di tahun tersebut, sebuah cover lagu disko legendaris, bertransformasi menjadi lagu alternatif. Vokal melengking Gloria Gaynor berganti suara berat John McCrea yang seperti don’t give a damn about the world. Teringat saya catat dan hafalkan lagu ini dari salah satu halaman majalah MBS (majalah musik yang isinya lirik dan kord gitar, terkenal di kalangan ABG saat itu). Still my first choice for getting over a heart break.



    1997

    My top of mind: Semi Charmed Life – Third Eye Blind
    Side-kick: Mmmbop – Hanson




    Makin bergeser ke penghujung 90-an, makin sulit untuk saya memilih siapa yang pantas mengisi daftar ini. Namun, lagu dari grup band asal AS ini memang tak tergeser di kepala saya. Teringat juga ada segerombolan cowok keren band sekolah yang pernah membawakan lagu ini di panggung. Lagu yang  aslinya bercerita tentang getting high on meth ini, paling keinget di melodi gitar dan gebukan drumnya. Masih jadi tembang terpopuler juga dari Third Eye Blind sampai sekarang.

    Untuk side-kick, band tiga cowok bersaudara yang jadi my forever guilty pleasure pantas masuk jajaran lagu paling memorable di tahun itu. Siapa sih yang enggak ikutan berdendang lirik unik nan imut ini? Waktu mereka datang dan manggung di The 90’s Festival Jakarta tahun lalu, masih bejibun aja fans setia Hanson, termasuk di antaranya teman dekat saya hehehe. Untunglah tak seperti liriknya, mereka enggak gone and not there in an Mmmbop.


    1998

    My top of mind: Iris – Goo Goo Dolls
    Side-kick: Intergalactic – Beastie Boys




    Lagi-lagi, lagu yang sangat membekas buat saya. Bisa dibilang, salah satu romantic songs yang paling saya suka. Ada cerita juga, ada “dia” di masa lalu yang sangat suka juga dengan lagu ini dan kami suka bernyanyi lagu ini berdua di telepon malam-malam (meskipun suara saya enggak banget hahaha). Menjadi lagu tema sebuah film cinta yang sangat emosional, City of Angels, vokal John Rzenik betul-betul menyelipkan sebuah kepedihan di antara raungan khas rocker-nya.
    Siapa pendampingnya? Tentu saja grup rap paling favorit dengan lagu yang lama dulu menjadi ringtone ponsel saya. Video klip yang lucu, ala-ala film monster dan superhero Jepang, menambah alasan saya tergila-gila banget sama lagu ini. Khas Beastie Boys memang, untuk selalu menawarkan ide out of the box kepada para penggemarnya.


    1999

    My top of mind: Nookie – Limp Bizkit
    Side-kick: Stranger by the Day – Shades Apart




    Membuka lagi kenistaan masa remaja saya, aliran musik hip metal pernah mengisi daftar kesukaan. Diambil dari Significant Other, salah satu album rock terfavorit di era 90-an, saya pernah ada di masa hafal mati lagu ini, lebih-lebih dari materi pelajaran di sekolah hahaha! The red cap guy, Fred Durst, sontak jadi idola para abege labil. Padahal kalau kamu tahu, apa sih arti nookie? Yah, enggak jauh beda sama wikwik dan skidipapap kalau kata anak sekarang. Ambyar!

    Selain itu, ada satu lagu yang sering banget saya dengarkan dan nyanyikan di akhir era 90-an itu. Diambil dari soundtrack film remaja kontroversial dan legendaris, American Pie, band ini memang enggak terkenal. Tapi, lagu ini dulu jadi top play di banyak radio anak muda. Bukti bahwa memang lagu ini pantas untuk menempel terus di kepala karena memang seenak itu didengarnya.


    Daftar lengkap saya ini bisa kamu cek, baik di akun Spotify maupun Youtube (klik aja yaaa!)

    Ngomongin musik 90-an, susah banget berhentinya! Apalagi sederet lagu yang saya nyesel abis enggak bisa masuk ke dalam daftar ini. Biar aja deh, saya dibilang susah move-on. Soalnya, memang musik 90-an terasa lebih genuine aja di telinga ini.

    Coba dong, bikin daftar yang sama versi kamu! Share kolom Komentar, atau boleh juga bikin Spotify plasylist dan share di sini link-nya. Saya tunggu!





