Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • Halo, Kawans!

    Jika biasanya saya membuat review film yang sudah lama diputar bertahun-tahun silam, kali ini saya akan mengulas sebuah film keluarga yang masih hangat dan sedang tayang di bioskop terdekat. Kamu yang masa kecilnya dulu sangat menggemari Si Beruang Menggemaskan dari Disney, Winnie the Pooh, seperti saya, pasti sudah menantikan untuk menyaksikan film ini, Christopher Robin.

    -----



    Judul film : Christopher Robin
    Genre : fantasi, drama, keluarga
    Bulan dan tahun rilis : Agustus 2018
    Sutradara : Marc Foster
    Produser : Brigham Taylor, Kristin Burr
    Penulis skenario : Alex Ross Perry, Tom McCarthy, Allison Schroeder
    Pemeran : Ewan McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Oliver Ford Davies, Jim Cummings, Brad Garrett
    Produksi : Walt Disney Pictures
    Distribusi : Walt Disney Studios Motion Pictures
    Durasi : 104 menit

    -----

    SINOPSIS

    Selepas berpisah dari kawan-kawan fantasinya di Hundred Acre Woods, Christopher Robin (Ewan MacGregor) seolah kehilangan pribadi cerianya, ditelan kerasnya hidup. Ditempa disiplin keras di sekolah asrama dan sempat berjuang dalam Angkatan Bersenjata Inggris pada masa Perang Dunia II, Christopher menjadi pria yang jauh berbeda. 

    Sepulang perang, Christopher berhasil membangun karier di Winslow Enterprise, sebuah produsen koper di London, sebagai spesialis efisiensi. Namun, sang istri, Evelyn (Hayley Atwell) dan Madeline (Bronte Carmichael) merasa mereka kehilangan waktu serta diri seutuhnya Christopher sebagai bagian dari keluarga.


    Madeline - anak perempuan Christopher Robin

    Evelyn - istri Christopher Robin

    Puncaknya, ketika Christopher terpaksa membatalkan janji liburan akhir pekan mereka di rumah peristirahatan daerah Sussex, Evelyn yang sangat kecewa memutuskan tetap pergi bersama Madeline. Sementara, kepala Christopher makin pening mendapati sebuah permintaan presentasi di hari Senin dari Giles Winslow, Jr. (Mark Gatiss), anak pemilik Winslow Enterprise untuk membuat perencanaan PHK sebagai bagian dari “peningkatan efisiensi perusahaan”.

    When the BFF are reunited

     
    Tak disangka, sahabat masa kecil Christopher datang berkunjung. Ialah Winnie the Pooh – atau selanjutnya akrab dipanggil Pooh saja – Si Beruang Menggemaskan dengan filosofi hidup santainya : “Tidak berbuat apa-apa justru akan membawa kebaikan besar dalam hidup.”

    Christopher dan Pooh sama-sama bingung berhadapan dengan pribadi yang kini jadi bertolak belakang. Christopher menganggap Pooh jauh dari cerdas dengan kata-kata kekanakan dan prinsip hidup yang bentrok dengan kerasnya dunia nyata. Sementara, Pooh menyayangkan Christopher dewasa jadi semacam kehilangan “cahaya” aslinya.

    Christopher pun memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan mengembalikan Pooh ke Hundred Acre Woods, tepatnya dekat dengan rumah peristirahatannya di Sussex. Perjalanan pun diwarnai kejadian lucu karena Pooh yang enggan berhenti mengoceh dan menimbulkan kehebohan. Ternyata, misi Christopher memulangkan Pooh berlangsung lebih lama dan membangkitkan lagi nostalgianya, berjumpa dengan para penghuni Hundred Acre Woods seperti Eeyore, Piglet, Tigger, Rabbit, Owl, Kanga, dan Roo.

    Geng Hundred Acre Woods - yay!

    Meaningful convo with Pooh is always a pleasure!

    Christopher kembali ke London untuk menghadiri presentasi pentingnya. Tetapi, masalah ternyata belum selesai. Kini para tokoh yang merasa hidup mereka dulu terbantu oleh Christopher, ingin membalas budi dengan menyelamatkan hidup Christopher dari masalah di dunia barunya. Bagaimana akhirnya Christopher Robin bisa menemukan kembali cahaya dan semangat hidupnya yang menyurut?

    -----

    ULASAN

    Sewaktu saya membawa anak-anak menonton film Christopher Robin, bayangan saya, mereka akan menikmati film ini. Alasannya simpel, karena mereka antusias melihat Pooh dan para kawannya di Hundred Acre Woods sewaktu menonton trailer-nya.

    Ternyata, saya salah besar!

    Pertama, kisah yang ditampilkan dalam film ini, menurut saya bukan untuk konsumsi anak-anak prasekolah. Banyak dialog berat yang menurut saya, sulit untuk dipahami oleh anak-anak. Kemesraan yang ditunjukkan oleh Christopher dan Evelyn pun perlu jadi perhatian, karena ada adegan kissing yang tiba-tiba muncul! Anak-anak gampang bosan, apalagi saya menilai aura film ini cukup gloomy untuk ukuran drama keluarga ala Disney.

    Kedua, porsi para tokoh fantasi, selain Pooh, bisa dibilang hanya memenuhi paling mentok separuh film. Jadi, pupus harapan kalau menantikan banyak adegan menggemaskan dari geng Hundred Acre Woods. Walaupun begitu, saya sendiri lumayan puas waktu Pooh, Piglet, Eeyore, dan Tigger bertualang ke London menyusul Christopher, seru! Di bagian ini pula, anak-anak lumayan anteng dan ikut tertawa.

    Formula film Christopher Robin, mengingatkan saya pada film Hook, di mana sang tokoh utama yang tadinya anak-anak, kini telah menjadi dewasa dan menghadapi problematika tersendiri yang berbeda dengan masa petualangan fantasinya. Tetapi, Christopher Robin diarahkan dengan lebih apik, sehingga kesederhanaan premisnya bisa menjadi sebuah rangka cerita kuat berkat filosofi hidup yang begitu mengena, walaupun latar cerita ini berada puluhan tahun silam.

