Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • Halo, Kawans!

    Jika biasanya saya membuat review film yang sudah lama diputar bertahun-tahun silam, kali ini saya akan mengulas sebuah film keluarga yang masih hangat dan sedang tayang di bioskop terdekat. Kamu yang masa kecilnya dulu sangat menggemari Si Beruang Menggemaskan dari Disney, Winnie the Pooh, seperti saya, pasti sudah menantikan untuk menyaksikan film ini, Christopher Robin.

    -----



    Judul film : Christopher Robin
    Genre : fantasi, drama, keluarga
    Bulan dan tahun rilis : Agustus 2018
    Sutradara : Marc Foster
    Produser : Brigham Taylor, Kristin Burr
    Penulis skenario : Alex Ross Perry, Tom McCarthy, Allison Schroeder
    Pemeran : Ewan McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Oliver Ford Davies, Jim Cummings, Brad Garrett
    Produksi : Walt Disney Pictures
    Distribusi : Walt Disney Studios Motion Pictures
    Durasi : 104 menit

    -----

    SINOPSIS

    Selepas berpisah dari kawan-kawan fantasinya di Hundred Acre Woods, Christopher Robin (Ewan MacGregor) seolah kehilangan pribadi cerianya, ditelan kerasnya hidup. Ditempa disiplin keras di sekolah asrama dan sempat berjuang dalam Angkatan Bersenjata Inggris pada masa Perang Dunia II, Christopher menjadi pria yang jauh berbeda. 

    Sepulang perang, Christopher berhasil membangun karier di Winslow Enterprise, sebuah produsen koper di London, sebagai spesialis efisiensi. Namun, sang istri, Evelyn (Hayley Atwell) dan Madeline (Bronte Carmichael) merasa mereka kehilangan waktu serta diri seutuhnya Christopher sebagai bagian dari keluarga.


    Madeline - anak perempuan Christopher Robin

    Evelyn - istri Christopher Robin

    Puncaknya, ketika Christopher terpaksa membatalkan janji liburan akhir pekan mereka di rumah peristirahatan daerah Sussex, Evelyn yang sangat kecewa memutuskan tetap pergi bersama Madeline. Sementara, kepala Christopher makin pening mendapati sebuah permintaan presentasi di hari Senin dari Giles Winslow, Jr. (Mark Gatiss), anak pemilik Winslow Enterprise untuk membuat perencanaan PHK sebagai bagian dari “peningkatan efisiensi perusahaan”.

    When the BFF are reunited

     
    Tak disangka, sahabat masa kecil Christopher datang berkunjung. Ialah Winnie the Pooh – atau selanjutnya akrab dipanggil Pooh saja – Si Beruang Menggemaskan dengan filosofi hidup santainya : “Tidak berbuat apa-apa justru akan membawa kebaikan besar dalam hidup.”

    Christopher dan Pooh sama-sama bingung berhadapan dengan pribadi yang kini jadi bertolak belakang. Christopher menganggap Pooh jauh dari cerdas dengan kata-kata kekanakan dan prinsip hidup yang bentrok dengan kerasnya dunia nyata. Sementara, Pooh menyayangkan Christopher dewasa jadi semacam kehilangan “cahaya” aslinya.

    Christopher pun memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan mengembalikan Pooh ke Hundred Acre Woods, tepatnya dekat dengan rumah peristirahatannya di Sussex. Perjalanan pun diwarnai kejadian lucu karena Pooh yang enggan berhenti mengoceh dan menimbulkan kehebohan. Ternyata, misi Christopher memulangkan Pooh berlangsung lebih lama dan membangkitkan lagi nostalgianya, berjumpa dengan para penghuni Hundred Acre Woods seperti Eeyore, Piglet, Tigger, Rabbit, Owl, Kanga, dan Roo.

    Geng Hundred Acre Woods - yay!

    Meaningful convo with Pooh is always a pleasure!

