Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • Halo, Kawans!

    Sudah lama saya tidak mengulas buku, meskipun sebenarnya kebiasaan membaca minimal satu buku per minggu masih saya pertahankan. Kali ini, saya akan kembali membuat ulasan buku dan lebih mengejutkan lagi, buku yang akan saya bukan novel atau cerita fiksi. Tidak seperti buku nonfiksi kebanyakan yang sering membuat saya mengantuk, buku ini justru membuat saya sibuk senam muka alias tertawa terpingkal-pingkal di banyak bagian.

    Sedikit mengulang pembahasan tentang diri saya (jangan bosan bacanya ya, Kakak!), sejak kecil saya sudah dicekoki oleh segala macam lawak dan dagelan dalam negeri. Selain Warkop DKI, junjungan lelucon saya adalah grup Srimulat. Bahkan, menurut cerita Mamah, ia bersama almarhum Papah menghabiskan masa pacaran dengan menonton pentas Srimulat di Taman Ria Remaja Senayan hampir setiap malam Minggu! Ditambah latar belakang alm. Papah yang berdarah Jawa, maka tak heran Srimulat sering berkumandang di rumah, baik dalam bentuk kaset lawak maupun siaran televisi.

    Sewaktu ada akun @srimulatism di ranah Twitter pada tahun 2011 pun, saya langsung sigap mengikuti. Girang sekali rasanya begitu tahu, akhirnya muncul buku yang khusus mengulas soal grup lawak legendaris ini. Apalagi format bukunya ringan, namun cukup rinci mengupas sejarah Srimulat dan banyak bonus lain yang mengundang gerrr habis-habisan. Simak ulasan saya kemarin kram perut usai menuntaskan buku ini dalam satu hari saja.

    -----

    Judul buku : Srimulatism – Selamatkan Indonesia dengan Tawa
    Genre : humor, nonfiksi
    Penulis : Thrio Haryanto
    Penyunting : Dyota Lakhsmi, Novikasari Eka S. 
    Ilustrasi : Pinot dan Hari Prast
    Perancang sampul : Hari Prast

    Penerbit : Penerbit Noura (PT. Mizan Publika), Jakarta
    Cetakan : 1, Maret 2018
    Tebal : 188 halaman
    ISBN : 9-786023-854011
    Harga : Rp. 49.000 (berlaku di Pulau Jawa)

    -----

    BLURB

    Srimulat bukan sekadar komedi. Kreativitas, kerja keras, nilai kekeluargaan, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci sukses kelompok ini dalam berkarya hingga lebih dari lima dekade. Bahkan, meski sudah dinyatakan bubar; lawakannya masih bertahan, menjadi genre tersendiri, hingga kita pun sering berucap, “Srimulat banget sih.”

    Sungguh menarik menjelajahi pakem-pakem, nilai, dan aturan tak tertulis – Srimulatologi – yang dianut kelompok ini. Selain itu, bersiaplah menahan tawa dengan lawakan Srimulat, sekaligus terinspirasi kisah-kisah tak terduga di balik layarnya.

    -----

    APA KATA SAYA TENTANG ISI BUKU INI?

    Selain kata pengantar, profil penulis, dan daftar referensi, ada empat belas bab yang dituangkan dalam buku Srimulatism. Keempat belas bab tersebut mengulik sejarah Srimulat, mulai dari kehidupan awal Raden Ayu (R.A.) Sri Mulat di masa dewasa muda hingga apa saja warisan grup Srimulat yang tak lekang oleh waktu hingga kini.

    Ada dua tokoh besar di balik terbentuknya Srimulat, yaitu  pasangan suami istri R.A. Sri Mulat, seorang wanita berdarah biru asal Kawedanan Bekonang. Sukoharjo, Jawa Tengah dan Teguh, seorang musisi muda keturunan Tionghoa yang berbeda 18 tahun lebih muda dari sang istri.

    Sri Mulat meninggalkan statusnya di kalangan atas dan menekuni passion-nya di dunia seni. Ia menjelma menjadi seorang biduanita bersuara emas dan menjajal peruntungan akting di layar perak. Popularitasnya meroket dan sempat menikah-cerai beberapa kali, sebelum akhirnya hatinya tertambat pada seorang gitaris muda dari Klaten, Teguh.

    Mendiang pasangan Pak Teguh dan Bu Sri Mulat
    pic : twitter @srimulatism


    Eits, jangan asal berpikir kalau Pak Teguh ini cuma brondong yang mencari sugar mommy untuk memuluskan kariernya, ya!

    Pak Teguh justru merupakan peletak dasar Srimulat sebagai kelompok hiburan yang identik dengan lawak. Sebelumnya, Srimulat lebih condong sebagai grup musik keroncong. Segmen dagelan awalnya merupakan program sisipan yang ditampilkan sebagai pengisi jeda saat pertunjukkan supaya penonton tidak jemu menunggu penampil keroncong.