    Ewan MacGregor (duh, kelihatan banget dia sangat bapak-bapak di sini!) mampu menampilkan sebuah akting yang cukup meyakinkan sebagai Christopher Robin dewasa. Suasana gelap dalam hatinya terbaca jelas dari gestur dan ekspresi muka, sampai intonasi tutur katanya.

    Sementara Hayley Atwell, sayangnya, masih sulit melepaskan citra Agen Peggy Carter dari semesta sinema Marvel. Aktingnya terasa tanggung buat saya. Malah, aktris cilik pemeran Madeline, Bronte Carmichael lebih sukses mengeluarkan emosi sebagai anak yang kesepian dan terluka oleh ketiadaan sang Ayah.

    Yang mencuri perhatian saya, justru Mark Gatiss, yang kita kenal sebelumnya sebagai Mycroft, abang Sherlock Holmes dari serial Sherlock di BBC. Tanpa dialog saja, pasti sudah terbayang betapa menyebalkannya pria ini. Mingkem pun penonton terbawa pengin sleding, hahaha!

    Si antagonis yang bikin pengin sleding
    pic : disney wikia


    Kredit tertinggi saya nyatakan jatuh kepada Jim Cummings, pengisi suara Pooh. Bagaimana ia berhasil menghidupkan karakter Pooh, dengan nada bicara lembut, sesekali guyon, namun selalu ada pesan menohok di balik kalimat silly-but-true miliknya. Pooh inilah yang berhasil menampar saya dengan kiriman pesan untuk melonggarkan sejenak ketegangan berjuang menghadapi dunia nyata. Karena tantangan tak selamanya harus dilawan dengan ketangguhan nan keras, bersantai bukanlah sebuah kebodohan ataupun dosa.

    Kalau mau jujur, saya menyaksikan film ini di saat yang tepat. Saya tengah mengalami kegalauan dan kelelahan lahir batin seperti Christopher, hingga pada titik, saya seperti melupakan bagian hidup untuk relaks dan bersenang-senang. Segala macam tugas, tenggat waktu, proyek, seperti menghabiskan energi saya.

    Tanpa berniat menjadi seseorang yang tidak profesional, saya mengamini apa kata Pooh. Terkadang, tidak melakukan apa-apa (selama beberapa waktu), akan membuat kita justru menghasilkan sesuatu yang lebih berguna ketimbang ngotot mengejar ambisi.

    Untuk film yang memikat dengan kesederhanaannya ini, saya berikan nilai 8 dari 10. Mostly because Pooh stole my heart since his first line.


    Bagaimana dengan kamu? Apa kesan yang kamu dapatkan setelah menonton film Christopher Robin? Yuks, cerita di kolom Komentar!



    photos from IMDB


    Continue Reading
    Halo, Kawans!

    Sudah lama enggak isi blog, padahal banyak draft yang bisa dikembangin. Saya keteteran sama pekerjaan baru, proyekan promosi buku serta event, plus Ninjaboys yang makin sering menuntut perhatian. Jadilah saya kembali ngalong buat nulis. Untungnya ada sesi review rutin di salah satu komunitas menulis yang saya ikuti, jadi saya bisa ambil mentahan dari situ untuk dirapikan dan posting di sini.
    Kali ini, saya akan kembali mengulas film. Bukan film baru, tetapi ini adalah salah satu film romantis favorit dan enggak ragu buat menonton ulang beberapa kali. Siap ikut terhipnotis dan baper sama film keren ini?




    -----
    Judul : Begin Again
    Sutradara : John Carney
    Penulis skenario : John Carney
    Produser : Anthony Bregman, Tobin Armbrust, Judd Apatow
    Genre : drama, musikal
    Pemeran : Keira Knightley, Mark Ruffalo, Hailee Steinfeld, Adam Levine, James Corden


    Produksi : Exclusive Media, Sycamore Pictures, Black Label Media, Likely Story, Apatow Productions
    Distribusi : The Weinstein Company
    Durasi : 104 menit
    Rilis : September 2013 (Toronto International Film Festival), Juni 2014 (komersial)
    -----

    SINOPSIS

    Dan Mulligan (Mark Ruffalo) berada di titik terendah hidupnya. Pernikahannya nyaris kandas, kariernya di tepi jurang karena kebiasaannya menenggak miras terlalu banyak, dan ia benci setengah mati dengan kantornya. Sebagai produser musik di sebuah label ternama, Dan punya idealisme untuk mengasah musisi yang memang berbakat, bukan hanya demi kepentingan komersil belaka. Sayang, atasannya berpikiran lain.
    Di tengah frustrasinya, Dan bertemu dengan Gretta James (Keira Knightley) di sebuah pub kecil kota New York. Pertunjukan “open mic” Gretta tak mendapat perhatian penonton, kecuali Dan. Ia menangkap potensi dari musikalitas dan orisinilitas Si Gadis Inggris yang sepertinya belum sadar dirinya bisa menjadi bintang.

    Gretta, si musisi orisinil :)

    Dan mendekati Gretta dan menguak sebuah fakta mengejutkan. Gretta adalah mantan pacar Dave Kohl (Adam Levine), seorang penyanyi pria tampan yang sedang naik daun. Bahkan, lagu-lagu Dave banyak berasal dari tangan dingin Gretta sebagai pencipta lagu. Popularitas yang meroket membuat Dave berselingkuh, baik dari semangat asli musik yang diciptakannya bersama Gretta maupun dari komitmen hubungan mereka.

    Two talented musicians and (used to be) lovers, Gretta and Dave

    Gretta yang terpuruk, tadinya hendak kembali ke Inggris setelah menumpang tinggal bersama sahabatnya, Steve (James Corden). Namun, Dan mendesak Gretta untuk mencoba peruntungan menawarkan demo ke label tempatnya bekerja. Gretta menyanggupi, meskipun akhirnya kecewa karena lagi-lagi idealismenya berbenturan dengan selera pasar.

    BFF Gretta and Steve

    Akhirnya, Dan mengambil jalan sendiri. Ia menawari memproduseri album “indie” Gretta, dengan merekam lagu-lagu Gretta di seantero New York. Rekaman dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melibatkan musisi-musisi non profesional yang direkrut mendadak, namun punya bakat luar biasa. 

