Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • Halo, Kawans!

    Bagaimana kamu memperingati Hari Kemerdekaan kemarin? Apakah kamu ikut lomba-lomba seru di kompleks atau kantor? Apakah kamu ngedumel karena harus bangun pagi di tanggal merah untuk ikut upacara? Atau apakah kamu terpukau sama prosesi upacara di Istana Merdeka yang ditayangkan di televisi?

    Bagaimanapun caramu merayakan hari jadi negara kita yang ke-73, semoga apa yang kamu lakukan adalah sebuah penghargaan atas kemerdekaan yang patut disyukuri.

    Saya sendiri membuat sebuah langkah spontan yang semoga bisa membawa manfaat bagi negeri ini, khususnya bagi kaum wanita.

    Berawal dari sebuah Facebook post di laman mentor menulis saya, Mak Hanny Dewanti yang baru saya baca kemarin pagi. Mak Oney – begitu ia akrab dipanggil – menyoroti sebuah kejadian yang sontak membuat saya geram sekaligus miris.


    Kisah ini menimpa salah satu novelis populer Indonesia, Ika Natassa. Saya memang bukan penggemar karyanya, namun tetap saja ini tidak membuat saya membenarkan apa terjadi padanya. Ada seseorang (anonim pula) yang menyinggung mengenai Ika yang dicela “fisiknya tidak secantik tokoh fiksi yang ditulisnya”. Saya masukin ya gambarnya di sini, diambil dari Facebook post Mak Oney, yang ternyata screenshot dari Instagram story Ika Natassa.





    Amarah dan kekecewaan saya membuncah. Jujur saja, dengan kemerdekaan yang sudah kita miliki lebih dari tujuh dekade, ternyata wanita Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari stigma dan penghakiman orang lain. Pahitnya, orang lain itu adalah sesama wanita.

    Saya sontak pula teringat salah satu buku non fiksi terbaik yang saya baca tahun ini, Imperfect karya Meira Anastasia. Buku ini mengangkat tentang perjuangan Meira membangun kepercayaan diri dan positive body image setelah mengalami body shaming, baik di masa lalu hingga masa kini. Sebagai istri Ernest Prakasa, Meira sering mendapatkan cemoohan dari netizen maha benar yang berekspektasi konyol “seharusnya istri Ernest bisa lebih menarik dipandang mata”.

    Saya rekomen banget baca buku ini supaya kamu juga dapat pandangan lebih luas mengapa body shaming ini hama yang harus diberantas!

    Well, saya sendiri juga mengalami body shaming sejak kecil sampai sekarang. Mungkin kamu juga mengalami hal yang sama.

    Saya dulu kurus banget, dengan nafsu makan luar biasa. Jadilah dituding cacingan, bulimia, you name it. Begitu kuliah, badan saya bisa lebih berisi, langsung dituding di bagian perut buncit. Sekarang, karena perut saya masih saja membusung, suka sebel kalau dikira hamil. Begitu tahu saya enggak hamil, eh jadi dikomentarin masalah perut, hedehhhh!

    Dan saya kemarin spontan menyadari, awal body shaming sering banget datang dari kalimat pembuka percakapan yang niatnya basa basi, tetapi malah jadi BASI beneran.

    “Eh, kamu kok kurus banget sih?”
    “Kamu gemukan ya?”
    “Jarang olahraga ya? Buncit dan gombyor banget badan.”
    “Kok udah lama lahirannya, masih gede aja badannya?”

    *OTOMATIS BERUBAH HIJAU, BESAR, DAN KEKAR KAYA HULK*


    via GIPHY


    Jadi, kemarin saya – dengan kemampuan desain pas-pasan dan bermodal Canva – langsung membuat sebuah gerakan sederhana. Namanya #STOPbasabasibodi, tagline-nya Mari mulai bicara, tanpa mencela raga. Tujuannya, saya ingin mengajak kita bikin percakapan bermutu, dimulai dari opening line yang enggak menyinggung fisik lawan bicara.



    Frankly speaking, mencela fisik seseorang sering dianggap sebagai lelucon yang menyenangkan. Makanya cela-celaan fisik masih jadi salah satu bahan lawakan yang digemari di Indonesia. Padahal, kata-kata yang awalnya kita lontarkan dalam konteks bercanda, rupanya bisa membekas bagi mereka yang mendengarnya.

    Curcol lagi, saya sempat sebal sama kacamata. Gara-gara sering dihina “mata empat” dan dibilang kacamata bikin saya makin culun, saya dulu gemes banget pengin buru-buru pakai lensa kontak. Akhirnya, saya jadi pemakai lensa kontak sejak tingkat 3 kuliah. Awalnya karena kacamata saya retak dan kacanya nyaris masuk mata waktu tanding basket. Kemudian, si kacamata lama-lama suka ganggu kalau saya praktikum di lab (suka berembun karena keringat).

    Tapi, setelah melahirkan, saya kembali lebih nyaman pakai kacamata sampai sekarang. Ya sudahlah, toh yang membuat saya terlihat menarik bukan melulu dari pakai kacamata atau tidak, tetapi masih banyak faktor lain, misalnya senyum, kulit terawat (pe-er buat rajin skinkeran), muka segar karena cukup istirahat, dan tentu saja bahagia secara batin juga bakal bikin saya lebih bersinar.

