Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview





  • Hai, Kawans!


    Enggak disangka, ternyata pandemi Corona membawa saya kembali membuka blog yang sudah lumutan, jamuran, atau mungkin sebentar lagi jadi fosil blog-saurus, hehehe.

    Berkat seretan seorang Asti Wisnu, yang tahu-tahu ngasih tongkat estafet ke saya buat bikin playlist lagu-lagu paling paporitoh di era 90-an, nih! Tentunya, enggak nanggung, disuruh bikinnya dari 1990 sampai 1999, kayak yang dia udah tulis! Gils, eyms!

    Kirain ini bakal jadi sebuah kerjaan gampil, kecil, cingcirimit. Tahunya? Anjay, puyeng beud!

    Makin sulit mengerucutkan mana yang jadi top of my mind saya. Maklum, saya pendengar musik berbagai genre sebenarnya sejak kecil. Sebelum pertengahan 90-an, saya menyaksikan video musik di RCTI, yang waktu itu baru mengudara sebagai stasiun televisi swasta perdana negeri ini. Plus, tentu saja jadi pendengar setia Sonora FM. Terutama, di program Kontak Pendengar dan Anda Meminta Kami Memutar (AMKM).

    Kok dengerin Sonora? Soalnya, ini radio kesayangan almarhum Papa. Dua program ini memutarkan lagu-lagu secara penuh, jadi oke banget buat direkam ke kaset kosong! Emang deh, masih SD, kelakuan saya udah sok gede. Sampai punya impian jadi penyiar radio juga!

    Setelah pertengahan 90-an, saya beralih mendengarkan Prambors FM dan Mustang FM. Layaknya ABG gaul pada masanya, dong! Tongkrongan depan televisi pun berganti jadi saluran musik kenamaan, MTV. Saya menontonnya di dua saluran, yaitu tayangan ulang via stasiun ANTEVE dan saluran MTV Asia lewat parabola (dulu belum ada saluran TV kabel, masih pakai wajan dibalik dan diiket di tiang hahaha).

    Saya akan masukkan 10 video untuk tiap tahun. Namun, ada lagu-lagu pendamping (side-kicks) yang bisa kamu cek di playlist Spotify dan Youtube saya.

    Penasaran, apa saja lagu-lagu pilihan saya? Tenang, kamu rata-rata pasti tahu lagu-lagu ini, kok! Ayo kita bernostalgila bersama!


    1990

    My top of mind: More than Words – Extreme
    Side-kick: U Can’t Touch This – MC Hammer






    Sebagai pembuka daftar, saya akan masukkan salah satu everlasting, yang sampai sekarang masih andalan mellow mode saya.

    Band dari AS ini aslinya beraliran funk metal. Namun, justru single balada ini yang jadi legenda. Beberapa musisi pun membuat cover dari lagu ini, seperti grup Westlife, Ruben Studdard (salah satu juara American Idol), dan Frankie J.

    Mengapa saya suka lagu ini? Dua kata, sweet and pure. Petikan gitar akustik sederhana berpadu vokal yang terdengar bersih tanpa ornamen macam-macam. Merdu dan melankolis. Sebuah lagu yang bisa dinyanyikan siapa saja dan menyentuh pendengarnya. Well, asal suaranya bukan tipe kaleng rombeng hehehe.

    Untuk side-kick, saya tambahkan sebuah lagu dari rapper Afro-Amerika yang pada zaman itu ngetop abis! Walaupun, kalau diingat, gaya pakaian, isi lagu, dan jogetnya, WEDEH BIKIN MALU!


    1991

    My top of mind: (Everything I Do) I Do It for You – Bryan Adams
    Side-kick: Give It Away – Red Hot Chilli Peppers




    Kemunculan film Robin Hood membawa soundtrack­ utamanya ikut naik daun. Om bersuara serak seksi dari Kanada ini, jadi salah satu solois pria favorit saya sejak kecil. I love his songs. Meskipun lagu ini durasinya panjang (lebih dari enam menit!), tetap saja enggak bikin otomatis jadi membosankan. Jujur saja, saya tidak yakin ada penyanyi lain yang cocok menyanyikannya, selain Om Bryan. Seriusan!

    Lagu satu lagi? Ini dia lagu yang bikin saya jatuh cinta pertama kali sama musik rock. Dengan lirik yang bikin lidah belibet, dari grup yang tiada duanya, selalu pedas dan nendang! Lihat video klipnya pun bikin mata cilik saya ternoda hahaha. Om Flea, si basis pecicilan, tetap yang enggak ada matinye soal tingkah sensasional.