    One of Gretta's recording session, in an alley!

    Dan bahkan mengajak putri remajanya, Violet (Hailee Steinfeld), yang sesungguhnya sedang tidak akur dengannya. Singkat kata, rekaman Gretta berlangsung lancar. 

    Dan and his rebellious yet lonely daughter, Violet
    Tiba-tiba, Dave pun muncul kembali. Ia memohon maaf dan meminta Gretta untuk kembali berhubungan dengannya. Dilema menerpa hati Gretta, apakah semua ini “too good to be true” untuknya? Apa yang akhirnya Gretta pilih untuk menjalani akhir bahagia versinya? Bagaimana dengan Dan, apakah Gretta menjadi lebih dari sekadar titik balik dan kebangkitannya?

    Do they have that other kind of attraction?

    -----

    ULASAN

    Bisa dibilang, Begin Again adalah salah satu film favorit saya dari genre musikal. John Carney sendiri dapat dikatakan sebagai spesialis pembuat film genre musikal modern yang ceritanya tidak “menye-menye” menurut saya.
    Seperti biasa, Mark Ruffalo membuktikan bahwa kapasitasnya sebagai aktor “rom-com” memang lebih bersinar ketimbang berakting murka dalam kulit hijau dan badan raksasa di rentetan film Marvel atau si keturunan pesulap brilian di Now You See Me. Beberapa film romantisnya seperti Just Like Heaven, 13 Going on 30, dan peran pembantu di salah satu film patah hati terbaik, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, semuanya begitu adorable.
    Sayangnya, akting Keira Knightley dan Adam Levine kurang bisa mengimbangi Mark. Mereka berdua tertolong oleh muka rupawan, busana keren, dan ya, suara yang membuai. Setidaknya, ada lagu “Lost Stars” yang dinyanyikan keduanya dalam versi berbeda, sama-sama enak didengar dan liriknya menusuk sampai ke kalbu! Tak salah jika Lost Stars masuk ke dalam nominasi Lagu Terbaik di ajang Academy Awards 2015 lalu.





    Hailee Steinfeld dan James Corden, di lain hal, mampu memberikan akting baik, meskipun menit penampilan mereka tak banyak. Karakter Violet dan Steve tergambar jelas serta menarik perhatian, teringat terus walaupun film telah usai. 
    Jika bingung siapa dua orang yang saya sebut ini, Hailee Steinfeld turut berperan dalam dua film Pitch Perfect, sebagai Emily Junk, si freshman berbakat. Juga bisa kita temukan aktingnya dalam film Ender's Game sebagai Petra Arkanian dan bakal menjadi pemeran utama di film spin-off Transformers, Bumblebee yang rilis tahun ini.
    Sedangkan James Corden, bisa kamu cek sebagai host The Late Late Show dengan segmen hits The Carpool Karaoke. Terakhir, aktor komedi dan dubber animasi asal Inggris ini juga berperan di film Ocean's 8. Kalau pengisi suara, Corden ikut serta di film Trolls, Peter Rabbit, dan The Emoji Movie.
    Kota New York yang dijadikan latar utama film ini, mengambil tempat-tempat yang memberikan kesan “hangat” dari Si “Big Apple di musim panas. Rekaman-rekaman lagu Gretta mengambil berbagai lokasi, mulai dari perahu di Central Park, pelataran Washington Square Gardens, stasiun kereta bawah tanah Manhattan, dan beberapa tempat lainnya.
    Adegan favorit saya adalah ketika Dan dan Gretta berbagi “headphone”, mengambil lagu-lagu jadul dari pemutar musik Gretta. Ada lagu Frank Sinatra, Stevie Wonder, dan soundtrack film Casablanca. Sambil berjalan-jalan di Times Square dan masuk pula ke sebuah klab malam, berjoget dengan lagu berbeda dari pengunjung lainnya.

    Tentu saja, sebagai film musikal, tak lengkap kalau tak membahas deretan lagu keren pengisi soundtrack Begin Again. Gregg Alexander, eks vokalis band New Radicals (dulu populer dengan lagu ‘You Get What You Give’ dan ‘Someday We’ll Know’), adalah penanggung jawab dari musik keren dalam film Begin Again. Semua lagu di album soundtrack Begin Again mantap jaya dan harus kamu dengarkan lengkap!
    Begin Again mengantarkan pesan mengenai mengejar mimpi dan bangkit dari keterpurukan. Ditambah sebuah pengingat bahwa dunia mungkin saja akan berjalan tidak sesuai kemauan kita, namun selalu ada kesempatan untuk mengambil pilihan yang tak biasa, apa pun risikonya.

    pic from Trendsmap

    Seperti kata Dan, musik mampu menciptakan “mutiara yang indah” dari situasi sedangkal apapun. Musik pula yang membuat saya gemar memutar ulang film ini demi meresapi setiap nada yang mewarnai adegan-adegan berkesannya.
    Saya memberi nilai delapan dari skala sepuluh untuk film Begin Again. 









    A must watch, indeed!

    All scene photos from IMDB website


    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Biasanya, saya dan Asti memilih topik Battle of the 90’s atas preferensi pribadi. Kali ini, karena lagi heboh sebuah fenomena yang bikin kita antara pengin julid, enggak habis pikir, sekaligus ngakak sampai Madagaskar, yaitu meledaknya seorang sosok abege kinyis bernama BOWO ALPENLIEBE!

    Buat yang masih melongo alias enggak mudeng, saya jelasin dulu, nih. Tiktok adalah sebuah aplikasi ngeksis yang lagi hits di kalangan anak kinyis. Lewat Tiktok, kita bisa rekam aksi kita joget, nyanyi, atau performance plus pakai lagu ya. Saya pribadi enggak punya akun Tiktok dan sampai saat ini belum niat ngerekam apa pun di aplikasi ini.

    Dari unggahan yang bersliweran di linimasa, post Tiktok ini unik-unik sih (bahasa halus dari ‘kacrut’ hahaha!). Kebanyakan saya malah ngelus dada atau megangin perut yang kram, saking banyak makhluk absurd goyang-goyang beraksi.