    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Biasanya, saya dan Asti memilih topik Battle of the 90’s atas preferensi pribadi. Kali ini, karena lagi heboh sebuah fenomena yang bikin kita antara pengin julid, enggak habis pikir, sekaligus ngakak sampai Madagaskar, yaitu meledaknya seorang sosok abege kinyis bernama BOWO ALPENLIEBE!

    Buat yang masih melongo alias enggak mudeng, saya jelasin dulu, nih. Tiktok adalah sebuah aplikasi ngeksis yang lagi hits di kalangan anak kinyis. Lewat Tiktok, kita bisa rekam aksi kita joget, nyanyi, atau performance plus pakai lagu ya. Saya pribadi enggak punya akun Tiktok dan sampai saat ini belum niat ngerekam apa pun di aplikasi ini.

    Dari unggahan yang bersliweran di linimasa, post Tiktok ini unik-unik sih (bahasa halus dari ‘kacrut’ hahaha!). Kebanyakan saya malah ngelus dada atau megangin perut yang kram, saking banyak makhluk absurd goyang-goyang beraksi.

    Nah, dari sekian banyak artis Tiktok dadakan ini, ada seorang cowok kinyis yang lagi merebut perhatian. Nickname-nya Bowo Alpenliebe. Jangan tanya kenapa nama permen itu yang diambil, mungkin emang doi doyan hehehe.

    Mau tahu penampakan cowok tiga belas tahun bernama asli Prabowo Mondardo ini?

    Si Bowo Alpenliebe yang femes itu loch
    pic : IDN Times

     
    Artikel tentang Bowo Alpenliebe lebih lengkap, kamu baca langsung aja di IDN Times ini, ya!

    Bagian yang bikin ngakak itu pas saya baca ada acara-acara meet and greet yang mengenakan sejumlah biaya untuk bertemu Dek Bowo ini. Salah satunya, pakai deskripsi, bisa foto bareng dan pegangan tangan! Enggak cukup sampai situ, para penggemar Dek Bowo ini ada yang mengeluarkan pernyataan yang goks abis. Misalnya, rela hilang keperawanan, tak peduli soal status di akhirat nanti,  sampai mau bikin agama baru bernama Bowo lengkap dengan nabi dan rasulnya! Serem mampus!

    Muka langsung horor kaya Patrick lihat SS-nya fans Bowo Alp
    Pic : knowyourmeme

    Geleng-geleng kepala sih melihat kelakuan ajaib para pecinta Bowo Alpenliebe yang notabene masih pada bau kencur ini. Tapi, coba deh inget lagi masa kita jadi abege belum mletek seperti ini. Ada dong idola-idola yang bikin kita histeris, para cowok kinyis yang pesonanya enggak abis-abis?

    Nah, kalau Asti membahas para heart-throb bule, saya akan bahas versi lokalnya. Inilah lima cowok kinyis yang sontak bikin cewek cilik histeris di era 90-an.



    1.  Bondan Prakoso

    Lagu anak legendaris tentang si mamalia laut nan cerdik dan lincah, Lumba-lumba, takkan jadi populer tanpa cowok yang satu ini. Penyanyi kelahiran 8 Mei 1984 ini sudah aktif bermusik sejak usia balita. Gayanya enerjik dan wajahnya tergolong rupawan, terdepan di antara beberapa penyanyi cilik seangkatannya.

    Bondan Prakoso kicik dan gede
    Pic : Kapanlagi Musik


    Sayang, sempat pula ia diterpa gosip miring di sekitar tahun 1995. Bondan dituding menghamili sesama artis cilik, Enno Lerian, melalui sebuah perkosaan di belakang panggung. Kabar ini tergolong bombastis dan menurut saya, sadis banget, apalagi keduanya masih belia sekitar usia 11-12 tahun.
    Namun, seiring gosip jahat itu surut, Bondan pun merambah dunia anak band di masa remajanya dengan menjadi basis Funky Kopral. Di band yang menggabungkan unsur funk dan rock (yah, mirip-mirip musiknya Red Hot Chilli Peppers), Bondan menciptakan imej baru. Hingga berlanjut di era 2000-an dengan kolaborasi bersama Fade 2 Black, sebuah grup rap.