    1992

    My top of mind: Jump – Kris Kross
    Side-kick: Tears in Heaven – Eric Clapton




    Namanya bocah, kalau lihat sesama bocah beraksi, bawaannya merasa senasib sepecicilan! Ini dia alasan mengapa begitu lihat lagu ini tayang, gerakan langsung refleks sesuai judul lagunya. LOMPAT! LONCAT! GABRUK! Betapa sedari kecil susah sekali saya bersikap sesuai kodrat kewanitaan hehehe.

    Lagu ini adalah debut sensasional dua cowok cilik, yang masa itu sampai berhasil melariskan jutaan kopi album. Warbyasak! Berkat tangan dingin seorang Jermaine Dupri, tokoh yang nantinya akan melahirkan banyak lagu terkenal dari artis ternama seperti Mariah Carey, Usher, dan Monica. Sure, he can make a diamond out from a dirty rock.

    Buat mitra lagu ini, saya pilihkan sebuah lagu yang bikin hati ambyar, jauh sebelum Didi Kempot terkenal. Dari gitaris kenamaan, Eric Clapton, lagu ini terinspirasi dari tragedi sang anak tersayang yang tewas terjatuh dari lantai 53 apartemen. Semua melodi dan lirik menggambarkan kerinduan dalam duka. I just can’t say much about it, very touching. Tiga penghargaan Grammy, termasuk Lagu Tahun Ini cukup menjelaskan mengapa lagu ini begitu membekas.


    1993

    My top of mind: Two Princes – Spin Doctors
    Side-kick: Ordinary World – Duran Duran




    Lagu-lagu berirama catchy selalu menarik perhatian. Salah satunya, one hit wonder dari band asal AS ini. Mungkin, hanya lagu ini satu-satunya pula yang menempel di benak orang-orang lain pada umumnya. Tembang ini juga diparodikan oleh grup kesayangan saya, P-Project di album perdana O Lea Leo (dulu masih bernama Padhyangan Project). Lucunya, waktu grup Spin Doctors sempat konser di Indonesia tahun 2006, pamor mereka malah kalah dengan band pembuka, Peterpan. Banyak penonton meninggalkan area, begitu Ariel dkk. selesai menghibur. Menambah daftar ketragisan band ini, ya?

    Buat nemenin, saya pilihkan sebuah lagu dari band legendaris, yang juga identik dengan tokoh Lupus pada era 90-an. Alm. Papa senang dengan lagu ini dan ketika diputar di radio mobil, pasti volume dibesarkan. Khidmat menikmati!


    1994

    My top of mind: Baby, I Love Your Way – Big Mountain
    Side-kick: Come Out and Play – The Offspring




    Masih dari lagu-lagu yang iramanya riang dan mudah diingat, soundtrack dari Reality Bites (salah satu film romantis recommended era 90-an) ini bikin badan langsung goyang-goyang santuy. Ini sebenarnya adalah versi cover dari penyanyi Inggris, Pieter Frampton, yang sudah merilis duluan di 1975 dan sama-sama jadi hits.

    Dengan sentuhan reggae-pop, lagu manis ini jadi enggak asal menye-menye. Seperti sebuah rayuan pulau kelapa di tepi pantai, ahzeek!

    Siapa rekan lagu ini? Tak lain adalah lagu yang intro-nya begitu dikenal dari band punk bervokalis jenius, The Offspring. Udah tahu kan, Dexter Holland si frontman adalah seorang Ph.D jurusan biologi molekular? Nyentrik dan eksentrik!


    1995

    My top of mind: Wonderwall – Oasis
    Side-kick: Just A Girl – No Doubt




    Pertama kali saya coba mainin program komputer untuk bikin logo, band Inggris ini yang jadi sasaran latihan. Logo Oasis yang simpel, cocok jadi bahan utak-atik. Apalagi lagu ini santer banget kedengaran di mana-mana. Di televisi, radio, dan petikan gitar kopong anak-anak muda yang poninya sampai nyolok mata kayak Gallagher bersaudara.

    Emang bikin nyangkut di kepala terus-terusan sih. Padahal suara yang nyanyi, macem cowok ngantuk dan malas-malasan, hehehe.

    Buat penawarnya, datang dari band yang vokalis ceweknya terkeren versi saya sampai saat ini (the chick who encouraged me to wear red lipstick). Lagu ini nakal, sekaligus nunjukin kekuatan cewek banget. Enggak heran, ia terpilih jadi salah satu lagu yang nongol di film Captain Marvel. Tentu saja pas adegan kicking the bad guys ass*s!