    Nah, dari sekian banyak artis Tiktok dadakan ini, ada seorang cowok kinyis yang lagi merebut perhatian. Nickname-nya Bowo Alpenliebe. Jangan tanya kenapa nama permen itu yang diambil, mungkin emang doi doyan hehehe.

    Mau tahu penampakan cowok tiga belas tahun bernama asli Prabowo Mondardo ini?

    Si Bowo Alpenliebe yang femes itu loch
    pic : IDN Times

     
    Artikel tentang Bowo Alpenliebe lebih lengkap, kamu baca langsung aja di IDN Times ini, ya!

    Bagian yang bikin ngakak itu pas saya baca ada acara-acara meet and greet yang mengenakan sejumlah biaya untuk bertemu Dek Bowo ini. Salah satunya, pakai deskripsi, bisa foto bareng dan pegangan tangan! Enggak cukup sampai situ, para penggemar Dek Bowo ini ada yang mengeluarkan pernyataan yang goks abis. Misalnya, rela hilang keperawanan, tak peduli soal status di akhirat nanti,  sampai mau bikin agama baru bernama Bowo lengkap dengan nabi dan rasulnya! Serem mampus!

    Muka langsung horor kaya Patrick lihat SS-nya fans Bowo Alp
    Pic : knowyourmeme

    Geleng-geleng kepala sih melihat kelakuan ajaib para pecinta Bowo Alpenliebe yang notabene masih pada bau kencur ini. Tapi, coba deh inget lagi masa kita jadi abege belum mletek seperti ini. Ada dong idola-idola yang bikin kita histeris, para cowok kinyis yang pesonanya enggak abis-abis?

    Nah, kalau Asti membahas para heart-throb bule, saya akan bahas versi lokalnya. Inilah lima cowok kinyis yang sontak bikin cewek cilik histeris di era 90-an.



    1.  Bondan Prakoso

    Lagu anak legendaris tentang si mamalia laut nan cerdik dan lincah, Lumba-lumba, takkan jadi populer tanpa cowok yang satu ini. Penyanyi kelahiran 8 Mei 1984 ini sudah aktif bermusik sejak usia balita. Gayanya enerjik dan wajahnya tergolong rupawan, terdepan di antara beberapa penyanyi cilik seangkatannya.

    Bondan Prakoso kicik dan gede
    Pic : Kapanlagi Musik


    Sayang, sempat pula ia diterpa gosip miring di sekitar tahun 1995. Bondan dituding menghamili sesama artis cilik, Enno Lerian, melalui sebuah perkosaan di belakang panggung. Kabar ini tergolong bombastis dan menurut saya, sadis banget, apalagi keduanya masih belia sekitar usia 11-12 tahun.
    Namun, seiring gosip jahat itu surut, Bondan pun merambah dunia anak band di masa remajanya dengan menjadi basis Funky Kopral. Di band yang menggabungkan unsur funk dan rock (yah, mirip-mirip musiknya Red Hot Chilli Peppers), Bondan menciptakan imej baru. Hingga berlanjut di era 2000-an dengan kolaborasi bersama Fade 2 Black, sebuah grup rap.


    2. Eza Yayang

    Demam Jacko, alias Michael Jackson yang melanda di era 80-an dan awal 90-an rupanya menular juga pada artis cilik Tanah Air. Sebut saja cowok kelahiran 19 Februari 1982 ini, Eza Yayang. Kegemarannya menampilkan tarian break dance dan meniru sang idola, King of Pop, Michael Jackson, membawanya menjadi cowok cilik dengan tampilan ciamik. Apalah popularitas Bowo Alpenliebe, Eza Yayang sudah sampai diundang ke luar negeri. Ia juga mendapat semacam penghargaan dari Jacko sendiri lewat salah satu badan PBB, UNICEF.

    Eza Yayang dan Agnes Monica, the dynamic duo
    Pic : Youtube

    Salah satu duet terkenal Eza adalah lagu Yesss bersama Agnes Monica. Kalau tidak salah, aksi video klipnya pun sampai gelantungan pakai sling! Luar biasa lah untuk ukuran artis cilik masa lampau!
    Beranjak dewasa, Eza sempat membentuk band bersama kakaknya, Adam, dengan nama D.O.T. Kini, kita mengenal Eza lewat perannya sebagai Rojak di serial Tukang Ojek Pengkolan


    3. Yoga Pratama

    Dari seni peran, ada aktor cilik yang ngegemesin satu ini. Saya malah kenal cowok kelahiran 18 November 1983 ini dari film-film Warkop DKI. Yoga Pratama memang membintangi beberapa film komedi dewasa itu di awal dekade 90-an. Sebut saja, Bisa Naik Bisa Turun, Masuk Kena Keluar Kena, dan Bebas Aturan Main. Yoga juga merambah dunia presenter dan kepiawaiannya membawakan acara Pesta Ceria menghadirkan sebuah penghargaan Panasonic Award di tahun 1997.

    Yoga Pratama kecil, cute banget!
    Pic : IDN Times

    Di usia dewasa, Yoga masih setia berakting. Salah satu prestasi gemilangnya adalah meraih Piala Citra tahun 2008 kategori Aktor Pendukung Terbaik lewat film 3 Doa 3 Cinta. Dua tahun terakhir, Yoga berperan dalam film berkualitas, yaitu Marlina Pembunuh dalam Empat Babak dan LIMA. Sebuah bukti keseriusannya yang selektif memilih peran.


    4. Joshua Suherman

    Artis cilik serba bisa di era 90-an, pastilah akan teringat si cilik pede selangit yang satu ini, Joshua Suherman. Joshua, cowok kelahiran 3 November 1992 ini, memulai kariernya sebagai penyanyi cilik di usia sangat muda. Tahun 1995 dengan kemampuan bicara saja masih terbata-bata, ia sudah percaya diri menelurkan album dengan lagu Cit Cit Cuit sebagai pentolan. Namun, album yang paling meledak adalah Air, di tahun 1999. Jargon “diobok-obok” terus melekat sampai kini. Plus tentu saja rekan di video klipnya yang tersohor, Mas Tukul Arwana alias Rey Rey Reynaldi!