    Di luar dugaan, segmen humor ini malah lebih mencuat dan selanjutnya menjadi proyek serius yang ditekuni oleh Pak Teguh. Ia pun menyuguhkan gebrakan demi gebrakan dengan memasukkan konten-konten Barat yang sedang hits, seperti parodi film asing, tokoh drakula, termasuk judul pementasan yang memakai bahasa Inggris (jauh sebelum anak Jaksel gayanya keminggris!)

    Selain perjalanan secara kelompok, buku Srimulatism juga menampilkan kisah beberapa legenda hidup Srimulat, seperti Gepeng, Asmuni, sampai sepak terjang Gogon – yang biasanya tampil seperti anak bawang, namun ternyata punya semangat luar biasa ketika mempersiapkan sebuah pertunjukkan akbar.

    Ada bagian yang sangat mengiris hati saya, yaitu ketika diceritakan beberapa personel Srimulat yang merasa sudah populer, memutuskan untung hengkang dan menyebabkan pentas Srimulat menjadi sepi. Namun, pada akhirnya para personel ini akhirnya kembali kepada grup yang sudah membesarkan nama mereka, termasuk Gepeng yang sempat tersandung kasus kepemilikan senjata api ilegal dan hidupnya berubah drastis dari kaya raya hingga kembali morat-marit.

    Nah, yang jadi favorit saya, buku ini tidak melulu menampilkan kisah-kisah historis dan nostalgia. Sebagai penyeimbang, pada setiap bab ada bagian yang memuat contoh skenario cerita pementasan dan kumpulan anekdot khas Srimulat, lengkap dengan keterangan siapa yang ada dalam dialog tersebut. Bagian inilah yang membuat saya sangat betah membaca, sampai meluangkan terbahak-bahak sebelum membalik halaman.

    Memang deh, saya ini lemah banget sama jokes receh!

    Saya kasih bocoran beberapa leluconnya, nih!

    ***

    Halaman 67 :
    Mamiek : Nung, kamu itu cantik luar dalam.
    Nunung : Ah, masa, sih?
    Mamiek : Iya, tapi lebih cantik kalau di dalam.
    Nunung : Di dalam apa?
    Mamiek : Kegelapan!

    Halaman 93 :
    Tarsan : Pak Asmuniiiii .... Apa kabar?
    Asmuni : Alhamdulillah, sehat wal-Accord!
    Tarsan : Kok Accord?
    Asmuni : Fiat-nya sudah saya jual!
    (keterangan : Accord dan Fiat yang dimaksud adalah merek mobil)

    Halaman 127 :
    Gepeng (monolog) : Saya ini kerja sama Pak Asmuni sudah lama. Awalnya, cuma jadi pelayan. Kemudian, saya diangkat menjadi Kepala Bagian Keuangan. Khusus, ngurusin uang kerokan!


    ***


    Duh, kalau kamu enggak tertawa, mohon maaf berarti kita adalah spesies makhluk berbeda hahaha! *tutup muka ketahuan selera humor yang super ambyar*

    Secara kepenulisan, saya cukup menikmati penuturan Mas Thrio (yang juga menjadi tokoh di balik layar akun @srimulatism) terhadap segala kisah penyusun sejarah Srimulat. Meskipun banyak istilah dan kosakata dalam bahasa Jawa yang bertebaran, namun keterangan di catatan kaki sangat membantu saya untuk memahami maksudnya. Lagipula, bahasa Jawa memang sudah begitu lekat dengan citra Srimulat, sehingga nyaris tak mungkin meninggalkannya, termasuk saat menulis buku ini.

    Foto-foto yang dicantumkan di dalam buku pun tergolong cukup jelas, walaupun merupakan dokumentasi lama dan spesial, dicetak dalam warna hitam-putih. Ditambah ilustrasi-ilustrasi memikat dari Pinot (iya, ini Om Pinot ilustrator keren yang sekarang kerja di perusahaannya Babeh Gary Vee itu!) dan Hari Prast, memanjakan mata saya. Dengan tebal 188 halaman saja dan pilihan serta ukuran huruf yang cukup besar (jadi mata saya tidak cepat lelah), saya mudah menamatkan buku ini di kisaran 2-3 jam dengan kecepatan membaca santai.

    Pilihan warna biru dan kuning untuk sampul seperti menyentil saya akan dua sisi dari Srimulat. Kuning nan ceria dari kesegaran humornya dan biru sebagai reprentasi kebijakan yang tersemat dalam prinsip lawakan mereka yang bukan sekadar “asal omong”.

    Mengutip kata-kata mendiang Pak Teguh, saya mengamini pernyataan beliau :

    “Segala sesuatu dapat dikomedikan. Masalahnya adalah tega atau tidak, tepat atau tidak.”

    Di tengah sensitifnya negeri ini, mengenang kembali kemeriahan canda dan gelak tawa bersama Srimulat begitu mengademkan hati. Misi menyelamatkan Indonesia dengan tawa melalui cara yang tidak melukai hati atau menjadikan kedukaan serta kelemahan orang lain sebagai bahan lelucon – atau populer dengan istilah mikul dhuwur, mendhem jero – adalah sebuah keinginan mulia yang saya dukung seratus persen!