    1996

    My top of mind: Beautiful Ones – Suede
    Side-kick: I Will Survive – Cake




    Masih dari ranah Britania, datang lagi satu band yang lagu-lagunya pasti enggak absen di playlist 90-an saya. Band yang citranya woles dan flamboyan buat saya. Lagu ini pun punya video klip menarik hati. Dengan ornamen-ornamen lirik bertebaran dalam visualisasi. Artsy!

    Setiap karaoke, biasanya saya memasukkan lagu ini ke dalam daftar tembang yang akan saya nyanyikan. Begitu magisnya efek lagu ini buat saya.

    Satu lagi lagu yang jadi favorit saya di tahun tersebut, sebuah cover lagu disko legendaris, bertransformasi menjadi lagu alternatif. Vokal melengking Gloria Gaynor berganti suara berat John McCrea yang seperti don’t give a damn about the world. Teringat saya catat dan hafalkan lagu ini dari salah satu halaman majalah MBS (majalah musik yang isinya lirik dan kord gitar, terkenal di kalangan ABG saat itu). Still my first choice for getting over a heart break.



    1997

    My top of mind: Semi Charmed Life – Third Eye Blind
    Side-kick: Mmmbop – Hanson




    Makin bergeser ke penghujung 90-an, makin sulit untuk saya memilih siapa yang pantas mengisi daftar ini. Namun, lagu dari grup band asal AS ini memang tak tergeser di kepala saya. Teringat juga ada segerombolan cowok keren band sekolah yang pernah membawakan lagu ini di panggung. Lagu yang  aslinya bercerita tentang getting high on meth ini, paling keinget di melodi gitar dan gebukan drumnya. Masih jadi tembang terpopuler juga dari Third Eye Blind sampai sekarang.

    Untuk side-kick, band tiga cowok bersaudara yang jadi my forever guilty pleasure pantas masuk jajaran lagu paling memorable di tahun itu. Siapa sih yang enggak ikutan berdendang lirik unik nan imut ini? Waktu mereka datang dan manggung di The 90’s Festival Jakarta tahun lalu, masih bejibun aja fans setia Hanson, termasuk di antaranya teman dekat saya hehehe. Untunglah tak seperti liriknya, mereka enggak gone and not there in an Mmmbop.


    1998

    My top of mind: Iris – Goo Goo Dolls
    Side-kick: Intergalactic – Beastie Boys




    Lagi-lagi, lagu yang sangat membekas buat saya. Bisa dibilang, salah satu romantic songs yang paling saya suka. Ada cerita juga, ada “dia” di masa lalu yang sangat suka juga dengan lagu ini dan kami suka bernyanyi lagu ini berdua di telepon malam-malam (meskipun suara saya enggak banget hahaha). Menjadi lagu tema sebuah film cinta yang sangat emosional, City of Angels, vokal John Rzenik betul-betul menyelipkan sebuah kepedihan di antara raungan khas rocker-nya.
    Siapa pendampingnya? Tentu saja grup rap paling favorit dengan lagu yang lama dulu menjadi ringtone ponsel saya. Video klip yang lucu, ala-ala film monster dan superhero Jepang, menambah alasan saya tergila-gila banget sama lagu ini. Khas Beastie Boys memang, untuk selalu menawarkan ide out of the box kepada para penggemarnya.


    1999

    My top of mind: Nookie – Limp Bizkit
    Side-kick: Stranger by the Day – Shades Apart




    Membuka lagi kenistaan masa remaja saya, aliran musik hip metal pernah mengisi daftar kesukaan. Diambil dari Significant Other, salah satu album rock terfavorit di era 90-an, saya pernah ada di masa hafal mati lagu ini, lebih-lebih dari materi pelajaran di sekolah hahaha! The red cap guy, Fred Durst, sontak jadi idola para abege labil. Padahal kalau kamu tahu, apa sih arti nookie? Yah, enggak jauh beda sama wikwik dan skidipapap kalau kata anak sekarang. Ambyar!

    Selain itu, ada satu lagu yang sering banget saya dengarkan dan nyanyikan di akhir era 90-an itu. Diambil dari soundtrack film remaja kontroversial dan legendaris, American Pie, band ini memang enggak terkenal. Tapi, lagu ini dulu jadi top play di banyak radio anak muda. Bukti bahwa memang lagu ini pantas untuk menempel terus di kepala karena memang seenak itu didengarnya.