    Jojo si multitalenta cilik
    Pic : Bintang

    Jojo, panggilan akrabnya, juga merambah dunia sinetron dan film, terutama di era 2000-an. Di masa dewasanya, Jojo nyaman dengan pembawaan guyon dan peran komedi. Termasuk ikut dalam komedi situasi Comic Story bersama beberapa komika ternama, seperti Babe Cabita, Arie Kriting, dan Ge Pamungkas.


    5. Abiem Ngesti

    Yang satu ini mungkin paling mind blow on kalau pinjam istilahnya webtoon Tahilalats. Sadar enggak kalau di Indonesia, bukan hanya ada Raja dan Ratu Dangdut, tetapi pernah juga ada Pangeran Dangdut? Well, jangan bayangkan cowok artistokrat macam William dan Harry di Britania sana, ya!
    Nama cowok ini, Abiem Ngesti. Lahir 30 Oktober 1978, karier cemerlangnya sayang tidak bertahan lama. Rilis album Pangeran Dangdut di tahun 1992, hanya tiga tahun berselang, hidup Abiem berakhir tragis pada sebuah tragedi kecelakaan lalu lintas di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek.

    Abiem Ngesti (alm.), The Prince of Dangdut
    Pic : kasetlalu

    Ciri khas Abiem adalah rock-dut alias dangdut yang berpadu dengan musik rock. Sebelum Alam ‘Embah Dukun’ berkoar-koar sebagai pengusung genre ini, Abiem telah lebih dulu mengguncang blantika musik Tanah Air di dekade sebelumnya. Total dalam tiga tahun kariernya, Abiem berhasil menghasilkan sebelas album. Salah satu faktor kesuksesannya adalah berkat tangan dingin sang ayah, Wiwien Ngesti dalam mengarahkan putranya ini. Aneka penghargaan pun berhasil diraih sebagai prestasi, sebut saja HDX Awards dan Anugerah Dangdut TPI.
    Rest in peace, Prince of Dangdut!


    Dari daftar di atas, kita bisa simpulkan. Seseorang wajar saja dielu-elukan menjadi idola. Namun, lebih bagus lagi jika bukan hanya beragam gaya yang disuguhkan atau angka followers di media sosial. Prestasi nyata dan pengakuan dari forum terpercaya akan mengukuhkan popularitas menjadi sebuah tapak legenda, bukan koar-koar tanpa isi belaka.

    Siapakah cowok cilik atau remaja favoritmu di era 90-an dulu? Ceritakan di kolom Komentar, yuks!






    Continue Reading



    What up, Dawg?

    Kenapa saya jadi gaya sok gaul ala-ala anak Amrik gini? Anak Amrik zaman 90-an, tepatnya, soalnya kali ini Back to the 90’s Battle bakal bahas halu masa muda sumber kegalauan masa ABG saya dan Asti : American teen flicks!

    Secara spesifik, saya sebutkan film dan serial asal negara Paman Sam memang membanjiri masa remaja kita. Bisa ditonton lewat televisi, bioskop, maupun VCD, inilah penyatu geng pada masa seragam putih biru dan putih abu-abu.

    Menurut artikel yang mengupas sejarah teen movie di situs The Guardian, film remaja sudah muncul di Amerika Serikat sejak akhir era 50-an. Film Round the Clock (1956) disebut sebagai film pertama yang ditargetkan untuk penonton remaja. Para abege tentu saja ingin tontonan yang segar dan menampilkan something that they can relate with. Sebut saja tema pemberontakan karena bentrokan nilai dengan orang dewasa, cinta pertama, persahabatan, fitting in with your peers, hingga pendewasaan diri (coming of age). Balutlah ide dasar dan premis cerita dengan aktor-aktris berwajah rupawan, musik top charts, dan gaya hidup yang trendi, jadilah sebuah teen flick yang membuat penonton muda tergila-gila.

    Tidak sedikit keluar cibiran bahwa teen flick adalah film yang “dangkal” dan minim pesan moral. Well, tanpa bermaksud menabrak norma, saya hanya berkomentar, “Bukankah pada masa remaja kita semua seperti itu? Full of spirits, even we do lots of silly acts, and at many times, make stupid mistakes?”

    Namanya anak muda, ditahan malah semakin kuat meronta. Jadi, mengapa tidak berikan sesuatu yang sesuai dengan kegelisahan mereka? Inilah yang akhirnya membuat teen flick menjadi tontonan yang betah diikuti, bahkan diulang berkali-kali.

    Di era 90-an, ada dua kubu yang bertebaran soal teen flick. Kubu yang seperti permen kapas warna-warni, menyajikan kegembiraan dan hura-hura hidup. Kubu satu lagi, sebagai sisi gelap, memuntahkan ketidaksetujuan akan tatanan masyarakat yang menuntut kesempurnaan, luapan jiwa pemberontak, penantang dunia.

    Saya akan bahas beberapa teen flick yang berkesan di masa remaja dulu, tepatnya di paruh kedua era 90-an (tahun 1995-1999). Untuk masa paruh pertama era 90-an, maaf tidak saya bahas ya, karena memang saya belum mengalami euforia teen flick pada masa itu. Saya akan kelompokkan per dua judul, berdasarkan kesamaan tema di dalamnya.

    Here’s my teen flick super list, just for you!


    1. The new age Shakespearean tale
    Memahami sastra bukan sesuatu yang menarik bagi remaja. Bahasa yang terlampau berbunga-bunga, penuh metafora, mau bilang A kudu muter dulu ke O, P, Q; menghasilkan keruwetan di otak yang tak seberapa. Beruntunglah tangan-tangan kreatif menceburkan diri dan menjadikan karya-karya klasik sebagai premis utama kisah anak muda yang segar. Termasuk dua film abege yang sangat fenomenal ini, sama-sama diangkat dari karya sastrawan Inggris legendaris, William Shakespeare.