    Keputusan akhir, saya memberikan 9 dari 10 bintang untuk buku Srimulatism. 



    Siapkan satu hari untuk menciptakan suasana gembira dengan para laskar tawa legenda ini! 



    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Kembali lagi menulis, kali ini saya akan mengulas sebuah buku, tetapi EHM, posting ini sekaligus nyelipin misi lain. MISI BANG, MISI OM, MISI TEH, MAU KENALIN BUKU ANTOLOGI SAYA *garing mode on*

    Oke, kita mulai dulu dengan basa-basi data buku. Lesgo kemon, Beibeh!

    -----

    Judul Buku : Flashes of Life – 99 Cerita Hidup dan Kematian
    Genre : flash fiction, kumpulan cerita
    Penulis : Carolina Ratri, Winda Reds, Aimee KK, dkk.
    Penerbit : Stiletto Indie Book, Yogyakarta
    Tahun terbit : 2018
    Jumlah halaman : 229 halaman
    ISBN : 978-602-336-701-6

    -----

    BLURB

    Setiap manusia akan melewati berbagai tahapan dalam hidupnya; lahir menjadi anak-anak dan tumbuh menjadi remaja. Saat ia mencari cinta, saat ia menemukan cinta, saat akhirnya ia melabuhkan cinta.

    Kemudian ia akan melanjutkan hidupnya lagi saat sudah hidup bersama orang-orang yang dicintainya, bagaimana ia harus menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Dan, saat ia menjelang akhir perjalanannya, hingga akhirnya, semua benar-benar berakhir. Berakhir, dan manusia itu pulang. Pada-Nya yang telah memberikan hidup.

    Inilah kisah-kisah mereka.

    -----

    ABOUT THE BOOK





    Flashes of Life merangkum sembilan tahapan kehidupan sebagai bab-bab penceritaan, yaitu :

    1. Anak dan remaja
    2. Jomlo
    3. Jatuh cinta
    4. Menikah
    5. Keluarga
    6. Profesi
    7. Ulang Tahun Perkawinan
    8. Kakek Nenek
    9. Kematian

    Tiap bab memuat sebelas cerita, jadi total ada sekutu alias Seratus Kurang Satu hehehe, sembilan puluh sembilan cerita dalam satu buku! Jumlah kata per cerita tidak lebih dari tiga ratus, jadi cocok banget buat snack reading.

    Buat yang belum tahu, apa itu flash fiction, cek dulu deh penjelasan Carolina Ratri alias Mak Carra, sang pemimpin proyek menulis ini di blog-nya.

    Baca dulu : FlashFiction - Salah Satu Cara Latihan Menulis Efektif Dan Kreatif


    Buku Flashes of Life juga menyisipkan bonus sembilan tips menulis flash fiction, siapa tahu kamu mau coba ikut praktik menulis flash fiction selesai membaca buku ini.

    Apa keistimewaan dari buku Flashes of Life lainnya?

    Tiga puluh penulis berkontribusi dalam buku ini, semuanya wanita! Tapi, bukan berarti ceritanya penuh kelembutan dan mendayu-dayu. Berbagai genre disajikan, mulai dari romansa, drama, komedi, bahkan thriller dan horor! Ini dia wajah-wajah pejuang pena di balik buku Flashes of Life.



    Naskah-naskah yang masuk sudah melewati seleksi dan suntingan dari sang master flash fiction, Mak Carra. Saya sendiri mendapat kehormatan jadi asisten proyek menulis ini, setelah saya berhasil memenangkan kontes flash fiction #PestaFiksi07 tema romansa yang diadakan oleh Mak Carra di blog-nya. Cerita “Magenta dan Kelabu” yang saya tulis berhasil unggul waktu itu.

    Baca di sini : Magenta dan Kelabu


    Mak Carra pun menggandeng saya ikutan proyek menulis keren ini dan ikut membantu proses pengumpulan naskah, promosi, serta banyak printilan lain. Saya bersyukur banget karena banyak belajar tentang menerbitkan buku indie lewat proyek Flashes of Life ini.

    Total, saya menempatkan sebelas cerita dalam buku Flashes of Life dan tersebar di semua bab yang ada. Ini beberapa kutipan cerita yang ada, saya menulis beberapa genre mulai dari romansa, drama, komedi, dan thriller. Untuk genre horor, saya masih belum berani, di sini anaknya cemen bet deh ah!





    Buku ini jadi penanda keberanian saya untuk mempublikasikan karya dengan lebih masif. Memang, waktu menulis naskah-naskah ini tahun lalu, saya belum mengikuti kelas menulis apa pun. Namun, saya merasakan waktu membuat cerita-cerita ini, ada kebebasan berekspresi tersendiri, meskipun dari segi teknis masih perlu polesan (jujur banget sih saya yaaa hahaha!).