    Nah, enggak semua orang punya kesempatan untuk langsung tercerahkan. Membangun positive body image itu memang penting. Namun, tak kalah penting pula bagi kita untuk membantu orang lain memahami dirinya berharga dengan tidak menjatuhkan rasa percaya dirinya.

    repeat the mantra!
    pic : popsugar


    Saya sudah post tentang #STOPbasabasibodi ini di akun Facebook dan Instagram saya. Silakan banget buat share dan repost supaya lebih banyak lagi wanita tahu serta terinspirasi untuk menciptakan hari yang lebih baik.

    Post di Facebook
    Post di Instagram

    Seandainya kamu ingin ikut serta mendukung gerakan ini, kamu bisa kirim DM di Facebook, Instagram, atau e-mail saya, ya! Semakin banyak yang mendukung, semakin cepat dan mudah pula pesan positif ini tersebar serta tersampaikan kepada jutaan wanita Indonesia.

    Your body loves you, love it back! Semoga kita bisa selalu menghargai tubuh ini dan juga menghargai tubuh orang lain. Bikin hari dan dunia ini lebih menyenangkan, yuk!




    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Kembali lagi menulis, kali ini saya akan mengulas sebuah buku, tetapi EHM, posting ini sekaligus nyelipin misi lain. MISI BANG, MISI OM, MISI TEH, MAU KENALIN BUKU ANTOLOGI SAYA *garing mode on*

    Oke, kita mulai dulu dengan basa-basi data buku. Lesgo kemon, Beibeh!

    -----

    Judul Buku : Flashes of Life – 99 Cerita Hidup dan Kematian
    Genre : flash fiction, kumpulan cerita
    Penulis : Carolina Ratri, Winda Reds, Aimee KK, dkk.
    Penerbit : Stiletto Indie Book, Yogyakarta
    Tahun terbit : 2018
    Jumlah halaman : 229 halaman
    ISBN : 978-602-336-701-6

    -----

    BLURB

    Setiap manusia akan melewati berbagai tahapan dalam hidupnya; lahir menjadi anak-anak dan tumbuh menjadi remaja. Saat ia mencari cinta, saat ia menemukan cinta, saat akhirnya ia melabuhkan cinta.

    Kemudian ia akan melanjutkan hidupnya lagi saat sudah hidup bersama orang-orang yang dicintainya, bagaimana ia harus menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Dan, saat ia menjelang akhir perjalanannya, hingga akhirnya, semua benar-benar berakhir. Berakhir, dan manusia itu pulang. Pada-Nya yang telah memberikan hidup.

    Inilah kisah-kisah mereka.

    -----

    ABOUT THE BOOK





    Flashes of Life merangkum sembilan tahapan kehidupan sebagai bab-bab penceritaan, yaitu :

    1. Anak dan remaja
    2. Jomlo
    3. Jatuh cinta
    4. Menikah
    5. Keluarga
    6. Profesi
    7. Ulang Tahun Perkawinan
    8. Kakek Nenek
    9. Kematian

    Tiap bab memuat sebelas cerita, jadi total ada sekutu alias Seratus Kurang Satu hehehe, sembilan puluh sembilan cerita dalam satu buku! Jumlah kata per cerita tidak lebih dari tiga ratus, jadi cocok banget buat snack reading.

    Buat yang belum tahu, apa itu flash fiction, cek dulu deh penjelasan Carolina Ratri alias Mak Carra, sang pemimpin proyek menulis ini di blog-nya.

    Baca dulu : FlashFiction - Salah Satu Cara Latihan Menulis Efektif Dan Kreatif


    Buku Flashes of Life juga menyisipkan bonus sembilan tips menulis flash fiction, siapa tahu kamu mau coba ikut praktik menulis flash fiction selesai membaca buku ini.

    Apa keistimewaan dari buku Flashes of Life lainnya?

    Tiga puluh penulis berkontribusi dalam buku ini, semuanya wanita! Tapi, bukan berarti ceritanya penuh kelembutan dan mendayu-dayu. Berbagai genre disajikan, mulai dari romansa, drama, komedi, bahkan thriller dan horor! Ini dia wajah-wajah pejuang pena di balik buku Flashes of Life.



    Naskah-naskah yang masuk sudah melewati seleksi dan suntingan dari sang master flash fiction, Mak Carra. Saya sendiri mendapat kehormatan jadi asisten proyek menulis ini, setelah saya berhasil memenangkan kontes flash fiction #PestaFiksi07 tema romansa yang diadakan oleh Mak Carra di blog-nya. Cerita “Magenta dan Kelabu” yang saya tulis berhasil unggul waktu itu.

    Baca di sini : Magenta dan Kelabu


    Mak Carra pun menggandeng saya ikutan proyek menulis keren ini dan ikut membantu proses pengumpulan naskah, promosi, serta banyak printilan lain. Saya bersyukur banget karena banyak belajar tentang menerbitkan buku indie lewat proyek Flashes of Life ini.

    Total, saya menempatkan sebelas cerita dalam buku Flashes of Life dan tersebar di semua bab yang ada. Ini beberapa kutipan cerita yang ada, saya menulis beberapa genre mulai dari romansa, drama, komedi, dan thriller. Untuk genre horor, saya masih belum berani, di sini anaknya cemen bet deh ah!





    Buku ini jadi penanda keberanian saya untuk mempublikasikan karya dengan lebih masif. Memang, waktu menulis naskah-naskah ini tahun lalu, saya belum mengikuti kelas menulis apa pun. Namun, saya merasakan waktu membuat cerita-cerita ini, ada kebebasan berekspresi tersendiri, meskipun dari segi teknis masih perlu polesan (jujur banget sih saya yaaa hahaha!).