    2. Eza Yayang

    Demam Jacko, alias Michael Jackson yang melanda di era 80-an dan awal 90-an rupanya menular juga pada artis cilik Tanah Air. Sebut saja cowok kelahiran 19 Februari 1982 ini, Eza Yayang. Kegemarannya menampilkan tarian break dance dan meniru sang idola, King of Pop, Michael Jackson, membawanya menjadi cowok cilik dengan tampilan ciamik. Apalah popularitas Bowo Alpenliebe, Eza Yayang sudah sampai diundang ke luar negeri. Ia juga mendapat semacam penghargaan dari Jacko sendiri lewat salah satu badan PBB, UNICEF.

    Eza Yayang dan Agnes Monica, the dynamic duo
    Pic : Youtube

    Salah satu duet terkenal Eza adalah lagu Yesss bersama Agnes Monica. Kalau tidak salah, aksi video klipnya pun sampai gelantungan pakai sling! Luar biasa lah untuk ukuran artis cilik masa lampau!
    Beranjak dewasa, Eza sempat membentuk band bersama kakaknya, Adam, dengan nama D.O.T. Kini, kita mengenal Eza lewat perannya sebagai Rojak di serial Tukang Ojek Pengkolan


    3. Yoga Pratama

    Dari seni peran, ada aktor cilik yang ngegemesin satu ini. Saya malah kenal cowok kelahiran 18 November 1983 ini dari film-film Warkop DKI. Yoga Pratama memang membintangi beberapa film komedi dewasa itu di awal dekade 90-an. Sebut saja, Bisa Naik Bisa Turun, Masuk Kena Keluar Kena, dan Bebas Aturan Main. Yoga juga merambah dunia presenter dan kepiawaiannya membawakan acara Pesta Ceria menghadirkan sebuah penghargaan Panasonic Award di tahun 1997.

    Yoga Pratama kecil, cute banget!
    Pic : IDN Times

    Di usia dewasa, Yoga masih setia berakting. Salah satu prestasi gemilangnya adalah meraih Piala Citra tahun 2008 kategori Aktor Pendukung Terbaik lewat film 3 Doa 3 Cinta. Dua tahun terakhir, Yoga berperan dalam film berkualitas, yaitu Marlina Pembunuh dalam Empat Babak dan LIMA. Sebuah bukti keseriusannya yang selektif memilih peran.


    4. Joshua Suherman

    Artis cilik serba bisa di era 90-an, pastilah akan teringat si cilik pede selangit yang satu ini, Joshua Suherman. Joshua, cowok kelahiran 3 November 1992 ini, memulai kariernya sebagai penyanyi cilik di usia sangat muda. Tahun 1995 dengan kemampuan bicara saja masih terbata-bata, ia sudah percaya diri menelurkan album dengan lagu Cit Cit Cuit sebagai pentolan. Namun, album yang paling meledak adalah Air, di tahun 1999. Jargon “diobok-obok” terus melekat sampai kini. Plus tentu saja rekan di video klipnya yang tersohor, Mas Tukul Arwana alias Rey Rey Reynaldi!

    Jojo si multitalenta cilik
    Pic : Bintang

    Jojo, panggilan akrabnya, juga merambah dunia sinetron dan film, terutama di era 2000-an. Di masa dewasanya, Jojo nyaman dengan pembawaan guyon dan peran komedi. Termasuk ikut dalam komedi situasi Comic Story bersama beberapa komika ternama, seperti Babe Cabita, Arie Kriting, dan Ge Pamungkas.


    5. Abiem Ngesti

    Yang satu ini mungkin paling mind blow on kalau pinjam istilahnya webtoon Tahilalats. Sadar enggak kalau di Indonesia, bukan hanya ada Raja dan Ratu Dangdut, tetapi pernah juga ada Pangeran Dangdut? Well, jangan bayangkan cowok artistokrat macam William dan Harry di Britania sana, ya!
    Nama cowok ini, Abiem Ngesti. Lahir 30 Oktober 1978, karier cemerlangnya sayang tidak bertahan lama. Rilis album Pangeran Dangdut di tahun 1992, hanya tiga tahun berselang, hidup Abiem berakhir tragis pada sebuah tragedi kecelakaan lalu lintas di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek.