    Romeo + Juliet
    Tahun rilis : 1996
    Sutradara : Baz Luhrmann
    Pemeran : Leonardo Dicaprio, Claire Danes, John Leguizamo, Paul Sorvino



    Cerita cinta paling tragis, Romeo and Juliet, sudah diadaptasi dalam berbagai bentuk dan versi. Namun, karya kontemporer dari sutradara bertangan dingin asal Australia, Baz Luhrmann (Moulin Rouge, The Great Gatsby) inilah yang paling menancap di dunia film modern. Berangkat dari budaya ala MTV, Luhrmann merancang latar cerita di area Verona Beach, New York dan perseteruan klan Capulet versus Montague diterjemahkan sebagai persaingan antar geng serupa mafia.
    Leo dan Claire menampilkan chemistry luar biasa sebagai bad boy dan innocent girl yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama lalu rela menantang dunia demi keabadian hubungan mereka. Ehm, kalau ingin lihat cowok-cowok macho, sepupu-sepupu Romeo dan Juliet juga boleh banget dilirik, lo! If you really into those kind of rebellious kind of guy.
    Meskipun saya bukan penggemar Leo, tetapi film ini punya magnet lain, yaitu soundtrack yang keren! Lovefool dari The Cardigans yang digadang-gadang sebagai lagu tema utama memang paling melejit. But, my heart goes to The Wannadies’s, You and Me Song.

    10 Things I Hate About You
    Tahun rilis : 1999
    Sutradara : Gil Junger
    Pemeran : Julia Stiles, Heath Ledger, Joseph Gordon-Levitt, Larisa Oleynik



    Masih memegang tempat sebagai teen flick favorit saya, adaptasi dari The Taming of the Shrew ini dipandang sebagai salah satu film romantis remaja era 90-an dengan akting protagonis yang kuat tanpa meninggalkan kesegaran jiwa muda.
    Bianca (Larisa Oleynik) adalah gadis populer yang digandrungi banyak cowok di SMA Padua. Tak terkecuali si anak baru culun, Cameron (Joseph Gordon-Levitt, dari dulu mainnya jadi tokoh hopeless romantic hehehe). Namun, belum ada yang berhasil menaklukkan Bianca, karena sang ayah overprotektif mengajukan sebuah syarat berat : Bianca boleh pacaran kalau Kat (Julia Stiles, one of her best acts)s, kakak perempuannya yang kritis dan judes, juga punya pasangan.
    Terpilihlah Patrick (Heath Ledger), bad boy dengan reputasi tersohor, serigala jantan yang on par sangarnya dengan Kat, si macan betina. Semula hanya mendekati Kat atas dasar bayaran, Patrick dan Kat benar-benar jatuh cinta, membuat semuanya rumit.
    Julia Stiles dan Heath Ledger adalah daya tarik utama film ini. Pasangan yang sama-sama keras, sekaligus menunjukkan kompatibilitas tinggi ini, tak ayal berperan besar mendongkrak popularitas film. Bagian favorit saya adalah ketika Julia membacakan puisi yang jadi judul film ini ’10 Things I Hate about You’ sebagai interpretasi dari soneta Shakespeare. Sesuai karakter Kat yang blunt, namun sangat penyayang terhadap orang-orang istimewa dalam hidupnya.


    2. Get together, friends forever
    Siapa sih yang bikin kita bertahan pada masa-masa sulit sebagai seorang abege? Tentu saja sahabat-sahabat tersayang, geng pertemanan yang lama-kelamaan mulai bertransformasi sebagai saudara. Melalui kekonyolan, kebahagiaan, dan kesedihan bersama; seperti yang dialami geng cowok dan cewek pada dua film ini.

    American Pie
    Tahun rilis : 1999
    Sutradara : Paul Weitz & Chris Weitz
    Pemeran : Jason Biggs, Chris Klein, Thomas Ian Nicholas, Eddie Kaye Thomas, Seann William Scott



    Menjelang kelulusan mereka dari SMA, kuartet cowok Jim (Jason Biggs), Oz (Chris Klein), Kevin (Thomas Ian Nicholas) dan Finch (Eddie Kaye Thomas) membuat sebuah ikrar. Keperjakaan mereka harus lenyap di hari prom night digelar. Masalahnya, kecuali Kevin, tidak ada yang sedang memiliki pacar ataupun gebetan potensial untuk misi birahi ini. Belum lagi, ada Stifler (Seann William Scott) yang terus “merongrong” mental mereka untuk segera man up dan lepas dari status jomblo ngenes. Ternyata, melalui berbagai kejadian memalukan, geng perjaka ini belajar banyak tentang arti seks yang tak hanya hubungan badan semata.
    Film ini mengangkat topik yang lumayan bikin panas dingin, ya. Bisa banget abege yang menonton jadi salah kaprah dan berpikir kalau sex defines your awesomeness. Saya dulu menonton ini bersama geng dan malah kita ngakak parah, apalagi lihat adegan Jim yang sexually awkward, termasuk adegan mastur dengan pai apel (yang kemudian jadi asal judul film ini).
    Setelah American Pie, beberapa film yang melanjutkan perjalanan geng ini pun dirilis dalam waktu berbeda, mulai di masa kuliah, ketika Jim akan menikah, dan reuni setelah belasan tahun mereka resmi menjadi pria dewasa. Benang merahnya masih sama, kekonyolan dan kekompakan mereka yang enggak ada matinya.

    Strike!
    Tahun rilis : 1998
    Sutradara : Sarah Kernochan
    Pemeran : Gaby Hoffmann. Kirsten Dunst, Monica Keena, Heather Matarazzo, Merrit Weaver



    Beralih ke film tentang geng cewek. Sebenarnya ada beberapa film yang mengangkat persahabatan cewek, tetapi saya kesengsem sama film ini karena ada histori ketika saya dan geng SMA dulu menonton film ini di bioskop.
    Berlatar di tahun 1963, lima orang siswi sekolah swasta khusus perempuan, bersatu memberontak dengan cara mereka sendiri. Ada Odie (Gaby Hoffmann), Verena (Kirsten Dunst), Tinka (Monica Keena), Tweety (Heather Matarazzo), dan Momo (Merrit Weaver); menamakan diri mereka D.A.R. (Daughters of the American Ravioli). Masing-masing gadis memiliki mimpi dan kegelisahan sendiri, ingin keluar dari kungkungan aturan konservatif yang memusingkan.
    Puncaknya, D.A.R. menyabotase sebuah acara yang dimaksudkan sebagai penanda bergabungnya sekolah mereka dengan sebuah sekolah swasta khusus laki-laki. Hasilnya tidak terduga, namun D.A.R. gigih memperjuangkan suara mereka dan berhasil menunjukkan bahwa girls can start a riot!
    Film ini juga dibintangi oleh beberapa artis remaja yang populer pada era 90-an akhir, seperti Rachel Leigh Cook, Matthew Lawrence, Vincent Kartheiser, dan Hayden Christensen (yang perannya masih kecil dibandingkan pemeran lain). Tema yang diangkat, meski berlatar jadul, masih membahas hal-hal yang relevan hingga beberapa dekade ke depan, seperti losing your virginity, mengatasi rasa tidak percaya diri, coba-coba menentang aturan, dan seberapa keras kita mempertahankan apa yang kita anggap benar.