    Daftar lengkap saya ini bisa kamu cek, baik di akun Spotify maupun Youtube (klik aja yaaa!)

    Ngomongin musik 90-an, susah banget berhentinya! Apalagi sederet lagu yang saya nyesel abis enggak bisa masuk ke dalam daftar ini. Biar aja deh, saya dibilang susah move-on. Soalnya, memang musik 90-an terasa lebih genuine aja di telinga ini.

    Coba dong, bikin daftar yang sama versi kamu! Share kolom Komentar, atau boleh juga bikin Spotify plasylist dan share di sini link-nya. Saya tunggu!





    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Sudah lama saya tidak mengulas buku, meskipun sebenarnya kebiasaan membaca minimal satu buku per minggu masih saya pertahankan. Kali ini, saya akan kembali membuat ulasan buku dan lebih mengejutkan lagi, buku yang akan saya bukan novel atau cerita fiksi. Tidak seperti buku nonfiksi kebanyakan yang sering membuat saya mengantuk, buku ini justru membuat saya sibuk senam muka alias tertawa terpingkal-pingkal di banyak bagian.

    Sedikit mengulang pembahasan tentang diri saya (jangan bosan bacanya ya, Kakak!), sejak kecil saya sudah dicekoki oleh segala macam lawak dan dagelan dalam negeri. Selain Warkop DKI, junjungan lelucon saya adalah grup Srimulat. Bahkan, menurut cerita Mamah, ia bersama almarhum Papah menghabiskan masa pacaran dengan menonton pentas Srimulat di Taman Ria Remaja Senayan hampir setiap malam Minggu! Ditambah latar belakang alm. Papah yang berdarah Jawa, maka tak heran Srimulat sering berkumandang di rumah, baik dalam bentuk kaset lawak maupun siaran televisi.

    Sewaktu ada akun @srimulatism di ranah Twitter pada tahun 2011 pun, saya langsung sigap mengikuti. Girang sekali rasanya begitu tahu, akhirnya muncul buku yang khusus mengulas soal grup lawak legendaris ini. Apalagi format bukunya ringan, namun cukup rinci mengupas sejarah Srimulat dan banyak bonus lain yang mengundang gerrr habis-habisan. Simak ulasan saya kemarin kram perut usai menuntaskan buku ini dalam satu hari saja.

    -----

    Judul buku : Srimulatism – Selamatkan Indonesia dengan Tawa
    Genre : humor, nonfiksi
    Penulis : Thrio Haryanto
    Penyunting : Dyota Lakhsmi, Novikasari Eka S. 
    Ilustrasi : Pinot dan Hari Prast
    Perancang sampul : Hari Prast

    Penerbit : Penerbit Noura (PT. Mizan Publika), Jakarta
    Cetakan : 1, Maret 2018
    Tebal : 188 halaman
    ISBN : 9-786023-854011
    Harga : Rp. 49.000 (berlaku di Pulau Jawa)

    -----

    BLURB

    Srimulat bukan sekadar komedi. Kreativitas, kerja keras, nilai kekeluargaan, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci sukses kelompok ini dalam berkarya hingga lebih dari lima dekade. Bahkan, meski sudah dinyatakan bubar; lawakannya masih bertahan, menjadi genre tersendiri, hingga kita pun sering berucap, “Srimulat banget sih.”

    Sungguh menarik menjelajahi pakem-pakem, nilai, dan aturan tak tertulis – Srimulatologi – yang dianut kelompok ini. Selain itu, bersiaplah menahan tawa dengan lawakan Srimulat, sekaligus terinspirasi kisah-kisah tak terduga di balik layarnya.

    -----

    APA KATA SAYA TENTANG ISI BUKU INI?

    Selain kata pengantar, profil penulis, dan daftar referensi, ada empat belas bab yang dituangkan dalam buku Srimulatism. Keempat belas bab tersebut mengulik sejarah Srimulat, mulai dari kehidupan awal Raden Ayu (R.A.) Sri Mulat di masa dewasa muda hingga apa saja warisan grup Srimulat yang tak lekang oleh waktu hingga kini.

    Ada dua tokoh besar di balik terbentuknya Srimulat, yaitu  pasangan suami istri R.A. Sri Mulat, seorang wanita berdarah biru asal Kawedanan Bekonang. Sukoharjo, Jawa Tengah dan Teguh, seorang musisi muda keturunan Tionghoa yang berbeda 18 tahun lebih muda dari sang istri.