    Kalau ditanya, cerita mana jagoan saya? Saya tentu saja bakal merekomendasikan cerita-ceritanya Mak Carra, dengan level mastah yang jauh di atas! Mak Carra ini bisa banget bikin cerita dengan dialog mengalir dan puntiran (twist) nendang! Sampai ternganga bacanya, apalagi idenya pun sering tak biasa.

    Penulis lain yang juga bikin saya terkagum-kagum adalah Marina Yudhitia dan Nani Nurhasanah. Marina tergolong penulis dengan teknik yang rapi. Enggak heran sih, soalnya Mayin ini emang jebolan kelas cerpen dari Kompas, ciamik lah! Kalau Mbak Nani, saya suka dengan kesederhanaan ide cerita yang bisa ia kemas apik, menarik, dan tidak klise. Menyenangkan banget, ibarat menyantap masakan Ibunda yang tidak “wah”, tetapi membekas kuat dalam ingatan.

    Cover dan layout buku ini dikerjakan sendiri oleh Mak Carra. Saya senang sekali dengan ilustrasi khasnya dan pemilihan warna hijau pada sampul yang begitu segar. Buku ini jadinya catchy dan ketika dibuka dalamnya pun menyenangkan bagi mata yang membacanya.



    Overall, Flashes of Life menyampaikan banyak sekali pesan kehidupan. Ada sisi-sisi gelap yang sering kita abaikan dan tutup mata ketika menemuinya. Selesai menutup buku ini, semoga kamu bisa berpikir lebih dalam bagaimana memaknai hidup dan membuatnya lebih bermanfaat, bukan hanya sebagai perjalanan ala kadarnya belaka.

    Khusus ulasan hari ini, saya tidak akan memberikan skor penilaian. Sebagai gantinya, saya akan memberitahukan ada jadwal book tour Flashes of Life di beberapa akun bookstagrammer dan book blogger.



    Kami pun sedang membuka pre-order tahap kedua untuk buku Flashes of Life. 



    Buku ini dibandrol harga Rp. 54.000,- saja dan akan siap di akhir Agustus. Pengiriman akan dilakukan dari kota Yogyakarta menggunakan ekspedisi Pos Indonesia.

    Order dilakukan via WhatsApp ke nomor berikut :
    Pulau Jawa : 0813-1858-5403
    Luar Jawa : 0812-1911-6312

    Selesai periode tersebut, kamu tetap bisa memesan langsung ke Stiletto Indie Book berikut ini
    http://www.stilettobook.com/flashes-of-life.html

    Info lengkapnya, bisa follow akun Instagram flashesoflife.book di
    https://www.instagram.com/flashesoflife.book/

    Semoga saya bisa segera menyusul menerbitkan novel solo, ya! Tahun ini biarlah Flashes of Life menjadi highlight pencapaian saya di separuh awal 2018. Ditunggu pesananmu, Kawans! Rasakan pengalaman berbeda membaca kumpulan cerita yang istimewa.

    Bab mana yang kira-kira paling menarik perhatianmu? Cerita di kolom Komentar, yuks!





    foto-foto: dok. flashesoflife.book

    Continue Reading



    Di tahun 2018 yang baru memasuki bulan keempat, saya bisa dibilang mendapatkan banyak sumber bacaan baru. Tidak hanya aplikasi iPusnas dan Gramedia Digital, saya berkenalan dengan sebuah platform cerita daring asal negeri sendiri.

    Biasanya, platform cerita daring memungkinkan pembaca untuk menyimak cerita secara gratis. Banyak penulis, baik pemula sampai yang sudah cukup terkemuka, memanfaatkan platform ini sebagai kawah candradimuka. Mereka mengunggah naskah awal dan melihat reaksi para pembaca, sebelum memolesnya menjadi naskah yang lebih rapi dan solid.

    Namun, platform yang satu ini berbeda. Mari berkenalan sejenak dengan Cabaca.

    Apa bedanya Cabaca dengan platform penyedia akses bacaan sejenis? Nah, pas banget, kemarin malam saya berkesempatan ikut sesi Sharing with Authors yang diadakan oleh Komunitas Penulis Cloverline.

    Ada Mbak Fatimah Azzahrah yang menjadi perwakilan Cabaca. Beliau adalah salah satu co-founder, project manager, pemimpin redaksi, dan editor. Intinya, posisi Mbak Fatimah termasuk yang terpenting dan tersibuk di Cabaca.

    Cabaca didirikan atas prakarsa Mbak Anggit Tut Pinilih. Sebagai seseorang yang sudah lama malang melintang di bidang digital platform, beliau memiliki sebuah visi : menciptakan sebuah aplikasi membaca daring yang simpel, menyenangkan, dan punya kesempatan untuk memonetisasi karya tanpa meninggalkan standar seleksi layaknya penerbit mayor.

    Sebuah ide yang keren, mengingat sekarang siapapun punya kesempatan untuk menulis. Apalagi teknologi era digital ini membuka akses membaca yang lebih luas dan mudah. Penulis pun bisa berinteraksi lebih dekat dengan pembaca, tanpa terhalang jarak dan waktu. Intinya, Cabaca menyediakan kemudahan, baik untuk pembaca maupun penulis.