    Christopher kembali ke London untuk menghadiri presentasi pentingnya. Tetapi, masalah ternyata belum selesai. Kini para tokoh yang merasa hidup mereka dulu terbantu oleh Christopher, ingin membalas budi dengan menyelamatkan hidup Christopher dari masalah di dunia barunya. Bagaimana akhirnya Christopher Robin bisa menemukan kembali cahaya dan semangat hidupnya yang menyurut?

    -----

    ULASAN

    Sewaktu saya membawa anak-anak menonton film Christopher Robin, bayangan saya, mereka akan menikmati film ini. Alasannya simpel, karena mereka antusias melihat Pooh dan para kawannya di Hundred Acre Woods sewaktu menonton trailer-nya.

    Ternyata, saya salah besar!

    Pertama, kisah yang ditampilkan dalam film ini, menurut saya bukan untuk konsumsi anak-anak prasekolah. Banyak dialog berat yang menurut saya, sulit untuk dipahami oleh anak-anak. Kemesraan yang ditunjukkan oleh Christopher dan Evelyn pun perlu jadi perhatian, karena ada adegan kissing yang tiba-tiba muncul! Anak-anak gampang bosan, apalagi saya menilai aura film ini cukup gloomy untuk ukuran drama keluarga ala Disney.

    Kedua, porsi para tokoh fantasi, selain Pooh, bisa dibilang hanya memenuhi paling mentok separuh film. Jadi, pupus harapan kalau menantikan banyak adegan menggemaskan dari geng Hundred Acre Woods. Walaupun begitu, saya sendiri lumayan puas waktu Pooh, Piglet, Eeyore, dan Tigger bertualang ke London menyusul Christopher, seru! Di bagian ini pula, anak-anak lumayan anteng dan ikut tertawa.

    Formula film Christopher Robin, mengingatkan saya pada film Hook, di mana sang tokoh utama yang tadinya anak-anak, kini telah menjadi dewasa dan menghadapi problematika tersendiri yang berbeda dengan masa petualangan fantasinya. Tetapi, Christopher Robin diarahkan dengan lebih apik, sehingga kesederhanaan premisnya bisa menjadi sebuah rangka cerita kuat berkat filosofi hidup yang begitu mengena, walaupun latar cerita ini berada puluhan tahun silam.

    Ewan MacGregor (duh, kelihatan banget dia sangat bapak-bapak di sini!) mampu menampilkan sebuah akting yang cukup meyakinkan sebagai Christopher Robin dewasa. Suasana gelap dalam hatinya terbaca jelas dari gestur dan ekspresi muka, sampai intonasi tutur katanya.

    Sementara Hayley Atwell, sayangnya, masih sulit melepaskan citra Agen Peggy Carter dari semesta sinema Marvel. Aktingnya terasa tanggung buat saya. Malah, aktris cilik pemeran Madeline, Bronte Carmichael lebih sukses mengeluarkan emosi sebagai anak yang kesepian dan terluka oleh ketiadaan sang Ayah.

    Yang mencuri perhatian saya, justru Mark Gatiss, yang kita kenal sebelumnya sebagai Mycroft, abang Sherlock Holmes dari serial Sherlock di BBC. Tanpa dialog saja, pasti sudah terbayang betapa menyebalkannya pria ini. Mingkem pun penonton terbawa pengin sleding, hahaha!

    Si antagonis yang bikin pengin sleding
    pic : disney wikia


    Kredit tertinggi saya nyatakan jatuh kepada Jim Cummings, pengisi suara Pooh. Bagaimana ia berhasil menghidupkan karakter Pooh, dengan nada bicara lembut, sesekali guyon, namun selalu ada pesan menohok di balik kalimat silly-but-true miliknya. Pooh inilah yang berhasil menampar saya dengan kiriman pesan untuk melonggarkan sejenak ketegangan berjuang menghadapi dunia nyata. Karena tantangan tak selamanya harus dilawan dengan ketangguhan nan keras, bersantai bukanlah sebuah kebodohan ataupun dosa.