    Sri Mulat meninggalkan statusnya di kalangan atas dan menekuni passion-nya di dunia seni. Ia menjelma menjadi seorang biduanita bersuara emas dan menjajal peruntungan akting di layar perak. Popularitasnya meroket dan sempat menikah-cerai beberapa kali, sebelum akhirnya hatinya tertambat pada seorang gitaris muda dari Klaten, Teguh.

    Mendiang pasangan Pak Teguh dan Bu Sri Mulat
    pic : twitter @srimulatism


    Eits, jangan asal berpikir kalau Pak Teguh ini cuma brondong yang mencari sugar mommy untuk memuluskan kariernya, ya!

    Pak Teguh justru merupakan peletak dasar Srimulat sebagai kelompok hiburan yang identik dengan lawak. Sebelumnya, Srimulat lebih condong sebagai grup musik keroncong. Segmen dagelan awalnya merupakan program sisipan yang ditampilkan sebagai pengisi jeda saat pertunjukkan supaya penonton tidak jemu menunggu penampil keroncong.

    Di luar dugaan, segmen humor ini malah lebih mencuat dan selanjutnya menjadi proyek serius yang ditekuni oleh Pak Teguh. Ia pun menyuguhkan gebrakan demi gebrakan dengan memasukkan konten-konten Barat yang sedang hits, seperti parodi film asing, tokoh drakula, termasuk judul pementasan yang memakai bahasa Inggris (jauh sebelum anak Jaksel gayanya keminggris!)

    Selain perjalanan secara kelompok, buku Srimulatism juga menampilkan kisah beberapa legenda hidup Srimulat, seperti Gepeng, Asmuni, sampai sepak terjang Gogon – yang biasanya tampil seperti anak bawang, namun ternyata punya semangat luar biasa ketika mempersiapkan sebuah pertunjukkan akbar.

    Ada bagian yang sangat mengiris hati saya, yaitu ketika diceritakan beberapa personel Srimulat yang merasa sudah populer, memutuskan untung hengkang dan menyebabkan pentas Srimulat menjadi sepi. Namun, pada akhirnya para personel ini akhirnya kembali kepada grup yang sudah membesarkan nama mereka, termasuk Gepeng yang sempat tersandung kasus kepemilikan senjata api ilegal dan hidupnya berubah drastis dari kaya raya hingga kembali morat-marit.

    Nah, yang jadi favorit saya, buku ini tidak melulu menampilkan kisah-kisah historis dan nostalgia. Sebagai penyeimbang, pada setiap bab ada bagian yang memuat contoh skenario cerita pementasan dan kumpulan anekdot khas Srimulat, lengkap dengan keterangan siapa yang ada dalam dialog tersebut. Bagian inilah yang membuat saya sangat betah membaca, sampai meluangkan terbahak-bahak sebelum membalik halaman.

    Memang deh, saya ini lemah banget sama jokes receh!

    Saya kasih bocoran beberapa leluconnya, nih!

    ***

    Halaman 67 :
    Mamiek : Nung, kamu itu cantik luar dalam.
    Nunung : Ah, masa, sih?
    Mamiek : Iya, tapi lebih cantik kalau di dalam.
    Nunung : Di dalam apa?
    Mamiek : Kegelapan!

    Halaman 93 :
    Tarsan : Pak Asmuniiiii .... Apa kabar?
    Asmuni : Alhamdulillah, sehat wal-Accord!
    Tarsan : Kok Accord?
    Asmuni : Fiat-nya sudah saya jual!
    (keterangan : Accord dan Fiat yang dimaksud adalah merek mobil)

    Halaman 127 :
    Gepeng (monolog) : Saya ini kerja sama Pak Asmuni sudah lama. Awalnya, cuma jadi pelayan. Kemudian, saya diangkat menjadi Kepala Bagian Keuangan. Khusus, ngurusin uang kerokan!


    ***


    Duh, kalau kamu enggak tertawa, mohon maaf berarti kita adalah spesies makhluk berbeda hahaha! *tutup muka ketahuan selera humor yang super ambyar*

    Secara kepenulisan, saya cukup menikmati penuturan Mas Thrio (yang juga menjadi tokoh di balik layar akun @srimulatism) terhadap segala kisah penyusun sejarah Srimulat. Meskipun banyak istilah dan kosakata dalam bahasa Jawa yang bertebaran, namun keterangan di catatan kaki sangat membantu saya untuk memahami maksudnya. Lagipula, bahasa Jawa memang sudah begitu lekat dengan citra Srimulat, sehingga nyaris tak mungkin meninggalkannya, termasuk saat menulis buku ini.