    Kalau ditanya, cerita mana jagoan saya? Saya tentu saja bakal merekomendasikan cerita-ceritanya Mak Carra, dengan level mastah yang jauh di atas! Mak Carra ini bisa banget bikin cerita dengan dialog mengalir dan puntiran (twist) nendang! Sampai ternganga bacanya, apalagi idenya pun sering tak biasa.

    Penulis lain yang juga bikin saya terkagum-kagum adalah Marina Yudhitia dan Nani Nurhasanah. Marina tergolong penulis dengan teknik yang rapi. Enggak heran sih, soalnya Mayin ini emang jebolan kelas cerpen dari Kompas, ciamik lah! Kalau Mbak Nani, saya suka dengan kesederhanaan ide cerita yang bisa ia kemas apik, menarik, dan tidak klise. Menyenangkan banget, ibarat menyantap masakan Ibunda yang tidak “wah”, tetapi membekas kuat dalam ingatan.

    Cover dan layout buku ini dikerjakan sendiri oleh Mak Carra. Saya senang sekali dengan ilustrasi khasnya dan pemilihan warna hijau pada sampul yang begitu segar. Buku ini jadinya catchy dan ketika dibuka dalamnya pun menyenangkan bagi mata yang membacanya.



    Overall, Flashes of Life menyampaikan banyak sekali pesan kehidupan. Ada sisi-sisi gelap yang sering kita abaikan dan tutup mata ketika menemuinya. Selesai menutup buku ini, semoga kamu bisa berpikir lebih dalam bagaimana memaknai hidup dan membuatnya lebih bermanfaat, bukan hanya sebagai perjalanan ala kadarnya belaka.

    Khusus ulasan hari ini, saya tidak akan memberikan skor penilaian. Sebagai gantinya, saya akan memberitahukan ada jadwal book tour Flashes of Life di beberapa akun bookstagrammer dan book blogger.



    Kami pun sedang membuka pre-order tahap kedua untuk buku Flashes of Life. 



    Buku ini dibandrol harga Rp. 54.000,- saja dan akan siap di akhir Agustus. Pengiriman akan dilakukan dari kota Yogyakarta menggunakan ekspedisi Pos Indonesia.

    Order dilakukan via WhatsApp ke nomor berikut :
    Pulau Jawa : 0813-1858-5403
    Luar Jawa : 0812-1911-6312

    Selesai periode tersebut, kamu tetap bisa memesan langsung ke Stiletto Indie Book berikut ini
    http://www.stilettobook.com/flashes-of-life.html

    Info lengkapnya, bisa follow akun Instagram flashesoflife.book di
    https://www.instagram.com/flashesoflife.book/

    Semoga saya bisa segera menyusul menerbitkan novel solo, ya! Tahun ini biarlah Flashes of Life menjadi highlight pencapaian saya di separuh awal 2018. Ditunggu pesananmu, Kawans! Rasakan pengalaman berbeda membaca kumpulan cerita yang istimewa.

    Bab mana yang kira-kira paling menarik perhatianmu? Cerita di kolom Komentar, yuks!





    foto-foto: dok. flashesoflife.book

    Continue Reading


    Halo, Kawans!

    Masih aroma Lebaran dan kue-kue pun masih belum ludes di stoplesnya, saya mau ucapin

    Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin, ya!

    Lebaran bikin jari-jari saya lumayan kaku nih buat ngetik. Plus, mata dan bodi maunya rebahan melulu di kasur hahaha #EmangMalesAje. Saya sekarang lagi rajin main Twitter lagi, setelah lama dianggurin. Nah, salah satu hestek yang menarik, saya temukan namanya #PacaranJamanDulu.

    Saya jadi punya ide buat bahas dari sisi anak 90’s, gimana sih waktu kita naksir, jatuh cinta, dan pacaran di era 90-an? Pastinya jauh beda ya sama Generasi Micin Pengabdi Tiktok masa kini, ye kaaan?

    Asti udah bahas duluan tentang cara pedekate ala anak 90-an. Nah, saya mau nambahin deh, tentang hadiah-hadiah apa sih yang biasa dikasih buat meluluhkan si pujaan hati.

    Sebelumnya, sepuluh kilas info (saking banyaknya ini informasi hahaha) dulu. Selama tahun 90-an (masa SD, SMP, SMA saya, tepatnya), saya sama sekali enggak pernah ngerasain jadian alias pacaran. Tapi, soal naksir-naksiran, lumayan lah bisa dibilang veteran (ini kudu bangga atau ngenes yak?).

    Baca juga : Kenangan Sekolah 90-an


    Pertama kali saya suka sama cowok itu kelas 4 SD. Cowoknya tetangga dan udah SMA! Ebuset ya, saya demennya sama yang umurnya jauh di atas. Monmaap, emang yang lebih mateng itu lebih menggoda *ditimpukin kolor melar babeh*

    Selanjutnya sih, saya seringnya suka sama kakak kelas. Favorit saya yang tipenya sporty dan bad boy. Standar yaaaa! Jocks always stole our hearts. Ada pula momen super malu-maluin, tapi yowis buka kartu aja deh sekarang, udah tua ini dah.

    EHM...