    Kalau mau jujur, saya menyaksikan film ini di saat yang tepat. Saya tengah mengalami kegalauan dan kelelahan lahir batin seperti Christopher, hingga pada titik, saya seperti melupakan bagian hidup untuk relaks dan bersenang-senang. Segala macam tugas, tenggat waktu, proyek, seperti menghabiskan energi saya.

    Tanpa berniat menjadi seseorang yang tidak profesional, saya mengamini apa kata Pooh. Terkadang, tidak melakukan apa-apa (selama beberapa waktu), akan membuat kita justru menghasilkan sesuatu yang lebih berguna ketimbang ngotot mengejar ambisi.

    Untuk film yang memikat dengan kesederhanaannya ini, saya berikan nilai 8 dari 10. Mostly because Pooh stole my heart since his first line.


    Bagaimana dengan kamu? Apa kesan yang kamu dapatkan setelah menonton film Christopher Robin? Yuks, cerita di kolom Komentar!



    photos from IMDB


    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Bagaimana kamu memperingati Hari Kemerdekaan kemarin? Apakah kamu ikut lomba-lomba seru di kompleks atau kantor? Apakah kamu ngedumel karena harus bangun pagi di tanggal merah untuk ikut upacara? Atau apakah kamu terpukau sama prosesi upacara di Istana Merdeka yang ditayangkan di televisi?

    Bagaimanapun caramu merayakan hari jadi negara kita yang ke-73, semoga apa yang kamu lakukan adalah sebuah penghargaan atas kemerdekaan yang patut disyukuri.

    Saya sendiri membuat sebuah langkah spontan yang semoga bisa membawa manfaat bagi negeri ini, khususnya bagi kaum wanita.

    Berawal dari sebuah Facebook post di laman mentor menulis saya, Mak Hanny Dewanti yang baru saya baca kemarin pagi. Mak Oney – begitu ia akrab dipanggil – menyoroti sebuah kejadian yang sontak membuat saya geram sekaligus miris.


    Kisah ini menimpa salah satu novelis populer Indonesia, Ika Natassa. Saya memang bukan penggemar karyanya, namun tetap saja ini tidak membuat saya membenarkan apa terjadi padanya. Ada seseorang (anonim pula) yang menyinggung mengenai Ika yang dicela “fisiknya tidak secantik tokoh fiksi yang ditulisnya”. Saya masukin ya gambarnya di sini, diambil dari Facebook post Mak Oney, yang ternyata screenshot dari Instagram story Ika Natassa.





    Amarah dan kekecewaan saya membuncah. Jujur saja, dengan kemerdekaan yang sudah kita miliki lebih dari tujuh dekade, ternyata wanita Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari stigma dan penghakiman orang lain. Pahitnya, orang lain itu adalah sesama wanita.

    Saya sontak pula teringat salah satu buku non fiksi terbaik yang saya baca tahun ini, Imperfect karya Meira Anastasia. Buku ini mengangkat tentang perjuangan Meira membangun kepercayaan diri dan positive body image setelah mengalami body shaming, baik di masa lalu hingga masa kini. Sebagai istri Ernest Prakasa, Meira sering mendapatkan cemoohan dari netizen maha benar yang berekspektasi konyol “seharusnya istri Ernest bisa lebih menarik dipandang mata”.

    Saya rekomen banget baca buku ini supaya kamu juga dapat pandangan lebih luas mengapa body shaming ini hama yang harus diberantas!

    Well, saya sendiri juga mengalami body shaming sejak kecil sampai sekarang. Mungkin kamu juga mengalami hal yang sama.

    Saya dulu kurus banget, dengan nafsu makan luar biasa. Jadilah dituding cacingan, bulimia, you name it. Begitu kuliah, badan saya bisa lebih berisi, langsung dituding di bagian perut buncit. Sekarang, karena perut saya masih saja membusung, suka sebel kalau dikira hamil. Begitu tahu saya enggak hamil, eh jadi dikomentarin masalah perut, hedehhhh!