    Bagaimana mekanisme baca yang ada di Cabaca?

    Pertama, saya akan jelaskan dari sisi pembaca, ya! Cabaca menyediakan tiga bab gratis untuk setiap buku yang diunggah. Pembaca bisa lanjut ke bab-bab selanjutnya yang dihargai sejumlah kerang. Kerang ini saat kita mendaftar pertama kali, kita dapatkan gratis dan bisa bertambah dengan beberapa cara.


    Bonus kerang saat daftar dan bonus teman yang masuk ke dompet kerang saya


    Sebagai gambaran, saya mendapatkan seratus kerang gratis saat mendaftar pertama kali dan lima puluh kerang gratis lainnya dengan memasukkan kode dari salah satu kawan. Nah, saya punya kode khusus, yang jika dipakai oleh orang lain yang baru daftar Cabaca, masing-masing user menghasilkan lima puluh kerang ekstra bagi saya.

    Kode saya : WINDAREDS12

    Silakan dipakai, Kawans!

    Namun ingat, kode teman ini hanya bisa dimasukkan satu kali saja. Setelah itu, kamu perlu menggunakan cara lain untuk menambah jumlah kerang.

    Kerang saya pun bisa bertambah jika saya rutin berkomentar pada setiap bab cerita. Satu komentar dihargai tiga kerang. Intinya, kita harus aktif sebagai pembaca dan proaktif mengundang pembaca baru.

    Jika kamu mau membeli kerang, ada beberapa metode pembayaran yang bisa dipilih, seperti transfer bank, bayar di Indomaret, kartu kredit, dan potong langsung dari pulsa kita. Saya sendiri coba membeli paket 250 kerang seharga Rp. 25.000, yang saya bayar melalui transfer bank via BCA.


    Ini dia harga paket kerang Cabaca


    Kedua, dari sisi penulis, Cabaca memberikan kesempatan bagi para penulis yang bergabung untuk memperoleh royalti hingga enam puluh persen! Wow, ini termasuk royalti yang besar, lho! Penentuan harga pun akan ditentukan berdasarkan prestasi penulis dengan sistem yang dijanjikan lebih transparan.

    Segmen pembaca Cabaca didominasi oleh wanita (kira-kira tujuh dari sepuluh pembaca), dengan rentang usia SMA hingga 30 tahun. Pilihan genre pun beraneka ragam, tidak melulu teenlit, chicklit, ataupun romance. Kamu bisa mengirimkan karya horor, thriller, fantasi, komedi, bahkan historical!

    Cerita ini akan dipotong per bab, minimal sediakan dua belas bab dengan jumlah kata per bab kira-kira dua ribu kata. Yah, mirip seperti format web novel pada umumnya.

    Pengiriman naskah bisa dilakukan dengan mengakses tautan berikut : http://bit.ly/joinpenulisCabaca

    Masa tunggu naskah bisa sampai dua bulan, jadi bersabarlah! Editor akan memberikan kritik dan saran, terlepas naskah kita diterima atau tidak. Kalau ternyata belum beruntung, kita dapat memoles ulang naskah sesuai masukan editor lalu mengirimkannya kembali. Kemungkinan diterima jadi semakin besar, lho!

    Sebuah tips dari editor : pastikan tiga bab pertamamu menarik, karena mereka akan melihat tiga bab pertama ini, selain outline cerita secara lengkap.

    Bagaimana dengan naskah yang pernah terbit di platform lain, misalnya Wattpad?

    Jangan cemas, Cabaca memperbolehkan naskah tersebut untuk masuk. Asalkan, ketika naskah positif diterima, maka kamu harus “menurunkan” naskah dari platform tetangga tersebut.

    Wah, banyak sekali keunggulan yang ditawarkan Cabaca, ya! Pembaca dan penulis jadi sama-sama ngiler, slurp!

    Sayang sekali, ada beberapa kelemahan Cabaca yang bisa jadi masukan perbaikan di kemudian hari. Cabaca saat ini hanya dapat diakses melalui situs dan aplikasi pada perangkat Android. Bahasanya pun masih terbatas pada Bahasa Indonesia saja.

    Semoga Cabaca mampu go international dan meraih pangsa pasar lebih luas lagi di masa mendatang.

    Cabaca bisa diakses via web di http://cabaca.id

    Follow juga akun media sosialnya di 

    Instagram : @cabacaapp
    Facebook page : CabacaApp


    Oh ya, keempat mentor alias minchans dari Komunitas Penulis Cloverline (KPC) sudah berhasil memasukkan karyanya di Cabaca, lo! Saya akan tampilkan review buku-buku mereka di post berikutnya. Doakan ya supaya saya dan teman-teman dari KPC lainnya bisa mengikuti jejak keempat cikgu ini.