    3. Which witch are you : B*tchy or Silly?
    Masuk ke tema yang berbau fantasi, ngomongin dunia sihir dan remaja enggak ada habisnya. Namun, sebelum Harry Potter franchise mendobrak tema magic and teenagers di dekade selanjutnya, para penyihir abege di era 90-an didominasi oleh para cewek SMA dengan intrik-intrik yang tak jauh berbeda dengan dunia manusia : rebutin perhatian cowok dan trying hard to fit in.

    The Craft
    Tahun rilis : 1996
    Sutradara : Andrew Fleming
    Pemeran : Robin Tunney, Neve Campbell, Fairuza Balk, Rachel True



    Siswi baru, Sarah (Robin Tunney), memasuki sebuah SMA di Los Angeles setelah masa lalu yang penuh problematika. Alih-alih berteman dengan remaja “normal”, sisi pemberontak membawanya bergabung dengan tiga gadis yang dijuluki geng penyihir : Bonnie (Neve Campbell), Nancy (Fairuza Balk), dan Rochelle (Rachel True). Ternyata, julukan “penyihir” berubah menjadi nyata. Keempat cewek ini meluncurkan mantra masing-masing demi ambisi pribadi. Yang tak mereka tahu, ilmu hitam menguasai dan membangkitkan monster yang menghancurkan hidup mereka.
    Film-film horor dan thriller remaja punya pasar tersendiri di era 90-an. Film ini yang saya pilih, bukan film-film pembunuh sadis atau setan alas lainnya, karena tema witchcraft ini menarik untuk digali. Dengan promosi yang tergolong tidak heboh, film ini mampu meraih pendapatan nyaris empat kali lipat dari anggaran produksinya! Such a sleeper hit!

    Sabrina the Teenage Witch
    Tahun tayang musim pertama : 1996
    Total musim : 7
    Kreator : Nell Scovell
    Pemeran : Melissa Joan Hart, Caroline Rhea, Beth Broderick, Nate Richert



    Diangkat dari komik yang satu semesta dengan komik favorit Asti, Archie Comics, sitkom ini begitu menghadirkan kekonyolan seorang penyihir remaja yang tengah memantapkan ilmunya. Sabrina (Melissa Joan Hart) mengetahui dirinya punya kekuatan sihir di usia enam belas tahun. Tinggal bersama dua bibi penyihirnya, Hilda (Caroline Rhea) dan Zelda (Beth Broderick) yang umurnya sudah menyentuh lima abad! Didampingi oleh si kucing hitam nan jahil dan sarkastik, Salem, Sabrina menjalani masa muda untuk mengasah kemampuan sihir sekaligus mempertahankan cintanya dengan cowok manusia, Harvey (Nate Richert).
    Ketertarikan saya terhadap sitkom ini didasari dua hal utama : latar dari semesta komik populer dan Salem yang jadi pentolan punchline pada adegan yang diperaninya. Sabrina digambarkan semodel cewek abege masa kini yang lebih dipusingin soal pacaran ketimbang hafalin mantra. Kalau aja enggak ada Salem yang galak, mungkin kelakuannya makin menjadi-jadi hahaha. Kisah cinta Sabrina mayoritas berputar dengan hubungan putus-sambung dengan Harvey (yang ternyata emang soul mate-nya).
    Sitkom ini berawal dari film berjudul sama dan juga diperankan oleh Melissa Joan Hart. Siapa tahu kamu mau nonton juga sekaligus lihat Ryan Reynolds dua dekade lalu yang masih kinyis-kinyis, walaupun gaya tengil-tengil charming-nya udah nongol.


    4. From plain girl to ‘it’ girl
    Formula standar girl-next-door always win, menjadi pakem utama banyak film romantis remaja. Biasanya tokoh Plain Jane ini menyimpan karakter yang lebih cerdas, berperasaan, dan setelah melalui sebuah transformasi, sukses mengalahkan tokoh queen bee atau cewek populer yang hanya mengandalkan tampang. Dua tayangan super sukses ini adalah contohnya.

    She’s All That
    Tahun rilis : 1999
    Sutradara : Robert Iscove
    Pemeran : Rachel Leigh Cook, Freddie Prinze, Jr., Jodi Lynn O’Keefe, Paul Walker



    Putus dari pacar queen bee-nya, Taylor (Jodi Lynn O’Keefe) kurang dari dua bulan sebelum prom night, membuat Zack (Freddie Prinze, Jr.) kesal berat. Popularitasnya sebagai cowok nomor satu di SMA serta merta tercoreng. Terprovokasi oleh taruhan dari sahabatnya Dean (Paul Walker), Zack menyetujui untuk mendekati Laney (Rachel Leigh Cook), si kikuk dari jurusan Seni, untuk diubah menjadi prom queen menyaingi Taylor. Seiring kedekatan mereka dan Laney yang ternyata menyimpan kecantikan luar dalam, Zack beralih memperjuangkan cintanya untuk Laney, meskipun diam-diam Dean dan Taylor berusaha menjegal.
    Dengan premis klise dan alur cerita yang mudah ditebak, Freddie Prinze, Jr. menyelamatkan film ini dengan sangat gemilang. Kalau boleh diganti judulnya menjadi He’s All That, karena pesona Mas Ganteng ini membuat film mengalir dengan natural. Sebagai cowok populer, tipe jock, yang biasanya belagu dan sok kecakepan, justru karakter Zack disajikan manis dan romantis. Satu senyum sejuta watt dilempar olehnya, langsung membuat semua dialog lawan mainnya menguap di udara hahaha. And yes, it’s the late Paul Walker from Fast and Furious franchise who act like a real jock.