    Dan saya kemarin spontan menyadari, awal body shaming sering banget datang dari kalimat pembuka percakapan yang niatnya basa basi, tetapi malah jadi BASI beneran.

    “Eh, kamu kok kurus banget sih?”
    “Kamu gemukan ya?”
    “Jarang olahraga ya? Buncit dan gombyor banget badan.”
    “Kok udah lama lahirannya, masih gede aja badannya?”

    *OTOMATIS BERUBAH HIJAU, BESAR, DAN KEKAR KAYA HULK*


    via GIPHY


    Jadi, kemarin saya – dengan kemampuan desain pas-pasan dan bermodal Canva – langsung membuat sebuah gerakan sederhana. Namanya #STOPbasabasibodi, tagline-nya Mari mulai bicara, tanpa mencela raga. Tujuannya, saya ingin mengajak kita bikin percakapan bermutu, dimulai dari opening line yang enggak menyinggung fisik lawan bicara.



    Frankly speaking, mencela fisik seseorang sering dianggap sebagai lelucon yang menyenangkan. Makanya cela-celaan fisik masih jadi salah satu bahan lawakan yang digemari di Indonesia. Padahal, kata-kata yang awalnya kita lontarkan dalam konteks bercanda, rupanya bisa membekas bagi mereka yang mendengarnya.

    Curcol lagi, saya sempat sebal sama kacamata. Gara-gara sering dihina “mata empat” dan dibilang kacamata bikin saya makin culun, saya dulu gemes banget pengin buru-buru pakai lensa kontak. Akhirnya, saya jadi pemakai lensa kontak sejak tingkat 3 kuliah. Awalnya karena kacamata saya retak dan kacanya nyaris masuk mata waktu tanding basket. Kemudian, si kacamata lama-lama suka ganggu kalau saya praktikum di lab (suka berembun karena keringat).

    Tapi, setelah melahirkan, saya kembali lebih nyaman pakai kacamata sampai sekarang. Ya sudahlah, toh yang membuat saya terlihat menarik bukan melulu dari pakai kacamata atau tidak, tetapi masih banyak faktor lain, misalnya senyum, kulit terawat (pe-er buat rajin skinkeran), muka segar karena cukup istirahat, dan tentu saja bahagia secara batin juga bakal bikin saya lebih bersinar.

    Nah, enggak semua orang punya kesempatan untuk langsung tercerahkan. Membangun positive body image itu memang penting. Namun, tak kalah penting pula bagi kita untuk membantu orang lain memahami dirinya berharga dengan tidak menjatuhkan rasa percaya dirinya.

    repeat the mantra!
    pic : popsugar


    Saya sudah post tentang #STOPbasabasibodi ini di akun Facebook dan Instagram saya. Silakan banget buat share dan repost supaya lebih banyak lagi wanita tahu serta terinspirasi untuk menciptakan hari yang lebih baik.

    Post di Facebook
    Post di Instagram

    Seandainya kamu ingin ikut serta mendukung gerakan ini, kamu bisa kirim DM di Facebook, Instagram, atau e-mail saya, ya! Semakin banyak yang mendukung, semakin cepat dan mudah pula pesan positif ini tersebar serta tersampaikan kepada jutaan wanita Indonesia.

    Your body loves you, love it back! Semoga kita bisa selalu menghargai tubuh ini dan juga menghargai tubuh orang lain. Bikin hari dan dunia ini lebih menyenangkan, yuk!




    Continue Reading



    Halo, Kawans!

    Kembali lagi menulis, kali ini saya akan mengulas sebuah buku, tetapi EHM, posting ini sekaligus nyelipin misi lain. MISI BANG, MISI OM, MISI TEH, MAU KENALIN BUKU ANTOLOGI SAYA *garing mode on*

    Oke, kita mulai dulu dengan basa-basi data buku. Lesgo kemon, Beibeh!