    Foto-foto yang dicantumkan di dalam buku pun tergolong cukup jelas, walaupun merupakan dokumentasi lama dan spesial, dicetak dalam warna hitam-putih. Ditambah ilustrasi-ilustrasi memikat dari Pinot (iya, ini Om Pinot ilustrator keren yang sekarang kerja di perusahaannya Babeh Gary Vee itu!) dan Hari Prast, memanjakan mata saya. Dengan tebal 188 halaman saja dan pilihan serta ukuran huruf yang cukup besar (jadi mata saya tidak cepat lelah), saya mudah menamatkan buku ini di kisaran 2-3 jam dengan kecepatan membaca santai.

    Pilihan warna biru dan kuning untuk sampul seperti menyentil saya akan dua sisi dari Srimulat. Kuning nan ceria dari kesegaran humornya dan biru sebagai reprentasi kebijakan yang tersemat dalam prinsip lawakan mereka yang bukan sekadar “asal omong”.

    Mengutip kata-kata mendiang Pak Teguh, saya mengamini pernyataan beliau :

    “Segala sesuatu dapat dikomedikan. Masalahnya adalah tega atau tidak, tepat atau tidak.”

    Di tengah sensitifnya negeri ini, mengenang kembali kemeriahan canda dan gelak tawa bersama Srimulat begitu mengademkan hati. Misi menyelamatkan Indonesia dengan tawa melalui cara yang tidak melukai hati atau menjadikan kedukaan serta kelemahan orang lain sebagai bahan lelucon – atau populer dengan istilah mikul dhuwur, mendhem jero – adalah sebuah keinginan mulia yang saya dukung seratus persen!

    Keputusan akhir, saya memberikan 9 dari 10 bintang untuk buku Srimulatism. 



    Siapkan satu hari untuk menciptakan suasana gembira dengan para laskar tawa legenda ini! 



    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Setelah vakum beberapa lama, Back to the 90’s Battle setor muka lagi, nih! Sebagai tukang jajan, enggak lengkap kalau topik jajanan favorit era 90-an lewat dari bahasan.

    Seperti biasa, saya akan mulai meracau dengan kisah gimana Winda kecil suka jajan dan ngemil, walaupun badan kerempeng. Orang tua saya melihat bakat memamah biak pada kedua anaknya – saya dan Radit, adik laki-laki yang cuma selisih satu tahun sama saya – mengalir deras. Nah, ada satu lemari di rumah yang jadi brankas harta karun, alias isinya segala macam camilan, bersebelahan dengan kulkas kecil yang isinya macam-macam susu kotak dan minuman kemasan.

    Lupakan gaya hidup sehat, pantas banget saya super pecicilan. Baru sadar, kayanya dulu kecil itu saya sugar rush setiap hari hihihihi! Tapi, saya masih termasuk bisa mengontrol soal jajan. Karena emang dasarnya udah control freak dari kecil, rasanya kalo enggak sesuai standar dan jadwal, saya bisa uring-uringan sendiri deh!

    via GIPHY

    Selain punya lemari camilan, saya juga doyan menjelajahi warung. Saya coba berbagai jajanan, meskipun diam-diam. Maklum, nyokap biasanya suka wanti-wanti jangan asal jajan. Isu jajanan yang dulu sempat hits, salah satunya tentang biskuit beracun dan permen narkoba. Berhubung dulu belum marak acara TV yang temanya investigasi (dengan suara pelaku disamarin kaya tikus mencicit atau sekalian kaya robot), jadi berita-berita begini palingan “viral” di koran dan majalah aja.

    Nah, masuk ke bahasan. Saya dan Asti sempat berdiskusi soal jajanan macam apa yang akan dibahas, supaya fokus. Akhirnya, pilihan jatuh pada sweets, alias snack manis-manis. Saya akan bahas snack cokelat dan Asti bahas aneka permen yang ngetop di dekade 90-an.

    Saya sudah membaginya ke dalam lima kategori besar. Beberapa ada yang sudah hilang dari peredaran, sisanya masih bisa kita temui walaupun sudah lewat dua dasawarsa. Coba cari, adakah merek favoritmu di daftar ini!


    1. Wafer dan stik krenyes-krenyes

    Dari segala macam jajanan cokelat, yang paling menarik hati saya adalah wafer! Saya seneng banget sama suara ‘KRESSS’ yang mengikuti setiap menggigitnya. Yah, walaupun si remah-remah sering ikut bertebaran dan nambahin peer bebersih.