    Abiem Ngesti (alm.), The Prince of Dangdut
    Pic : kasetlalu

    Ciri khas Abiem adalah rock-dut alias dangdut yang berpadu dengan musik rock. Sebelum Alam ‘Embah Dukun’ berkoar-koar sebagai pengusung genre ini, Abiem telah lebih dulu mengguncang blantika musik Tanah Air di dekade sebelumnya. Total dalam tiga tahun kariernya, Abiem berhasil menghasilkan sebelas album. Salah satu faktor kesuksesannya adalah berkat tangan dingin sang ayah, Wiwien Ngesti dalam mengarahkan putranya ini. Aneka penghargaan pun berhasil diraih sebagai prestasi, sebut saja HDX Awards dan Anugerah Dangdut TPI.
    Rest in peace, Prince of Dangdut!


    Dari daftar di atas, kita bisa simpulkan. Seseorang wajar saja dielu-elukan menjadi idola. Namun, lebih bagus lagi jika bukan hanya beragam gaya yang disuguhkan atau angka followers di media sosial. Prestasi nyata dan pengakuan dari forum terpercaya akan mengukuhkan popularitas menjadi sebuah tapak legenda, bukan koar-koar tanpa isi belaka.

    Siapakah cowok cilik atau remaja favoritmu di era 90-an dulu? Ceritakan di kolom Komentar, yuks!






    Continue Reading



    Hai, Kawans!

    Jadi rutinitas akhir pekan saya menuliskan nostalgia 90-an buat segmen Back to the 90’s Battle bareng Neng Asti Wisnu. Minggu ini, request spesial pakai telor dari Asti, membawa kita ke bahasan musik lagi. Karena sebelumnya kita sudah bahas genre rock dari tanah Britania Raya, sekarang kita ganti haluan ke genre pop dan dari negeri sendiri.

    Dunia musik pop Indonesia era 90-an bisa jadi adalah musik favorit pertama saya dan kamu. Yah, dulu kan bahasa Inggris kita belum canggih-canggih amat. Menghafalkan lirik lagu Indonesia pastilah lebih gampang. Atau kita teracuni musik yang diputar terus-terusan oleh orang tua, kakak, atau anggota keluarga lain di rumah.

    Untuk menyempitkan bahasan (biar enggak kalah ketat sama singletnya Bang Ipul), saya akan bahas khusus di grup musik, bisa grup vokal maupun band. Dalam otak saya, ada pemetaan seperti ini dalam grup musik pop Indonesia era 90-an.


    1. Parade musik parodi dan komedi

    Tumbuh dengan hiburan serba komedi di sekeliling saya, inilah jenis musisi lokal yang pertama kali bikin hati saya kepincut : para pencipta lagu parodi. Didukung pula punya sahabat yang sama bocornya, kaset Padhyangan Project adalah kaset penyanyi lokal yang saya miliki pertama kali. Waktu itu, single “Nasib Anak Kost” tenar banget, diputar di mana-mana.



    Sebagai pelopor, grup yang berawal dari grup kabaret di Bandung, gabungan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Parahyangan (Unpar) – yang akhirnya menjadi asal singkatan nama mereka – memang luar biasa kreatif. Lagu-lagu Barat yang sedang naik daun, mereka kemas menjadi lagu yang liriknya mengocok perut dan melodi yang catchy.

    Biar pun kesannya bercandaan banget, jangan salah lho! Vokal Om-om Denny, Iszur, Joe, Daan, Wawan, Iang, dan Denden enggak jelek, kok! Aransemen musiknya juga bagus karena melibatkan musisi-musisi berbakat Bandung. Backing vokal-nya pun dua dari anggota grup vokal kondang asal Bandung, Sita dan Dewi RSD (Yes, that famous writer Dee Lestari!)



    Tak hanya mengeluarkan album, Padhyangan Project pun meluncurkan TV show yang temanya masih tentang parodi. Tayang di SCTV, acara komedi bertajuk Project-P ini termasuk tontonan favorit saya. Salah satu adegan yang paling membekas adalah waktu Kang Joe berperan sebagai makhluk Klingon ala Star Trek. Kemudian, ia menunjuk “keriput” di jidatnya yang lebar itu sebagai “kue pancong”.