    -----

    Judul Buku : Flashes of Life – 99 Cerita Hidup dan Kematian
    Genre : flash fiction, kumpulan cerita
    Penulis : Carolina Ratri, Winda Reds, Aimee KK, dkk.
    Penerbit : Stiletto Indie Book, Yogyakarta
    Tahun terbit : 2018
    Jumlah halaman : 229 halaman
    ISBN : 978-602-336-701-6

    -----

    BLURB

    Setiap manusia akan melewati berbagai tahapan dalam hidupnya; lahir menjadi anak-anak dan tumbuh menjadi remaja. Saat ia mencari cinta, saat ia menemukan cinta, saat akhirnya ia melabuhkan cinta.

    Kemudian ia akan melanjutkan hidupnya lagi saat sudah hidup bersama orang-orang yang dicintainya, bagaimana ia harus menjalin hubungan dengan manusia lainnya. Dan, saat ia menjelang akhir perjalanannya, hingga akhirnya, semua benar-benar berakhir. Berakhir, dan manusia itu pulang. Pada-Nya yang telah memberikan hidup.

    Inilah kisah-kisah mereka.

    -----

    ABOUT THE BOOK





    Flashes of Life merangkum sembilan tahapan kehidupan sebagai bab-bab penceritaan, yaitu :

    1. Anak dan remaja
    2. Jomlo
    3. Jatuh cinta
    4. Menikah
    5. Keluarga
    6. Profesi
    7. Ulang Tahun Perkawinan
    8. Kakek Nenek
    9. Kematian

    Tiap bab memuat sebelas cerita, jadi total ada sekutu alias Seratus Kurang Satu hehehe, sembilan puluh sembilan cerita dalam satu buku! Jumlah kata per cerita tidak lebih dari tiga ratus, jadi cocok banget buat snack reading.

    Buat yang belum tahu, apa itu flash fiction, cek dulu deh penjelasan Carolina Ratri alias Mak Carra, sang pemimpin proyek menulis ini di blog-nya.

    Baca dulu : FlashFiction - Salah Satu Cara Latihan Menulis Efektif Dan Kreatif


    Buku Flashes of Life juga menyisipkan bonus sembilan tips menulis flash fiction, siapa tahu kamu mau coba ikut praktik menulis flash fiction selesai membaca buku ini.

    Apa keistimewaan dari buku Flashes of Life lainnya?

    Tiga puluh penulis berkontribusi dalam buku ini, semuanya wanita! Tapi, bukan berarti ceritanya penuh kelembutan dan mendayu-dayu. Berbagai genre disajikan, mulai dari romansa, drama, komedi, bahkan thriller dan horor! Ini dia wajah-wajah pejuang pena di balik buku Flashes of Life.



    Naskah-naskah yang masuk sudah melewati seleksi dan suntingan dari sang master flash fiction, Mak Carra. Saya sendiri mendapat kehormatan jadi asisten proyek menulis ini, setelah saya berhasil memenangkan kontes flash fiction #PestaFiksi07 tema romansa yang diadakan oleh Mak Carra di blog-nya. Cerita “Magenta dan Kelabu” yang saya tulis berhasil unggul waktu itu.

    Baca di sini : Magenta dan Kelabu


    Mak Carra pun menggandeng saya ikutan proyek menulis keren ini dan ikut membantu proses pengumpulan naskah, promosi, serta banyak printilan lain. Saya bersyukur banget karena banyak belajar tentang menerbitkan buku indie lewat proyek Flashes of Life ini.

    Total, saya menempatkan sebelas cerita dalam buku Flashes of Life dan tersebar di semua bab yang ada. Ini beberapa kutipan cerita yang ada, saya menulis beberapa genre mulai dari romansa, drama, komedi, dan thriller. Untuk genre horor, saya masih belum berani, di sini anaknya cemen bet deh ah!





    Buku ini jadi penanda keberanian saya untuk mempublikasikan karya dengan lebih masif. Memang, waktu menulis naskah-naskah ini tahun lalu, saya belum mengikuti kelas menulis apa pun. Namun, saya merasakan waktu membuat cerita-cerita ini, ada kebebasan berekspresi tersendiri, meskipun dari segi teknis masih perlu polesan (jujur banget sih saya yaaa hahaha!).