    Wafer yang paling legendaris tentu saja, Wafer Superman! Sekarang sih namanya udah ganti jadi wafer Superstar. Disebut Superman karena ada gambar tokoh serupa Superman di bagian depan bungkusnya. Sempet sedih karena wafer ini mengalami penyusutan ukuran dan ada masanya ia hilang, sekarang dengan merek baru, bentuknya langsing panjang. Anak-anak saya pun menjadi generasi penggemar wafer ini selanjutnya.

    wafer superman vs wafer superstar
    pic : idn times

     
    Wafer kedua yang sekarang makin bervariasi jenis produknya adalah Beng-beng. Berbeda dengan wafer Superman, Beng-beng menawarkan tekstur berbeda. Gabungan antara cokelat, crunchy, dan ada tekstur lengket chooey karamel bikin Beng-beng punya daya tarik bikin nagih! Kalau ingat pula iklannya (yang ambigu karena adegan cewek dan cowok remaja makan satu Beng-beng berdua, ala-ala mau ciuman), ada slogan “Asyik Berat!” yang disematkan. Kini, Beng-beng punya ukuran mini dan ada pula minuman cokelat seduhnya.

    Bengbeng jadul
    pic : mbakyumalang on blogspot


    Beralih ke stik rasa cokelat, ada Si Stik Loreng Bungkus Merah yang tak terganti di hati, Astor. Banyak stik loreng KW sejenis dengan nama mirip-mirip, tetapi kualitas dan rasa enggak bisa ngalahin aslinya, dong! Bagian paling mengasyikkan dari makan Astor, buat saya adalah ngemilin remahan atau bubukannya! Apalagi kalau kemasan kaleng, bisa saya kekep sendiri deh hehehe!

    Astor jadul
    pic : monster bego on blogspot


    Dan, ini dia yang paling saya kangenin, stik rasa cokelat terenak, Chiki Stick. Percayalah, kalo kamu udah cobain stick lapis cokelat dengan tiga varian rasa, cokelat, stroberi, dan lemon, kamu bakal bilang : 

    Momogi is sooooo overrated! 

    chiki stick yang saya kangenin banget
    pic : azizah laurensia on wordpress

    Cokelat stroberi favorit saya, di lidah menggabungkan rasa paling pas dan enggak enek!




    2. Pasta cokelat lezat

    Pindah ke jenis cokelat favorit selanjutnya, pasta cokelat! Otak saya langsung teringat dua merek ini lah!

    Pertama, siapa enggak kenal yang panjaaaang dan laaaamaaa, Choki-choki! Seperti halnya wafer Superman, Choki-choki adalah merek snack cokelat yang jadi ikon jajanan sejak lama dan awet bertahan hingga sekarang. Kedua jagoan saya juga menggandrungi cokelat ini, apalagi sekarang dibandrol dengan bonus kartu-kartu mainan.

    Choki-choki jadul
    pic : kapanlagi

     
    Kedua, ada cokelat pasta dalam cup kecil dan makannya kudu disendokin, Choyo-choyo. Ada tambahan rasa dan warna berbeda dalam variannya, selain warna dasar cokelat dan putih – merah muda, kuning, dan hijau. Ada yang menyebutnya rainbow chocolate dan produsennya sama seperti  permen karet Yosan, ditandai dengan ikon kartun yang sama.

    choyo choyo si cokelat pelangi
    pic : elevenia


    Seperti biasa, favorit saya yang ada stroberinya hehehe. Sendoknya kecil banget dan kalo dipikir, si pewarna serta bahan plastik sendoknya entah aman atau enggak. Tapi namanya jajanan, hajar bleh aja lah sikat!


    3. Cokelat batang murah dan bentuk unik

    Jenis ketiga adalah cokelat batangan nan keras dengan harga murah. Merek pertama juga menjadi ikon cokelat harga terjangkau yang membekas dalam kenangan, Cokelat Jago. Bungkus cokelat rasa susu ini sederhana. Warna merah putihnya ikonik banget (mungkin ada juga yang menghubungkan dengan nasionalisme Tanah Air) dan lambang ayam jantan sebagai penguatan nama mereknya. 

    cokelat jago
    pic : kompasiana

    Cokelat ini buat saya enggak bikin enek. Masih otentik rasa cokelat jadul sehingga menyenangkan untuk disantap sampai sekarang. Porsinya juga pas, enggak tergolong besar.