    Jadi, saya dulu ini cupu berat, mengarah ke malu-maluin. Pokoknya, I don’t think I’m pretty apalagi gaul, wedeh kagak banget! Udah gitu selera saya mencong banget dari selera dan hobi cewek kebanyakan. Sekarang sih kelihatannya keren, dulu boro-boro mikir begitu. Pikir saya, mana ada cowok mau sama cewek yang doyannya begadang main CM (game manajer bola) dan becandaannya modelan Komeng plus Kasino Warkop?


    via GIPHY

    Nah, sebenernya saya ini masih normal dalam selera cowok. Mata saya pasti nilai cowok dari kemasan luar dulu. Cuma, dasar gengsi kampret, saya pura-pura deh suka sama cowok yang idem cupunya. Alasannya? Demi enggak digencet kakak kelas geng Queen Bee.

    Maklum, apalagi pas SMP, saya clash dengan geng Queen Bee ini gara-gara dipandang nyolot atau berani menyuarakan vokal dengan gaya menantang. Yah, saya emang anti banget sama bullying dan senioritas, yang sialnya kental banget di sekolah saya dulu.

    Jadi, makin parno dong, kalo ketahuan suka sama cowok-cowok populer juga, abis lah hidup damai ini. Dengan sangat menyesal, saya turunin deh harga diri dengan (pura-pura) suka sama cowok yang ancur, seancur-ancurnya!


    via GIPHY

    Sandiwara sih sandiwara yaaaa! Padahal nih diem-diem saya suka teleponin beberapa cowok populer. Pretending to be a mysterious girl. Tentu saja, enggak diumbar-umbar deh ke temen satu sekolah. Edan, mau ditaruh di mana muka ini, ketahuan kecentilan begitu hahaha!

    Yang tahu palingan temen-temen saya beda sekolah. Soalnya mereka suka ikutan nimbrung juga. Hidup suara misteri!

    Kalo ada temen-temen SMP dan SMA saya yang baca ini, selamat Anda baru saja tertipu dalam sejarah pertemanan dengan saya. *ngumpet di balik gerobak mie ayam*

    Cukup ya pembukaan penuh aib masa lalu ini. Jangan tanya siapa aja cowoknya, urang ge era! 


    via GIPHY

    Yang bakal saya share di sini adalah beberapa hadiah yang saya pernah kasih ke cowok-cowok gebetan. Hadiah-hadiah ini es-te-de pada zamannya, tapi masih membekas banget sampai sekarang. Apa saja sih kado buat si pujaan hati era 90-an?


    1. Salam lewat DUDU
    Wahai kamu yang naksir tapi masih malu-malu kucing garong kebelet kawin, titipin salam lewat saluran ini emang paling bener. Entah di majalah dinding (mading) atau di majalah cetak sekolah, rubrik DUDU alias Dari, Untuk, Dengan Ucapan ini selalu diserbu. Sebagai mantan anggota redaksi majalah sekolah, lumayan deh nyortirin DUDU ini dan tak lupa saya ikut nyelipin juga dong! Kagak mau rugi hahaha.

    DUDU di mading
    Pic : says.com

    Lumayan deh buat bikin deg-degan kalau nemuin ada salam nyempil buat kita dari someone. Entah siapa itu yang nitipin salam, apakah si gebetan atau cowok mesum yang bikin kita ilfil saking ngejar-ngejar melulu hehehe.


    2. Request lagu di radio
    Prestasi terbesar dalam usaha mengumumkan pada dunia, betapa kita sedang jatuh cinta adalah dengan kirim request lagu ke radio anak muda paling hits! Waktu zaman saya dulu, tentu saja Prambors Jakarta jawabannya. Dan berhubung ponsel belum ada, apalagi media sosial, jadi kita bergantung sama telepon rumah. Kalau niat lebih, kirim pesan via fax di kantor bokap atau wartel.
    Pilihin lagu kesukaan si gebetan, disertai salam manis. Lebih kece lagi kalau request-nya on air. Beuhhh, berasa jadi yang paling keren sedunia dan yang lain cuma penari latar doang!


    via GIPHY

    Kadang, saking isengnya, saya suka memantau juga acara request. Siapa tahu ada anak sekolah saya yang ke-gap ngirim salam di acara malem-malem. Dipikir udah enggak ada yang denger kali ya, padahal ada kuncen radio masih nangkring!


    3. Cokelat Silverqueen dan Toblerone
    Enggak harus nunggu Valentine’s Day, kalau ada orang yang ngasih kita cokelat, itu pertanda kita begitu dicintai dan digilai. Dua cokelat yang biasanya jadi patokan adalah Silverqueen dan Toblerone. Ngasih Choki-choki atau Cokelat Jago? Siap-siap aja dijutekin. Lain soal sih kalau kasihnya Ferrero Rocher, mata langsung ijo hehehe.

    Cokelat Toblerone yang sekarang bentuknya beda dari versi 90-an
    Pic : Feedme.id

    Cokelat ini juga sering jadi bahan kerjaan para senior ngehek pas Ospek. Udahlah kudu beli cokelat, kudu bikin surat cinta, orangnya juga kagak kenal, dan ujung-ujungnya diketawain panitia, plus cokelatnya dimakan rame-rame. Ahelah seratus juta kutu kupret pokoknya!

    Ospek alias MOS yang bikin GMZ
    Pic : Hipwee
    Saya ada pengalaman nyebelin nih. Pernah mau ngasih cokelat Silverqueen buat cowok yang saya suka, Si Kakak Tetangga yang Udah SMA itu lho. Nah, nitipin dong sama temen. Tahunya, itu cokelat malah diembat doi! Dan baru ngomong sebulan kemudian! 