    Kalau ditanya, cerita mana jagoan saya? Saya tentu saja bakal merekomendasikan cerita-ceritanya Mak Carra, dengan level mastah yang jauh di atas! Mak Carra ini bisa banget bikin cerita dengan dialog mengalir dan puntiran (twist) nendang! Sampai ternganga bacanya, apalagi idenya pun sering tak biasa.

    Penulis lain yang juga bikin saya terkagum-kagum adalah Marina Yudhitia dan Nani Nurhasanah. Marina tergolong penulis dengan teknik yang rapi. Enggak heran sih, soalnya Mayin ini emang jebolan kelas cerpen dari Kompas, ciamik lah! Kalau Mbak Nani, saya suka dengan kesederhanaan ide cerita yang bisa ia kemas apik, menarik, dan tidak klise. Menyenangkan banget, ibarat menyantap masakan Ibunda yang tidak “wah”, tetapi membekas kuat dalam ingatan.

    Cover dan layout buku ini dikerjakan sendiri oleh Mak Carra. Saya senang sekali dengan ilustrasi khasnya dan pemilihan warna hijau pada sampul yang begitu segar. Buku ini jadinya catchy dan ketika dibuka dalamnya pun menyenangkan bagi mata yang membacanya.



    Overall, Flashes of Life menyampaikan banyak sekali pesan kehidupan. Ada sisi-sisi gelap yang sering kita abaikan dan tutup mata ketika menemuinya. Selesai menutup buku ini, semoga kamu bisa berpikir lebih dalam bagaimana memaknai hidup dan membuatnya lebih bermanfaat, bukan hanya sebagai perjalanan ala kadarnya belaka.

    Khusus ulasan hari ini, saya tidak akan memberikan skor penilaian. Sebagai gantinya, saya akan memberitahukan ada jadwal book tour Flashes of Life di beberapa akun bookstagrammer dan book blogger.



    Kami pun sedang membuka pre-order tahap kedua untuk buku Flashes of Life. 



    Buku ini dibandrol harga Rp. 54.000,- saja dan akan siap di akhir Agustus. Pengiriman akan dilakukan dari kota Yogyakarta menggunakan ekspedisi Pos Indonesia.

    Order dilakukan via WhatsApp ke nomor berikut :
    Pulau Jawa : 0813-1858-5403
    Luar Jawa : 0812-1911-6312

    Selesai periode tersebut, kamu tetap bisa memesan langsung ke Stiletto Indie Book berikut ini
    http://www.stilettobook.com/flashes-of-life.html

    Info lengkapnya, bisa follow akun Instagram flashesoflife.book di
    https://www.instagram.com/flashesoflife.book/

    Semoga saya bisa segera menyusul menerbitkan novel solo, ya! Tahun ini biarlah Flashes of Life menjadi highlight pencapaian saya di separuh awal 2018. Ditunggu pesananmu, Kawans! Rasakan pengalaman berbeda membaca kumpulan cerita yang istimewa.

    Bab mana yang kira-kira paling menarik perhatianmu? Cerita di kolom Komentar, yuks!





    foto-foto: dok. flashesoflife.book

    Continue Reading
    Halo, Kawans!

    Sudah lama enggak isi blog, padahal banyak draft yang bisa dikembangin. Saya keteteran sama pekerjaan baru, proyekan promosi buku serta event, plus Ninjaboys yang makin sering menuntut perhatian. Jadilah saya kembali ngalong buat nulis. Untungnya ada sesi review rutin di salah satu komunitas menulis yang saya ikuti, jadi saya bisa ambil mentahan dari situ untuk dirapikan dan posting di sini.
    Kali ini, saya akan kembali mengulas film. Bukan film baru, tetapi ini adalah salah satu film romantis favorit dan enggak ragu buat menonton ulang beberapa kali. Siap ikut terhipnotis dan baper sama film keren ini?