    Berikutnya, ada beberapa cokelat batang yang dikemas dalam bentuk unik. Ingatkah kamu dengan trio cokelat ini : cokelat koin, cokelat payung, dan cokelat rokok? 

    cokelat koin
    pic : twitter

    cokelat payung
    pic : tokopedia

    cokelat rokok
    pic : bukalapak

    Ketiganya selalu dicari setiap ada bingkisan ulang tahun hehehe. Selain dimakan, cokelat bentuk tak biasa ini dijadikan alat bermain pula. Paling epik tentu saja cokelat rokok yang diem-diem suka menyalurkan gaya meniru bapak-bapak ngerokok oleh anak-anak cowok. Tapi, jangan nekat ngebakar ya! Nanti malah meleleh, sayang dong!


    4. Bulat-bulat gemesin

    Cokelat bulat seperti bola begitu menggemaskan di mata saya. Ada dua merek yang paling nempel dalam kenangan. Pertama, tentu saja kesukaan anak Indonesia, Chiki Balls! Varian rasa manis di antara dua rasa asin, Ayam dan Keju, menitipkan cita rasa tersendiri. Kriuk-kriuk krenyes yang muncul saat kita mengunyah Chiki Balls jadi bagian ternikmat setiap memakannya. 

    chiki balls cokelat curah
    pic : bukalapak

    Kalau kamu masih susah lepas dari Chiki Balls cokelat, cari deh di lapak-lapak online, banyak kok yang jual dalam kemasan curah dengan isi mulai seperempat kilogram.

    Kedua, mungkin kamu lupa, saya sendiri kaget waktu menemukan di sebuah lapak jajanan jadul di kawasan Bandung Indah Plaza. Namanya Winball Chocolate. 

    winball chocolate
    pic : monarrefoodcompany

    Bola biskuit berlapis cokelat ini dikemas dalam sachet bening dengan aksen warna emas. Kesannya memang lebih mewah. Cokelatnya enggak terlalu manis, seperti selera kesukaan saya dan crunchy adonan biskuitnya juga pas serta enggak banyak beremah.


    5. Yang elit harga melangit

    Sebagai penutup, mari bahas tiga merek cokelat pembolong kantung dan hanya diharap diberikan saat ulang tahun atau bongkar parsel kantor orang tua kita.

    Merek pertama, Cadbury, jadi tolok ukur saya waktu kecil sebagai cokelat yang “wow”. Pasti deh setiap parsel bakal ada satu set cokelat Cadbury. Yang jadi sasaran saya sih milk chocolate, karena saya anti banget sama kacang-kacangan dan kismis. Males makan cokelat yang pakai acara potongan kacang nyelip di gigi, hedeh!

    cokelat cadbury masa kini
    pic : harga joss


    Selanjutnya, siapa tak kenal Toblerone? Amsyiong dah kalo pas ospek, kamu kedapetan harus kasih kado kakak senior cokelat ini lengkap dengan surat cinta abal-abal! Udahlah harganya mahal, entah kenapa, lidah saya enggak doyan sama cokelat ini. Ciri khasnya memang pada komposisi nougat, almond, dan rasa manis madu, dikawinkan dengan cokelat Swiss. Apa lidah saya emang ndeso, jadi cokelat internesyenel begini malah mental *tutup muka*

    toblerone yang jadi langganan tugas ospek
    pic : suaradotcom

    Last but not least, ada cokelat yang hits di kalangan remaja Indonesia 90-an, Silverqueen. Harganya tergolong lebih murah dari Cadbury dan Toblerone. Namun, karena sasarannya memang remaja, buat anak SD harganya tergolong mahal. Silverqueen bisa dibilang jadi syarat pergaulan (dan hadiah pacaran) remaja 90-an, lo!

    silverqueen idola remaja
    pic : hargacepatdotcom


    Iklannya pun terkenal banget dengan lirik catchy :

    Santai belum santai, tanpa dia
    Cokelat mede lezat, oh Silverqueen

    Silverqueen belakangan mengeluarkan banyak banget produk cokelat seperti Chunky Bar, Bites, dan Rock’R; namun varian asli tetap jadi pilihan utama banyak pembeli yang telanjur kepincut sejak masa muda.


    Masih banyak banget jajanan rasa cokelat di pasaran era 90-an dulu dan mungkin saja belum saya sebutkan dalam daftar.



    via GIPHY

    Cerita dong, kalo kamu paling suka sama jajanan cokelat yang mana? Lengkapin daftar ini juga boleh banget. Share di kolom Komentar, yuks!




    Continue Reading
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Di Era 90-an, Ini Lima Hobi yang Susah Lepas dari Saya!

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Di Era 90-an, Ini Lima Hobi yang Susah Lepas dari Saya!

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top