    Dawson’s Creek
    Tahun tayang musim pertama : 1998
    Total musim : 6
    Kreator : Kevin Williamson
    Pemeran : James van der Beek, Katie Holmes, Joshua Jackson, Michelle Williams



    Kedatangan cewek kota besar Jen (Michelle Williams) di Capeside membuat dunia Dawson (James van der Beek) jungkir balik. Cinta monyet yang dirasakan cowok kutu buku penggemar film ini berubah menjadi lebih dalam seiring hari berganti. Padahal, sahabat karibnya, Joey (Katie Holmes) diam-diam menyimpan perasaan untuk Dawson sejak lama. Hingga pada suatu malam, Joey mengikuti kontes homecoming, menjalani make over yang membuat kecantikannya bersinar terang. Tak hanya mata Dawson yang terbelalak dan terpesona, Pacey (Joshua Jackson), cowok bengal yang selama ini mengusilinya, ikut jatuh cinta.
    Menutup era 90-an, serial ini bisa dibilang menjelma menjadi sebuah cult di area romansa remaja dan dewasa muda. Jujur, saya tidak menyangka, Kevin Williamson yang sebelumnya dikenal bertangan dingin menghadirkan film-film thriller seperti I Know What You Did Last Summer, Scream, dan Halloween H20, mampu membuat serial semanis dan senelangsa ini. Namun jujur saja, saya paling menikmati musim pertamanya, ketika semua tokoh masih berakting segar dan malu-malu, plus geregetan melihat Joey yang tak berani juga mengungkapkan perasaannya pada Dawson.


    5. Savior of the world
    Nah, masuk ke genre fantasy-action-thriller, saya akan ajukan satu film dan satu serial yang berhasil memompa adrenalin setiap menyaksikannya. Ketika dunia kita terancam bahaya, baik oleh serangan alien dari luar angkasa maupun Iblis dimensi berbeda, selalu ada jiwa-jiwa pemberani yang siap menumpas.

    The Faculty
    Tahun rilis : 1998
    Sutradara : Robert Rodriguez
    Pemeran : Elijah Wood, Josh Hartnett, Shawn Hatosy, Jordana Brewster, Clea Duvall



    Sekelompok siswa SMA Herrington High, Ohio, tak menyangka, sekolah mereka berada di bawah kendali bangsa alien. Casey (Elijah Wood), Zeke (Josh Hartnett), Stan (Shawn Hatosy), Delilah (Jordana Brewster), dan Stokely (Clea Duvall); menyingkap tabir guru-guru mereka terinfeksi oleh makhluk aneh dan keji dari luar angkasa. Dengan narkoba buatan Zeke yang mampu menjadi penangkal, mereka menantang maut untuk menghabisi sang ratu alien, yang bersembunyi di balik kedok salah satu orang terdekat mereka.
    Film ini berisikan sederet nama besar, baik teenage sensation yang pada masa dewasa pun masih berjaya dan aktor-aktris yang sudah lebih dulu populer seperti Salma Hayek, Famke Jansenn, dan Robert Patrick sebagai guru-guru Herrington High. Kepiawaian Robert Rodriguez (From Dusk Till Dawn, trilogi Desperado, Sin City) dalam mengolah ketegangan dan keterlibatan Kevin Williamson si Raja Thriller Remaja dalam screenplay, mengasah area teknik film ini menjadi lebih dari sekadar parade bintang remaja biasa. Saya menyukai geng penyelamat dunia ini terdiri atas berbagai lapisan dalam ekosistem SMA, mulai dari si kutu buku, si outcast, si atlet, si ambisius, sampai si anak baru. Anyone can be the hero and save the world today.

    Buffy the Vampire Slayer
    Tahun tayang musim pertama : 1997
    Total musim : 7
    Kreator : Joss Whedon
    Pemeran : Sarah Michelle Gellar, Nicholas Brendon, Alyson Hannigan, Charisma Carpenter, Anthony Stewart Head



    Terpilih menjadi seorang Slayer, masa remaja Buffy (Sarah Michelle Gellar) berubah dalam sekejap. Tak ada waktu untuk mencari teman kencan, karena malam hari ia harus menumpas iblis, vampir, dan segala kekuatan hitam dengan gagah berani. Dibantu oleh mentornya, Giles (Anthony Stewart Head), serta Scooby Gang : Xander (Nicholas Brendon), Willow (Alyson Hannigan), dan Cordelia (Charisma Carpenter); Buffy menjadi pendekar supranatural yang bersembunyi di balik make up dan gaya stylish saat hari terang.
    Jagoan remaja cewek paling keren pada masanya, pasti tak ada yang menampik kalau Buffy merebut tahta ini. Bahkan, saya sendiri mengagumi, gaya Buffy yang edgy terlihat lebih keren ketimbang serial remaja lain yang terlalu bubbly dan warna-warni. Jauh sebelum Bella Swan pacaran dengan Edward Cullen, Buffy sudah terdepan dalam soal prestasi berhubungan mesra dengan cowok vampir, Angel. Kisah si vampir terkutuk ganteng bin macho yang juga menarik banyak perhatian fans, akhirnya menjadi sebuah serial terpisah alias spin-off dengan judul seperti namanya, Angel.


    Masih banyak film dan serial remaja yang begitu berkesan di era 90-an. Walaupun sempat sembunyi-sembunyi nonton, karena konten beberapa film dan serial yang tergolong “berani”, atau dicela karena dianggap isi cerita yang “dangkal”, saya tidak menyesal pernah menonton dan menyukai teen flick. Ragam tontonan membantu saya berimajinasi lebih luas, apalagi saat membuat cerita fiksi. Saya jadi kangen ingin menonton kembali beberapa judul di atas, sambil cekikikan melihat tampang mulus beberapa seleb di masa culunnya.

    Asti juga ikutan share apa American teen flick kesayangannya. Kamu bisa lihat referensi judul-judul lain yang sayang kalau dilewatkan.

    Kalau kamu bagaimana? Apa American teen flick favoritmu? Share di kolom Komentar, dong!




    Continue Reading
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top