    Beberapa personel grup yang akhirnya berganti nama menjadi P-Project ini, akhirnya menonjol secara individu dan menjadi selebriti tersendiri sampai sekarang, seperti Kang Denny Chandra dan Kang Joe Sutisna.

    Sementara itu, para junior Padhyangan Project pun tak mau kalah. Regenerasi ini melahirkan grup musik komedi, namun bukan jalur parodi, yang dikenal dengan nama Project Pop. Grup ini yang akhirnya eksis di era 2000-an. Sementara di tahun 1996, Yossi, Odie, Gugum, Udjo, Oon, dan Tika mengeluarkan satu album dengan judul sama dengan single andalan, Lumpia vs Bakpia.



    Di balik perubahan nama menjadi P-Project, ternyata ada cerita, munculnya grup sempalan bernama Padhyangan 6. Saya pribadi sih, melihat grup ini (maaf) garing. Singlenya pun hanya Tenda Biruku  (parodi lagu Tenda Biru dari Teh Desy Ratnasari) yang terkenal.




    Yah, masyarakat sudah telanjur kepincut dengan P-Project yang lebih cerdas meramu parodinya.




    2. Geng model beraksi depan mic

    Dari kubu boyband dan girlband Indonesia era 90-an, saya menangkap sebuah fenomena waktu itu. Para model muda menjajal kemampuan tarik suara, dengan kemasan trendi dan kinclong di depan kamera. Banyak grup vokal yang anggotanya adalah para cover girl dan cover boy yang rajin bersliweran di majalah-majalah remaja. Siapa saja mereka?

    Dari kubu girl band, nama Bening tentu ada di top of mind. Kuartet teteh-teteh geulis Vonny, Dewi, Vera, dan Dita ini dengan suara yang saking beningnya, macam jadi susah teriak. Begitu imut grup ini mendendangkan lagu Ada Cinta. Citra cewek sweet menjadi ciri khas yang ditonjolkan oleh mereka.



    Yang saya ingat lagi, ada grup Model Indonesia, tak mau kalah meluncurkan single berjudul Menari-nari. Personelnya enggak main-main, ada Karina Suwandi, Dominique Sanda, Clara Nelly, Wanda Hamidah, Dewi Sandra, Fara Diana, Ine Febriyanti, dan Dety Carcia. Kenal kan ada beberapa nama besar di situ? Enggak main-main, lagu ini pun diciptakan oleh dua nama hebat : Anang dan Indra Lesmana.



    Kalau kubu boy band, ada dua nama grup yang paling mencuat : Coboy dan Cool Colors. Coboy (kepanjangan dari Cover Boy) menampilkan cowok-cowok yang terinspirasi geng boy band luar negeri. Ponco, Ali, Gilbert dan Ferry, dengan lincah joget-joget di panggung. Jangan lupa gaya yang ala-ala bad boy sengak-sengak, pecicilan cari perhatian begitu.



    Sementara itu, Cool Colors menampilkan citra yang lebih dewasa. Tengku Ryan, Ari Sihasale, Surya Saputra, Ari Wibowo dan Johandi Yahya; menyuguhkan lagu-lagu mellow (ceritanya mau meniru tipe Boyz II Men, ya!). Fan girls pun klepek-klepek macam digombalin dengan irama dan sosok cowok romantis.



    Di penghujung era 90-an, tepatnya tahun 1999, muncul satu band pop (dan ada lah sentuhan rock dikit) dari para cover boy majalah Aneka. Element, begitu mereka menyebut diri, digawangi oleh Lucky, Didi, Ronny, Adhit, Arya, Fajar, dan Ibank.



    Jadi ingat, waktu pertama kali band ini muncul dengan single "Hanyalah Cinta", salah satu sahabat sekelas SMA, sepupu dari salah satu personel, mengajak saya dan geng sahabat menonton di sebuah mal. Ya ampun, kita jadi serem sendiri melihat para fans yang histeris melihat Element ini manggung. Sementara, kita yang masih gadis-gadis lugu, bengong melihat Mas-mas ngeband di atas panggung sana hahaha!


    3. Band of Brothers

    Meledaknya band pop bersaudara dari Amerika Serikat seperti Hanson dan The Moffats, tentu saja enggak afdal kalau tidak ditiru oleh Indonesia. Band dengan personel bersaudara juga ikut mewarnai dunia musik pop 90-an negeri ini.