    -----
    Judul : Begin Again
    Sutradara : John Carney
    Penulis skenario : John Carney
    Produser : Anthony Bregman, Tobin Armbrust, Judd Apatow
    Genre : drama, musikal
    Pemeran : Keira Knightley, Mark Ruffalo, Hailee Steinfeld, Adam Levine, James Corden


    Produksi : Exclusive Media, Sycamore Pictures, Black Label Media, Likely Story, Apatow Productions
    Distribusi : The Weinstein Company
    Durasi : 104 menit
    Rilis : September 2013 (Toronto International Film Festival), Juni 2014 (komersial)
    -----

    SINOPSIS

    Dan Mulligan (Mark Ruffalo) berada di titik terendah hidupnya. Pernikahannya nyaris kandas, kariernya di tepi jurang karena kebiasaannya menenggak miras terlalu banyak, dan ia benci setengah mati dengan kantornya. Sebagai produser musik di sebuah label ternama, Dan punya idealisme untuk mengasah musisi yang memang berbakat, bukan hanya demi kepentingan komersil belaka. Sayang, atasannya berpikiran lain.
    Di tengah frustrasinya, Dan bertemu dengan Gretta James (Keira Knightley) di sebuah pub kecil kota New York. Pertunjukan “open mic” Gretta tak mendapat perhatian penonton, kecuali Dan. Ia menangkap potensi dari musikalitas dan orisinilitas Si Gadis Inggris yang sepertinya belum sadar dirinya bisa menjadi bintang.

    Gretta, si musisi orisinil :)

    Dan mendekati Gretta dan menguak sebuah fakta mengejutkan. Gretta adalah mantan pacar Dave Kohl (Adam Levine), seorang penyanyi pria tampan yang sedang naik daun. Bahkan, lagu-lagu Dave banyak berasal dari tangan dingin Gretta sebagai pencipta lagu. Popularitas yang meroket membuat Dave berselingkuh, baik dari semangat asli musik yang diciptakannya bersama Gretta maupun dari komitmen hubungan mereka.

    Two talented musicians and (used to be) lovers, Gretta and Dave

    Gretta yang terpuruk, tadinya hendak kembali ke Inggris setelah menumpang tinggal bersama sahabatnya, Steve (James Corden). Namun, Dan mendesak Gretta untuk mencoba peruntungan menawarkan demo ke label tempatnya bekerja. Gretta menyanggupi, meskipun akhirnya kecewa karena lagi-lagi idealismenya berbenturan dengan selera pasar.

    BFF Gretta and Steve

    Akhirnya, Dan mengambil jalan sendiri. Ia menawari memproduseri album “indie” Gretta, dengan merekam lagu-lagu Gretta di seantero New York. Rekaman dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melibatkan musisi-musisi non profesional yang direkrut mendadak, namun punya bakat luar biasa. 

    One of Gretta's recording session, in an alley!

    Dan bahkan mengajak putri remajanya, Violet (Hailee Steinfeld), yang sesungguhnya sedang tidak akur dengannya. Singkat kata, rekaman Gretta berlangsung lancar. 

    Dan and his rebellious yet lonely daughter, Violet
    Tiba-tiba, Dave pun muncul kembali. Ia memohon maaf dan meminta Gretta untuk kembali berhubungan dengannya. Dilema menerpa hati Gretta, apakah semua ini “too good to be true” untuknya? Apa yang akhirnya Gretta pilih untuk menjalani akhir bahagia versinya? Bagaimana dengan Dan, apakah Gretta menjadi lebih dari sekadar titik balik dan kebangkitannya?

    Do they have that other kind of attraction?