    Pas tahu cokelat buat gebetan malah diembat temen yang dititipin itu rasanya ...
    Pic : Line Today

    Ngenes inget sisihan duit jajan, mending dipakai buat beli Chiki dan ngelengkapin koleksi Tazos kan?

    Baca juga : Lima Hobi 90’s Winda



    4. Mixtape
    Tahu apa selera musik gebetan, biasanya dapat nilai plus. Senjata utama tentu saja, kita bikinin mixtape, yaitu kaset rekaman kompilasi lagu-lagu favorit. Biasanya lagu-lagu ini satu tema dan lebih kece lagi kalau menyiratkan pesan isi hati kita, eciyeh!


    via GIPHY

    Rekaman ini bisa dibuat dengan ngerekam dari kaset artisnya langsung (pembajak, woi!) atau ngambil dari siaran radio. Biasanya, saya cari di radio yang jarang ada penyiar cuap-cuap heboh. Andalan saya, Radio Sonora, walaupun kudu waspada sama semacam time reminder per setengah jam yang suka motong lagu.
    Saya pernah nih bikin mixtape ini buat cowok tetangga lainnya pas SMP. Dia penggemar brit rock, jadi saya rekamin lagu-lagu Oasis, Suede, dan sebagainya.

    Baca juga : British Invasion Rockin’ the 90’s Music Scene

    Plus, saya bikinin juga semacam buklet isi lirik lagunya. Jangan tanya perjuangan saya cari itu lirik. Mulai dari ngais-ngais minjem CD, berburu di majalah MBS, sampai dengerin sendiri.
    Hasilnya? Pas nganterin itu kado, si cowok lagi disamperin sama pacarnya! Sedap, yak? *ngorek-ngorek tanah bareng ayam Pak Erte*
    Demikian adanya :(
    Pic : Line Today


    5. Dinyanyiin pakai gitar via telepon
    Bisa genjrang genjreng gitar sambil nyanyi, jelas jadi standar pergaulan masa 90-an. Bermodalkan majalah MBS, biasanya pada menjelma deh jadi musisi dadakan. Buat yang hopeless buat request ke radio atau ogah ribet bikin mixtape, pilihan jatuh ke hadiah ini : nyanyiin aja lewat telepon!


    via GIPHY

    Saya pernah nih kejatuhan rezeki dikasih hadiah ini sama seorang cowok. Masih inget, lagu yang dia nyanyiin adalah Kasih Jangan Kau Pergi dari band Bunga (alm. Galang Rambu Anarki yang gantengnya kebangetan itu lho!). Lagu ini sangat hits kira-kira pas masa akhir SMP saya.



    Rasanya melayang sampai ke genteng tetangga pas dinyanyiin lagu ini lewat telepon lengkap dengan iringan gitar akustik. Yang mana kalo dipikir dan diinget lagi, itu suara ke mana, melodi gitar ke mana pula hahaha. Susah sih kalau lagi kasmaran. Suara Mandra pun kedengeran kaya Liam Gallagher dah!

    Baca juga : Grup Pop 90’s Indonesia

    Siapa yang menyanyikan? Biarkan saya dan kabel telepon saja yang tahu. Pastinya sih bukan cowok dari satu sekolah dan akhirnya pun kita enggak jadian. *sok misterius*


    Yak, itulah daftar hadiah sekaligus bonus bongkar aib jomlo mletek saya di masa remaja. Kamu sendiri, ada enggak pengalaman Jatuh Cinta Masa 90-an yang susah dilupakan? Share atuh di kolom Komentar, siapa tahu kita bisa berbagi memori dan derita barengan, yes!




    Continue Reading



    Ole ole ole! Selamat datang para gibol alias penggila bola!

    Menyambut Piala Dunia 2018 di Rusia, ajang sepak bola terbesar dunia yang digelar oleh Federasi Sepak bola Internasional atau FIFA akan berlangsung beberapa hari lagi, Back to the 90’s Battle juga akan membahas tema serupa. Bagaimana Piala Dunia di era 90-an meninggalkan kesan mendalam bagi saya dan Asti.

    Saya menonton bola sejak masuk SD. Awalnya, saya curi-curi di balik kursi (alm.) Papa. Beliau adalah penggemar timnas Jerman (dahulu disebut Jerman Barat). Saya sih waktu itu enggak ngerti soal bela-belaan tim mana. Pokoknya seru aja melihat bola yang diperebutkan. Si pemain bahkan seperti menari melewati lawan, menjegal dengan tekel, atau aksi dramatik penyelamatan oleh sang kiper.

    Selama dekade 90-an, tercatat ada tiga Piala Dunia yang digelar.

    Pertama, Piala Dunia tahun 1990 di Italia. Tim Panser, Jerman Barat, berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Tim Tango, Argentina di final.

    pic : gameofthepeople

    Jerman Barat - Juara Piala Dunia 1990
    pic : telegraph.co.uk


    Kedua, Piala Dunia tahun 1994, diselenggarakan di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Brasil menjadi tim terkuat setelah menyingkirkan Squadra Azzura, Italia, melalui drama adu penalti.

    pic countlessclassics


    Brasil - Juara Piala Dunia 1994
    pic : soccerfootballwhaever.blogspot


    Ketiga, Piala Dunia 1998 kembali digelar di Benua Biru, Eropa, tepatnya di Perancis. Sang tuan rumah secara mengejutkan berhasil menjegal juara bertahan Brasil di partai final.

    pic : youtube


    Perancis - Juara Piala Dunia 1998
    pic : fifa.com


    Banyak hal yang bisa diulik dari setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Entah bagaimana setiap skuad saling berjuang, baik secara fair maupun memakai intrik, menuju supremasi tertinggi dan mengangkat piala tertinggi sepak bola internasional di atas podium.