    Selalu ada jalan bagi mereka yang mau mencari dan berusaha. Yuk, manfaatkan kecanggihan era digital untuk membuka kesempatan kita berkarya sekaligus mengapresiasi karya sesama penulis lainnya.

    Salam membaca dan menulis asyik ala Cabaca!









    Continue Reading



    Halo, kawans!

    It’s so good to be back. Saya hari ini akan berubah lebih serius dari biasanya. Pasalnya, buku yang saya akan ulas ini memang bukan buku main-main. Kita dapat menemukan banyak informasi dan inspirasi dari curhatan seorang ibu yang merantau nun jauh di sebuah negara Eropa dari buku padat berisi ini.

    Judul buku : Groningen Mom’s JournalGenre : non fiksi, kisah inspiratif
    Penulis : Monika Oktora
    Editor : Aninta Mamoedi

    Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta
    Cetakan : 1, Januari 2018
    Tebal : 264 halaman
    ISBN : 9786020451800
    Harga : Rp. 64.800,- (Gramedia)

    -----

    BLURB

    Setelah menikah, tak lantas impian pribadi pupus. Memiliki suami dan anak sesungguhnya menambahkan satu lagi energi dan dukungan dalam hidup. Dukungan tersebutlah yang menguatkan langkah Monika untuk melanjutkan studi Master ke Benua Eropa. Keluarga kecilnya pun ikut diboyong untuk mengarungi petualangan empat musim di benua tersebut.

    Monika membagi penngalaman hidup barunya di belahan dunia yang jauh dari Indonesia dalam catatan yang merangkum pengembangan dirinya. Catatan harian ini juga membedah dari mulai kehidupan komunitas Indonesia di Groningen, strategi bertahan hidup di Belanda, strategi menempuh pendidikan di Belanda, parenting, dan juga kuliner. Sebuah panduan lengkap bagi Anda yang ingin mengenal Groningen.

    -----

    APA ISI BUKU INI?

    Groningen Mom’s Journal terdiri atas 5 bagian yang terbentang secara linimasa dari bulan Oktober 2013 hingga November 2016. Setiap bab memiliki tema tertentu yang membahas berbagai segi tentang kehidupan penulis menjalani peran sebagai student mom dan bagaimana kehidupan di Groningen (serta Belanda) itu sendiri.

    Bagian I bertajuk Jalan Menuju Groningen, mengupas latar belakang dan persiapan Monika sekeluarga hijrah ke Groningen. Ada cerita tentang dilema pengambilan keputusan, lika-liku wawancara beasiswa, dan pengalaman aplikasi visa.

    Bagian II bertajuk Life Starts When The Wind Blows, mengisahkan awal mula kehidupan Monika sekeluarga di Groningen dan bagaimana cara mereka beradaptasi. Mulai dari cuaca, pengalaman suami Monika mencari kerja, perkenalan dengan rutinitas bersepeda, belajar bahasa Belanda, mencari makanan halal, bursa barang bekas, dan upaya berbaur dengan komunitas, semua dibahas lengkap.

    Bagian III bertajuk Warna-Warni Groningen, menjabarkan lebih rinci dan luas mengenai budaya di Groningen, serta budaya Belanda pada umumnya. Di sini saya jadi tahu tentang bagaimana dinamika empat musim berbeda di Belanda, kuliner Belanda (termasuk kebiasaan ngopi), apa yang menarik dari kota Groningen, kebiasaan masyarakat Belanda, sampai fenomena yang bikin saya merinding tentang bunuh diri di rel kereta.

    Bagian IV bertajuk Cerita Runa, secara pribadi dan khusus, menyorot kehidupan Runa, putri pertama Monika. Berbagai pengetahuan baru saya serap mengenai sistem pendidikan anak di Belanda. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah keharusan penguasaan keterampilan berenang yang sampai harus menempuh ujian khusus.

    Bagian V bertajuk Being Student Mom, menjadi penutup yang manis dan sempurna. Bagian ini tidak hanya peru dibaca bagi mereka yang hendak studi ke Belanda. Namun, siapapun yang sedang mengalami kondisi sama dengan Monika, misalnya ibu dan wanita menikah yang galau membagi kehidupan merantau, belajar, sambil mengurus keluarga.

    Setiap cerita memiliki bagian yang menjadi highlight, misalnya trivia atau tips yang patut kamu baca lebih cermat untuk mendapatkan informasi terpentingnya. Ada pula beberapa kutipan inspiratif yang tersebar di beberapa akhir cerita. Tentu saja, semacam memberi kesimpulan yang bermakna atas apa yang sudah dibahas dalam cerita tersebut.

    -----

    KESAN SAYA TERHADAP BUKU INI

    Koleksi buku fiksi saya termasuk tidak banyak dan biasanya butuh waktu lama untuk saya menamatkan buku non fiksi. Biasanya, buku-buku non fiksi membuat saya bosan di dua bab pertama, atau saya memilih untuk membaca acak, tidak urut dari awal buku sampai akhir.