    Satu, ada Wayang, empat cowok yang saling berhubungan darah (kakak beradik, keponakan, dan sepupu). Adri, Yudhi, Fauzi, dan Gilang menelurkan dua album, Damai dan Dongeng di paruh akhir 90-an. Sosok Gilang si drummer cilik, menjadi sorotan. Sempat juga ia dibandingkan dengan Zack Hanson yang sama-sama paling bontot dan menggebuk drum.



    Dua, band D.O.T. dengan pentolan si mantan penyanyi cilik, Eza Yayang dan sang abang, Adam. Mereka merekrut Aroel untuk melengkapi formasi band yang membawa aliran bubble gum pop nan ceria. Agak mirip dengan gaya The Moffats, sih.



    Tiga, band isi tiga personel bersaudara juga lahir dengan nama Shaden. Nuri, Abrar, dan Rijal menyajikan pop ceria khas remaja yang hidupnya kerasa receh banget hehehe. Album perdana mereka berjudul Malu, rilis tahun 1998.



    Saya sih jujur saja, enggak sanggup dengar musik seperti ini lama-lama. Terlalu manis sampai bikin gigi berlubang! Tapi, mungkin ada di antara kamu yang tergila-gila sama mereka? Atau menjadikan mereka sebagai guilty pleasure? Silakan saja!


    4. Para penakluk panggung festival dan kompetisi

    Mencari penyanyi dari jebolan festival dan kompetisi adalah trik untuk mendapatkan bibit terbaik. Dulu, di era 90-an, salah satu ajang pencarian bakat musik yang sangat hits adalah Asia Bagus. Mengadu penyanyi-penyanyi dari kawasan Asia, Indonesia termasuk sering memenangkan berbagai episodenya. Alumni Asia Bagus asal Indonesia pun semacam punya klub sendiri.

    Sampai produser menggabungkan tiga gadis muda bertalenta ini menjadi sebuah grup vokal wanita yang merajai musik pop Indonesia pada akhirnya. AB Three, singkatan AB dari Asia Bagus, mempertemukan Widi, Nola, dan Lusy dalam paduan harmoni vokal serta tampilan luar memikat.



    Saya berani bilang, AB3 adalah girl band Indonesia berkualitas tinggi pada zamannya. Grup ini belakangan mengganti Lusy dengan Cynthia Lamusu di era 2000-an dan kini dengan nama B3, masih eksis di panggung musik Indonesia.

    Untuk grup musik jebolan festival, band asal Kota Kembang, Bandung yang satu ini sudah bertransformasi menjadi legenda. Kahitna, spesialis lagu-lagu cinta manis nan romantis, band yang punya fan base kuat dan loyal. Formasi awal pada album “Cantik” tahun 1994 menampilkan sang pentolan Yovie Widianto dengan Ronni Waluya, Hedi Yunus, Carlo Saba, Andrie, Doddy Is, Bambang, Harry Sudirman, dan Budiana.



    Tembang-tembang Kahitna menurut saya termasuk everlasting. Masih mampu membuat galau padahal sudah lewat lebih dari dua dekade. Berkelana dari panggung festival pada masa awal mereka, membuat Kahitna begitu matang dan kompak meramu melodi serta chemistry. Mau lagi jatuh cinta, kangen berat, atau patah hati, Kahitna punya soundtrack yang tepat untuk suasana hati kamu.


    5. Not just another cheesy pop music

    Banyak yang memandang musik pop yang ringan sebagai musik “kosong”. Jangan salah, justru pop ini paling gampang berpadu dengan aneka genre lain. Saya pun menemukan beberapa band pop Indonesia 90-an yang tergolong punya sound unik, berpadu dengan lirik ciamik. Musikalitas yang brilian ini menjadikan band-band berikut ini menjadi favorit saya waktu itu.

    Walaupun hanya terkenal sebagai one hit wonder, band beranggotakan Wiby, Pongky, dan Denny ini (wow, even their names are rhyming!) sangat mencuri perhatian. Sentuhan elektronika yang mirip bit video game pada tembang andalan “Kebebasan” membuat lagu ini selalu masuk dalam playlist nostalgia saya.