    -----

    ULASAN

    Bisa dibilang, Begin Again adalah salah satu film favorit saya dari genre musikal. John Carney sendiri dapat dikatakan sebagai spesialis pembuat film genre musikal modern yang ceritanya tidak “menye-menye” menurut saya.
    Seperti biasa, Mark Ruffalo membuktikan bahwa kapasitasnya sebagai aktor “rom-com” memang lebih bersinar ketimbang berakting murka dalam kulit hijau dan badan raksasa di rentetan film Marvel atau si keturunan pesulap brilian di Now You See Me. Beberapa film romantisnya seperti Just Like Heaven, 13 Going on 30, dan peran pembantu di salah satu film patah hati terbaik, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, semuanya begitu adorable.
    Sayangnya, akting Keira Knightley dan Adam Levine kurang bisa mengimbangi Mark. Mereka berdua tertolong oleh muka rupawan, busana keren, dan ya, suara yang membuai. Setidaknya, ada lagu “Lost Stars” yang dinyanyikan keduanya dalam versi berbeda, sama-sama enak didengar dan liriknya menusuk sampai ke kalbu! Tak salah jika Lost Stars masuk ke dalam nominasi Lagu Terbaik di ajang Academy Awards 2015 lalu.





    Hailee Steinfeld dan James Corden, di lain hal, mampu memberikan akting baik, meskipun menit penampilan mereka tak banyak. Karakter Violet dan Steve tergambar jelas serta menarik perhatian, teringat terus walaupun film telah usai. 
    Jika bingung siapa dua orang yang saya sebut ini, Hailee Steinfeld turut berperan dalam dua film Pitch Perfect, sebagai Emily Junk, si freshman berbakat. Juga bisa kita temukan aktingnya dalam film Ender's Game sebagai Petra Arkanian dan bakal menjadi pemeran utama di film spin-off Transformers, Bumblebee yang rilis tahun ini.
    Sedangkan James Corden, bisa kamu cek sebagai host The Late Late Show dengan segmen hits The Carpool Karaoke. Terakhir, aktor komedi dan dubber animasi asal Inggris ini juga berperan di film Ocean's 8. Kalau pengisi suara, Corden ikut serta di film Trolls, Peter Rabbit, dan The Emoji Movie.
    Kota New York yang dijadikan latar utama film ini, mengambil tempat-tempat yang memberikan kesan “hangat” dari Si “Big Apple di musim panas. Rekaman-rekaman lagu Gretta mengambil berbagai lokasi, mulai dari perahu di Central Park, pelataran Washington Square Gardens, stasiun kereta bawah tanah Manhattan, dan beberapa tempat lainnya.
    Adegan favorit saya adalah ketika Dan dan Gretta berbagi “headphone”, mengambil lagu-lagu jadul dari pemutar musik Gretta. Ada lagu Frank Sinatra, Stevie Wonder, dan soundtrack film Casablanca. Sambil berjalan-jalan di Times Square dan masuk pula ke sebuah klab malam, berjoget dengan lagu berbeda dari pengunjung lainnya.

    Tentu saja, sebagai film musikal, tak lengkap kalau tak membahas deretan lagu keren pengisi soundtrack Begin Again. Gregg Alexander, eks vokalis band New Radicals (dulu populer dengan lagu ‘You Get What You Give’ dan ‘Someday We’ll Know’), adalah penanggung jawab dari musik keren dalam film Begin Again. Semua lagu di album soundtrack Begin Again mantap jaya dan harus kamu dengarkan lengkap!
    Begin Again mengantarkan pesan mengenai mengejar mimpi dan bangkit dari keterpurukan. Ditambah sebuah pengingat bahwa dunia mungkin saja akan berjalan tidak sesuai kemauan kita, namun selalu ada kesempatan untuk mengambil pilihan yang tak biasa, apa pun risikonya.

    pic from Trendsmap

    Seperti kata Dan, musik mampu menciptakan “mutiara yang indah” dari situasi sedangkal apapun. Musik pula yang membuat saya gemar memutar ulang film ini demi meresapi setiap nada yang mewarnai adegan-adegan berkesannya.
    Saya memberi nilai delapan dari skala sepuluh untuk film Begin Again. 









    A must watch, indeed!

    All scene photos from IMDB website


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top