    Groningen Mom’s Journal mematahkan semua kebiasaan buruk saya saat membaca buku fiksi. Saya menamatkan buku ini dalam sekali baca. Lalu, saya mengulang lagi beberapa cerita yang benar-benar membekas di hati.

    Rangkaian cerita yang disampaikan Monika benar-benar memiliki alur yang mulus. Saya jadi penasaran untuk terus melanjutkan membaca, sampai ternyata tidak terasa saya sudah sampai di akhir buku.

    Monika yang saya ketahui sempat mengikuti kelas menulis sebelum menyusun buku ini, ternyata benar-benar mengemas kisah-kisah yang selama ini mengisi blog-nya menjadi satu kesatuan kisah inspiratif. Hal ini yang tidak selalu dimiliki oleh penulis non fiksi.

    Saya merasakan betul bagaimana naik-turunnya emosi Monika. Mulai dari ragu, senang, takut, cemas, terpukau, prihatin, sampai rindu; seluruhnya tergambar jelas dalam pilihan kata-kata sederhana yang jujur dan tulus.

    Poin terpenting, saya merasa sama sekali tidak digurui oleh Monika di buku ini. Gaya bahasa yang digunakan cukup mudah diterima oleh pembaca dengan diksi yang tidak rumit. Secara tata bahasa, penyuntingan pun sudah termasuk rapi tanpa typo yang jelas mengganggu ataupun kalimat tak efektif.

    Kalaupun ada yang perlu diperbaiki di buku ini adalah foto-foto pelengkap yang tidak seluruhnya terlihat jelas. Namun, foto berwarna berarti akan menambah bandrol harga di buku ini dan tentu tidak bijaksana untuk meraih pangsa pasar pembaca. Mungkin ke depannya, penulis dan editor bisa selektif lagi memilih foto, khususnya yang menampilkan wajah, supaya lebih jelas saat tercetak.

    Semoga semakin banyak buku seperti ini yang bisa memberi gambaran tentang kehidupan merantau di luar negeri. Tentu saja, dengan penyajian yang bersahaja, namun mengena.

    -----

    KUTIPAN-KUTIPAN

    “Cita-cita saya juga adalah cita-cita suami, begitu pun sebaliknya, irama kaki kami sejalan, meski satu-satu. Bukankah itu yang diinginkan dalam rumah tangga?” (hal. 19)

    “Tetaplah kayuh sepedamu, karena pada akhirnya, kamu akan sampai juga di tujuan (dengan selamat, insya Allah).” (hal. 64)

    “Bagaimana bisa bekerja dengan baik kalau untuk bisa hadir tepat waktu saya susah. Kalau tidak berubah untuk menjadi disiplin, bisa-bisa dijajah lagi oleh kompeni di negaranya sendiri. Saya sih jelas tidak mau.” (hal. 119)

    “Belajar berenang di negara yang daratannya lebih rendah daripada lautannya adalah harga mati.” (hal. 209).

    “Yang saya yakini, menjadi mahasiswa dulu dan kini tugasnya masih sama, yaitu belajar. Belajar yang saya maksud bukan hanya belajar teori di kelas, tetapi juga belajar “hidup”.” (hal. 225)

    -----


    Untuk Groningen Mom’s Journal, saya memberikan nilai




    8 out of 10 stars!




    I really recommend this book to be a part of your collection!







    Continue Reading


    Halo kawans!

    Maaf ya saya hilang lama dari peredaran. Ada kelas menulis fiksi yang harus saya jalani dan kesibukan di sebuah komunitas online baru. Belum lagi badan remuk gara-gara nyeri bulanan yang menghebat, huft! Jadi, walaupun udah planning mau nulis apa, begitu di depan laptop, buyar aja gitu tenaga dan niat menulis.

    But, now I’m back!

    😎😎😎

    Saya akan mengulas sebuah buku anak. Tapi ini bukan sembarang buku, lo! Buku ini adalah buku Islami pertama yang sukses bikin saya mewek! Bahkan buku-buku agama yang bahasanya penuh untaian bunga surga, biasanya sukses bikin saya menguap.



    Nah, penasaran? Apa istimewanya buku ini? Kita simak dulu data bukunya.



    -----

    Judul buku : Allah Selalu Ada Untukku
    Jenis buku : cerita bergambar (cergam)
    Genre : Anak, Religi, Non fiksi
    Penulis dan Ilustrator : Amalia Kartika Sari
    Tebal : 48 halaman (full color)
    Penerbit : The Gang of Fur Books, Bandung
    Cetakan : 1, 2017
    Target usia pembaca : 3-5 tahun
    Harga : Rp. 90.000 (lewat PO) / Rp. 98.500 (ready stock)

    -----


    BLURP



    Lihatlah di sekelilingmu, betapa banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan jari-jari kecilmu.
    Dari mana ya datangnya?

    Orang tua dan keluarga yang sayang padamu, bumi yang luas, laut yang dalam, dan langit yang berhias gemerlap bintang. Siapa ya yang  menciptakan dan mengatur semuanya?