    Kali ini, saya akan membahas para pemain yang berkesan di hati dari ketiga Piala Dunia FIFA era 90-an. Bukan selalu mereka yang terjago di lapangan hijau. Namun, ada keistimewaan yang membuat mereka begitu melekat dalam ingatan.

    Terbagi dalam lima kategori, ini dia sepuluh pemain yang mencuri perhatian di Piala Dunia era 90-an.



    1. Selebrasi Tiada Dua

    Setiap berhasil melesakkan bola ke gawang lawan, pastilah tak lengkap jika sang pencetak gol melenggang tanpa perayaan. Banyak gaya ditampilkan oleh para pemain sebagai bagian dari selebrasi. Baik sendirian, maupun bersama rekan-rekan satu tim yang ikut berjuang. Namun, dua orang ini yang paling fenomenal menurut saya.

    Roger Milla
    Tua tua keladi, ini julukan yang tepat disematkan kepada old man on the field, Roger Milla. Bertarung di ajang Piala Dunia 1990 dalam usia senja untuk ukuran pesepakbola, 38 tahun, bukan berarti taji striker timnas Kamerun ini lantas tumpul.

    Roger Milla
    pic : footballtribute

    Datang dari benua Hitam, timnas Kamerun berhasil menjadi juara grup B. Padahal, tim Singa Afrika ini termasuk underdog, mengingat di dalam grup B ada Argentina, Rumania, dan Uni Soviet yang lebih diunggulkan.
    Pemaen gaek yang sempat mencicipi Liga Indonesia di pertengahan era 90-an lewat klub Pelita Jaya dan Putra Samarinda ini memang luar biasa. Milla membawa Kamerun maju ke perempat final, melalui dua buah gol di perpanjangan waktu saat melawan Kolombia.
    Selebrasi unik yang dilakukannya, yaitu dengan bergoyang di pojok lapangan, membuahkan julukan Goyang Kamerun. 



    Yah, walaupun tidak sepanas dan sesensual Goyang Karawang-nya Tante Lilis Karlina, perayaan ini tak hanya mengukir nama Roger Milla sebagai legenda. Namun, menjadi sebuah pembuktian, bahwa usia dan posisi tak diunggulkan bukan alasan untuk tak berprestasi.


    Bebeto
    Salah satu  gaya selebrasi terpopuler adalah gaya mengayun bayi dalam gendongan atau rock-a-baby cradle style. Biasanya, gaya ini dimaksudkan untuk menunjukkan sebuah anugerah lain. Tepatnya, sang pemain merayakan kelahiran anak mereka yang bersamaan atau berdekatan dengan pertandingan tersebut.

    Bebeto
    pic : dailymail.co.uk

    Cikal bakal gaya ini muncul di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Adalah José Roberto Gama de Oliveira alias Bebeto, penyerang Tim Samba, Brasil yang mempopulerkannya pertama kali. Dalam ajang perempat final melawan Tim Oranye, Belanda, Bebeto berhasil mengukir gol kedua.



    Dua hari sebelumnya, Bebeto baru saja dikaruniai anak ketiga. Gol yang dipersembahkan spesial untuk sang bayi, diwakili melalui gaya menggendong dan mengayunkan jabang bayi tak kasat mata
    Sang anak, Mattheus Olivier pun kini berkarier sebagai pesepakbola. Ehm, tadahin iler ya kalau lihat penampakannya di bawah ini hehehe.

    Mattheus O., Si bayi yang dulu jadi inspirasi, sekarang sudah sebesar (dan seganteng) ini!
    Pic : Globo Esporte



    2. Aksi Gahar di Depan Gawang

    Kalau boleh membandingkan, para kiper dari Amerika Latin punya nyali lebih besar dari konco Eropa. Memang, nama mereka tak setenar kiper Eropa, apalagi tak banyak yang berhasil menghuni starting eleven tim-tim besar Eropa. Namun, penjaga gawang Latin ini punya kelas sendiri dalam beraksi. Seperti dua kiper gahar berikut ini

    Rene Higuita
    Julukannya saja sudah bikin merinding, El Loco alias Si Gila! Kiper timnas Kolombia ini dikenal sejak kiprahnya di Piala Dunia 1990 Italia. Si rambut gimbal ini terkenal akan aksi nekatnya dalam menjaga gawang. Ia lebih memilih sweeping dan bertingkah dramatis saat menghalau serangan lawan. Termasuk gaya andalan, tendangan ala kalajengking alias scorpion kick.

    Rene Higuita
    pic : thesefootballtimes

    Kalau kamu penggemar Captain Tsubasa, pasti ingat dong sama Ken Wakashimazu, si kiper karate? Nah, kira-kira aksi nekatnya mirip, deh. Memang, kadang tindakan Higuita malah jadi blunder, seperti waktu melawan Kamerun dan membuat Kolombia tersingkir di Piala Dunia 1990.