    Ada lagi duo Humania, yang bereksperimen dengan funk dan reggae pada musik mereka. Eq Puradiredja (kakak dari Angga, vokalis Maliq & D’essentials) dan Heru yang tumbuh besar di negeri Kanguru, Australia, menyuarakan nada-nada seru yang membuat lagu mereka menjadi lebih berwarna, seperti di single perdana, "Terserah". Ehm, ada Jamie Aditya si VJ kasep itu lho di video klipnya! Di album berikutnya, malah mereka mencoba sentuhan R&B, mendewasakan musik yang disuguhkan. Lagu “Jelita” yang bikin hati deg-degan adalah salah satunya.



    Munculnya aliran Swedish pop di kancah musik mancanegara, salah satunya dengan meledaknya banda The Cardigans, turut memengaruhi warna musik anak muda Indonesia. Adalah band Potret yang mencoba menyisipkan warna senada dalam musik mereka. Walaupun kerap bermain dengan lirik menyentil dan menggoda, tak ada yang meragukan kemampuan Melly Goeslaw, Anto Hoed, dan Ari Ayunier (yang kemudian digantikan oleh Aksan Sjuman, eks drummer Dewa 19). Saya termasuk penggemar musik Potret, yang terlihat istimewa, apalagi dari kata-kata pada lagu yang sungguh catchy!



    Menyimpan band keren ini di akhir, semua setuju kalau Kla Project adalah salah satu band jenius yang pernah dimiliki negeri ini. Menggebrak di awal era 90-an, trio Katon, Lilo, dan Adi sukses memperkenalkan tembang-tembang yang tak lekang dimakan zaman. Salah satunya, lagu “Yogyakarta” yang seperti jadi soundtrack ikon Kota Gudeg itu dan lagu “Tak Bisa Ke Lain Hati” yang menggugah hati. Kepiawaian mereka dalam musik akustik pun dibuktikan dengan menggelar event KLakustik, ditayangkan di salah satu TV swasta dan dibuat menjadi dua jilid album.




    6. Pendekar nada muda nan segar

    Saya mencatat, dalam paruh akhir era 90-an, ada dua band pendatang baru yang sangat mencuat, dengan usia personel yang relatif belia (di bawah 25 tahun). Bisakah kamu tebak siapa mereka?

    Pertama, band berpersonel segambreng yang berawal dari pengisi acara di Jasa Marga dan sukses memenangkan kontes di Radio Prambors : Base Jam. Rombongan musisi muda Sigit, Adon, Sita, Aris, Anya, Adnil, dan BS langsung menarik perhatian fans begitu melakukan debut mereka. Single “Bermimpi” menempati top chart di mana-mana, diputar tanpa henti pada setiap acara request.



    Namun, sejak album ketiga, yang melejitkan lagu “Bukan Pujangga”, Base Jam malah terpecah pelah. Para  personelnya punya kesibukan dan impian masing-masing, menenggelamkan band berpotensi ini.

    Beda nasib justru dialami si wonder band satu ini : Sheila on 7. Menyeruak di belantika musik Tanah Air tahun 1999, So7 – ini cara menyingkat nama band mereka – putra-putra Yogyakarta ini langsung menggebrak dengan deretan single yang sampai sekarang abadi di telinga generasi 90-an. Duta, Eross, Adam, Sakti, dan Anton membuktikan bahwa less is more. Kesederhanaan mereka membawa warna yang dicintai hingga kini.



    Sebenarnya, saya dulu sempat menganggap So7 ini sebagai band “gombal”. Lirik-lirik mereka memang potensial banget meluluhkan hati cewek-cewek. Puitis, tapi mengena. Namun, setelah umur merangkak melewati pertengahan usia 20-an, barulah saya bisa menikmati musik mereka. Memang kudu melembut dulu, baru musik mereka sampai ke hati, hehehe!



    Wah, panjang juga sesi nostalgia kali ini, walaupun tetap saja saya tidak sempat mengulas semua. Saya yakin, lagu-lagu di atas ada yang menghuni playlist kamu. Yang kemudian diputar, saat kangen sama masa sekolah, mengenang cinta pertama, atau menertawai masa alay patah hati yang enggak banget.

    Simak juga ya, tujuh artis pop Indonesia 90-anpilihan Asti di blog post-nya yang sudah tayang ini.

    Adakah grup musik 90-an lain yang kamu suka? Share di kolom Komentar, yuks!


    Continue Reading
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top