    Siapa Yang Mengabulkan doamu?
    Siapa Yang Mengetahui setiap perasaanmu?
    Siapa Yang selalu ada untukmu, menjaga, memelihara, melihatmu setiap waktu di mana pun kamu berada?

    Hanya Allah, Rabb yang satu, tak ada yang lain yang mampu melakukan semua itu.

    -----

    ULASAN

    Saya termasuk orang yang mengenal buku-buku TheGang of Fur (TGOF) Books sejak awal pertama mereka mengeluarkan buku Allah Ciptakan Tubuhku (ACT). Waktu itu, saya iseng melihat penawaran dari sang penulis dan ilustrator berbakar, Amalia Kartika Sari (atau akrab disebut Mamamel) di grup emak-emak alumni kampus.

    Ternyata, di luar dugaan, buku ACT ini booming! Sebanyak 10.500 eksemplar ACT ludes di edisi perdananya, luar biasa! Setelah itu, TGOF mengeluarkan tiga board book yang temanya pembelajaran dasar : abjad, angka, dan mengenal Islam. Ada pula buku jurnal syukur untuk anak dan ibu. Namun, saya melihat kesuksesan seri board book anak ini belum menandingi ACT.

    Hingga di penghujung 2017, dibukalah pre order (PO) buku sekuel ACT : Allah Selalu Ada Untukku (ASAU). Buku ini seperti ACT, termasuk dalam seri Allah Sayang Padaku. Dibuat dengan halaman matte full color dan sampul hard cover, buku ini menyasar anak usia prasekolah (3-5 tahun), walaupun bisa juga dibaca anak usia sedikit di atasnya (6-7 tahun).

    Apa yang membuat buku 48 halaman ini begitu menarik?

    Pertama, tentu ilustrasinya. Mamamel adalah ilustrator berbakat dengan gaya menggambar yang sangat khas. Gambarnya cute dan campuran warna yang digunakan memikat mata. Saya melihat ciri khas ilustrasinya yang sangat feminin. Emak-emak pasti suka, deh! Misalnya, ornamen-ornamen hati, bunga, sulur-sulur, cantik khas shabby chic masa kini.

    Cara Mamamel menggambarkan berbagai isi alam semesta juga menarik bagi anak-anak. Favorit Aryo dan Nara, dua jagoan cilik saya, adalah pemandangan dalam laut. Mereka akan menyebutkan makhluk penghuni laut dengan antusias dan lama-lama berebutan, berdebat seru (seperti biasa!).



    Kedua, cakupan topik yang dibahas dalam buku ASAU ini begitu beragam. Inti dari buku ASAU ini adalah mengupas apa saja sih hal-hal dalam hidup yang patut kita syukuri? Terus, kita disadarkan bahwa dalam kondisi apapun, Allah SWT selalu hadir memberikan rahmat-Nya untuk kita.

    Kata-kata yang digunakan dalam penceritaan tergolong sederhana. Tetapi, bagi saya, kesederhanaan ini jadi terasa tulus banget. Benar-benar mirip suara lembut seorang ayah atau ibu yang menasihati anaknya dengan kisah sebelum tidur. Nancep!

    Bagian yang paling membuat saya nyesss di hati (dan di mata!) adalah tentang keluarga. 



    Saya tertampar banget. Malu rasanya, saya masih suka mengeluh dengan tanggung jawab sebagai seorang mama. Padahal, menjadi orang tua dari Aryo dan Nara adalah sebuah anugerah. Saya yang spesial dipilih untuk mengandung, melahirkan, dan membesarkan mereka.

    Menyesal seubun-ubun berasa ibu paling durhaka sedunia.

    😭😭😭

    Bagian favorit saya lainnya adalah emosi. Banyak emosi yang diperkenalkan dengan gambar ekspresi yang lucu, bukan hanya emosi standar seperti bahagia, sedih, dan marah saja.



    Perlu alasan lagi buat beli dan baca buku ASAU? Keburu ludes di pasaran, Jon! Pesanan batch pertama saja sudah terbeli sejumlah 15.000 eksemplar. Sekarang ada PO waiting list batch 2 pun hanya dibatasi 3.000 eksemplar saja. Buruan, jangan kelamaan galau!

    Buku ASAU ini memang hanya tersedia online dengan harga yang cukup mahal, Rp. 90.000 jika ikut PO dan Rp. 98.500 untuk ready stock. Namun, saya sangat maklum dengan penghargaan terhadap ide dan kerja keras Mamamel menghasilkan buku sekeren ini.

    Plus, mencetak buku full color seperti ini tentu tingkat kesulitannya sangat tinggi. Saya lihat di Indonesia, belum ada buku yang sejajar soal ilustrasi berkualitas premium ini dengan harga masih di bawah Rp. 100.000,-

    Sejauh ini, buku-buku The Gang of Fur masih jadi peringkat pertama untuk buku anak lokal di hati saya.

    💖💖💖

    So, I proudly announce my final verdict :



    10 out of 10 stars!




    Continue Reading
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top