    Tetapi, tahun 1995, aksi nyeleneh-nya malah sukses menggagalkan serangan pemain Inggris, Jamie Redknapp saat bertemu di pertandingan persahabatan. Higuita juga berhasil mencetak tiga gol selama kiprahnya di timnas Kolombia. Ia tak ragu ikut serta mengambil tendangan bebas dan penalti jika dibutuhkan.


    Jose Chilavert
    Si goalie satu ini dari perawakan dan muka saja sudah sangar. Tak salah jika kiper timnas Paraguay ini mendapatkan nickname mirip si anjing galak, Bulldog. Nyali segede gunung yang dimiliki Chilavert bukan berdasar omong kosong. Ia tak gentar menyongsong tembakan. Lebih edan lagi, Chilavert juga punya tendangan geledek yang ia tunjukkan saat mengeksekusi tendangan bebas dan penalti.

    Jose Chilavert
    pic : getty images

    Saat bermain untuk klub Liga Argentina, Velez Sarfield, ia tak tanggung-tanggung pernah mencetak hat-trick! Padahal posisinya sangat bertolak belakang dengan penyerang. Sky is the limit, mungkin itu yang akan ia serukan saat orang bingung melihat ambisi ofensifnya.
    Di Piala Dunia 1998, Chilavert mengambil sebuah tendangan bebas kala berhadapan dengan timnas Bulgaria. Meskipun tidak berhasil mencetak gol seperti waktu menjalani kualifikasi Piala Dunia, namun Chilavert membuktikan “gonggongannya”. 



    Penjaga gawang yang dinobatkan sebagai kiper terbaik tahun 1995, 1997, dan 1998 oleh International Federation of Football History and Statistics (IFFHS) ini setia menghuni daftar kiper legendaris dalam sejarah sepakbola.



    3. Drama dan Tragedi Menguras Emosi

    Piala Dunia tak hanya menyisakan aksi heroik dan adu sportivitas antar pesepakbola terbaik dunia. Namun, ada pula kisah-kisah emosional yang menandai kelamnya sejarah. Dua pemain ini merasakan arti dari drama dan tragedi dalam pengalaman mereka membela negara di ajang Piala Dunia.

    Andres Escobar
    Pahit, satu kata mendeskripsikan nasib pemain timnas Kolombia ini. Berlaga sebagai pemain bertahan melawan tuan rumah, Amerika Serikat, di Piala Dunia 1994, Andres Escobar sedang sial. Gol bunuh dirinya membawa timnas Kolombia harus angkat koper lebih dulu, kalah tipis 1-2 dari AS.

    Andres Escobar
    pic : thesefootballtimes

    Lima hari pasca kejadian, Escobar memutuskan kembali ke Kolombia. Pada suatu malam, saat Escobar sedang pergi minum, ia mengalami kesialan kedua. Sendirian di tempat parkir sebuah klub malam, enam buah peluru memberondong tubuh Escobar hingga tewas.



    Sang pelaku ternyata adalah tukang pukul dari sebuah kartel narkoba. Dikabarkan, setiap tembakan yang mengenai tubuh pemain yang aslinya berpembawaan tenang (hingga mendapat panggilan The Gentleman) ini, disertai makian serupa kata ‘gol’.
    Kematian tragis Escobar memicu aneka reaksi. Mulai dari duka hingga rasa mencekam mewarnai pemain, bahkan dari negara lain. Sungguh sisi gelap dari sepak bola yang tak ingin terulang kembali.

    David Beckham
    Bagaimana jika seorang pemain yang tengah naik daun di liga domestik, mendadak harus menjadi pesakitan akibat tak mampu mengontrol emosi? Inilah yang dialami oleh salah satu ‘Adonis’ dunia sepak bola modern, David Beckham.

    David Beckham
    pic : BBC UK

    Dalam Piala Dunia perdananya di Perancis tahun 1998, Beckham memulai baik di kualifikasi dengan gol-gol penting. Namun, di babak perdelapan final, ia tak kuasa menahan diri dari provokasi lawan. Musuh abadi, Tim Tango, Argentina, punya ‘aktor watak’ bernama Diego Simeone, yang kala itu bermain untuk Liga Italia di tim Internazionale Milan. Tahu sendiri kan, Liga Serie A itu sarat dengan pemain sinetron lapangan hijau? ‘Keterampilan’ inilah yang diperagakan Simeone untuk memancing Beckham bereaksi.
    Kim Milton Nielsen, tak ragu mengacungkan kartu merah, ketika melihat Simeone (berakting) kesakitan. Padahal Beckham sudah terjatuh lebih dulu. Sayang, aksinya menendang betis Simeone malah berbalik bagai bumerang menghantam dirinya.



    Insiden kartu merah ini mendatangkan segudang hujatan untuk Beckham. Inggris yang akhirnya tersingkir karena adu penalti pada pertandingan tersebut, disinyalir kalah karena aksi tak bijak Beckham. Sempat memperoleh ancaman pembunuhan, untunglah Beckham tak patah semangat.
    Di Piala Dunia berikutnya, Jepang-Korsel tahun 2002, Beckham tampil lebih memukau. Seolah menebus lunas ‘dosa-dosa’ di Piala Dunia sebelumnya.


    4. Pangeran Balkan Mengguncang Lapangan

    Eropa Timur kerap menghadirkan ancaman laten di setiap ajang Piala Dunia. Saya merangkum dua pemain yang berhasil menjadi pencetak gol terbanyak pada dua Piala Dunia. Sama-sama berasal dari kawasan Balkan, kepiawaian mereka mengolah si bundar patut mendapatkan apresiasi tertinggi. Meskipun tak berhasil membawa tim mereka masuk partai final, kaki emas kedua pemain ini membawa reputasi mereka berada di level berbeda : menjadi legenda.

    Hristo Stoichkov
    Pemain depan Bulgaria ini adalah pemain favorit saya di Piala Dunia 1994. Bola di kakinya seperti pertunjukkan seni. Namun, semangat berapi-apinya, menjadikan Stoichkov seperti Raja Singa yang menguasai lapangan. Predator yang siap merobek jaring lawan tanpa takut.

    Hristo Stoichkov
    pic : getty images

    Stoichkov memiliki talenta hebat, mengantarkannya ke karier klub spektakuler, Barcelona era awal 90-an, dream team dari Johan Cryuff. Lucunya, ia pun harus berseteru dengan Romario, rekan seperjuangan asal Brasil di El Barca, saat sama-sama mengejar gelar tim nasional terbaik di kolong Bumi.



    Penampilan terbaik pemain yang kaki kirinya dominan ini, di Piala Dunia 1994 terlihat saat menggusur sang juara bertahan, Jerman dari peta persaingan. Bisa dibilang, Stoichkov adalah pemain komplit yang punya keterampilan teknis tinggi, dipasangkan dengan karakter kuat bin tangguh. Pantas saja jika ia mudah “mengaum” menunjukkan keunggulannya kala bermain.


    Davor Suker
    Berasal dari Kroasia, negara pecahan Yugoslavia yang sempat dirundung peperangan, tidak menyurutkan “The Sukerman” untuk melesat di kancah sepak bola dunia. Prestasinya sudah mengilap sejak masih menjadi pemain muda di timnas junior di akhir 80-an.

    Davor Suker
    pic : thenational.ae
    Semakin dewasa, Suker semakin matang dan ganas mengeksekusi setiap peluang. Mengikuti suksesnya di Piala Eropa 1996, Suker malah kian trengginas di Piala Dunia 1998 Perancis. Bahkan Tim Panser pun bertekuk lutut, dibabat tiga gol tanpa balas, salah satunya dari kaki penyerang ini.



    Kalau saja Lilian Thuram (pemain belakang Perancis) tidak punya ekstra keberuntungan dan membalikkan satu gol Suker di partai semifinal, mungkin Kroasia bisa jadi finalis atau juara. Puas di posisi ketiga, Suker memboyong Sepatu Emas dengan perolehan enam gol dari tujuh pertandingan. Fly high, Sukerman!



    5. Para Penjungkal Juara Bertahan

    Aksi mereka membungkam sesumbar para juara bertahan untuk kembali merebut Piala Dunia. Inilah dua pemain yang memupuskan rencana pesta semalam suntuk yang telah dipersiapkan lawan dan mendatangkan kebahagiaan bagi tim yang malah dipandang sebagai underdog di partai final.

    Andreas Brehme
    Pemain Tim Panser, Jerman (dahulu Jerman Barat) ini adalah pemain sayap kiri yang punya spesialisasi sebagai eksekutor bola mati. Brehme terbukti menghasilkan gol-gol penting dari tendangan bebas maupun titik putih penalti. Termasuk di partai puncak Piala Dunia 1990 melawan juara bertahan, Argentina.

    Andreas Brehme
    pic : getty images

    Satu-satunya gol yang dicetaknya melalui penalti sudah cukup untuk merebut gelar juara dari Diego Maradona dkk., yang bermain sembilan pemain karena menerima dua kartu merah. Partai yang didapuk sebagai salah satu pertandingan final terburuk dan terkeras sepanjang masa ini, mencuatkan nama Brehme hingga kini.







    Zinedine Zidane
    Kala Piala Dunia 1998 digelar, Tim Samba, Brasil, sudah mempersiapkan perayaan jika berhasil meraih gelar juara dunia untuk kelima kalinya. Namun, pesta harus bubar karena pemain favorit saya sepanjang masa ini, Zinedine “Zizou” Zidane.

    Zinedine Zidane
    pic : dailymail.co.uk

    Playmakeri handal ini menanduk bola dua kali menyambut sepak pojok, membawa Perancis unggul dua gol tanpa balas di babak pertama final Piala Dunia 1998. Aksinya mengalirkan bola sepanjang permainan pun menjadi kunci permainan Tim Ayam Jantan. Bahkan, walaupun kehilangan bek Marcel Desailly yang diusir wasit di menit ke-68, Perancis masih sanggup menambah satu gol lagi menjelang peluit akhir.



    Meskipun Perancis dituding miskin striker berkualitas di Piala Dunia tersebut, untunglah agresivitas hadir dari lini lain. Aksi brilian Zizou pun membawa Perancis menggondol Piala Eropa 2000, dua tahun berselang.


    Sekelumit kisah mereka menjadi inspirasi banyak penghuni Bumi untuk terus mengejar mimpi. Ada kalanya kita harus jatuh bangun dahulu, sebelum menjadi yang terbaik. Dan kesuksesan pun tak selamanya abadi. 

    Sometimes we just need to live the moment. Because you’ll never know when your time is up and probably the next chapter is not a happy ending one.

    Adakah pesepakbola yang paling kamu sukai saat berlaga di Piala Dunia era 90-an dulu? Bagi ceritamu di kolom Komentar, yuk!

    Cek juga ulasan mendalam Asti tentang Piala Dunia 1998 yang enggak terasa sudah berlalu dua dekade! 



    Continue Reading
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top