Powered by Blogger.

Pages

  • Home
  • Meet Winda Reds
  • Books
  • Comics
  • Movies
  • TV
  • Winda Says
  • Back to 90s

Mrs. Redsview




  • What up, Dawg?

    Kenapa saya jadi gaya sok gaul ala-ala anak Amrik gini? Anak Amrik zaman 90-an, tepatnya, soalnya kali ini Back to the 90’s Battle bakal bahas halu masa muda sumber kegalauan masa ABG saya dan Asti : American teen flicks!

    Secara spesifik, saya sebutkan film dan serial asal negara Paman Sam memang membanjiri masa remaja kita. Bisa ditonton lewat televisi, bioskop, maupun VCD, inilah penyatu geng pada masa seragam putih biru dan putih abu-abu.

    Menurut artikel yang mengupas sejarah teen movie di situs The Guardian, film remaja sudah muncul di Amerika Serikat sejak akhir era 50-an. Film Round the Clock (1956) disebut sebagai film pertama yang ditargetkan untuk penonton remaja. Para abege tentu saja ingin tontonan yang segar dan menampilkan something that they can relate with. Sebut saja tema pemberontakan karena bentrokan nilai dengan orang dewasa, cinta pertama, persahabatan, fitting in with your peers, hingga pendewasaan diri (coming of age). Balutlah ide dasar dan premis cerita dengan aktor-aktris berwajah rupawan, musik top charts, dan gaya hidup yang trendi, jadilah sebuah teen flick yang membuat penonton muda tergila-gila.

    Tidak sedikit keluar cibiran bahwa teen flick adalah film yang “dangkal” dan minim pesan moral. Well, tanpa bermaksud menabrak norma, saya hanya berkomentar, “Bukankah pada masa remaja kita semua seperti itu? Full of spirits, even we do lots of silly acts, and at many times, make stupid mistakes?”

    Namanya anak muda, ditahan malah semakin kuat meronta. Jadi, mengapa tidak berikan sesuatu yang sesuai dengan kegelisahan mereka? Inilah yang akhirnya membuat teen flick menjadi tontonan yang betah diikuti, bahkan diulang berkali-kali.

    Di era 90-an, ada dua kubu yang bertebaran soal teen flick. Kubu yang seperti permen kapas warna-warni, menyajikan kegembiraan dan hura-hura hidup. Kubu satu lagi, sebagai sisi gelap, memuntahkan ketidaksetujuan akan tatanan masyarakat yang menuntut kesempurnaan, luapan jiwa pemberontak, penantang dunia.

    Saya akan bahas beberapa teen flick yang berkesan di masa remaja dulu, tepatnya di paruh kedua era 90-an (tahun 1995-1999). Untuk masa paruh pertama era 90-an, maaf tidak saya bahas ya, karena memang saya belum mengalami euforia teen flick pada masa itu. Saya akan kelompokkan per dua judul, berdasarkan kesamaan tema di dalamnya.

    Here’s my teen flick super list, just for you!


    1. The new age Shakespearean tale
    Memahami sastra bukan sesuatu yang menarik bagi remaja. Bahasa yang terlampau berbunga-bunga, penuh metafora, mau bilang A kudu muter dulu ke O, P, Q; menghasilkan keruwetan di otak yang tak seberapa. Beruntunglah tangan-tangan kreatif menceburkan diri dan menjadikan karya-karya klasik sebagai premis utama kisah anak muda yang segar. Termasuk dua film abege yang sangat fenomenal ini, sama-sama diangkat dari karya sastrawan Inggris legendaris, William Shakespeare.

    Romeo + Juliet
    Tahun rilis : 1996
    Sutradara : Baz Luhrmann
    Pemeran : Leonardo Dicaprio, Claire Danes, John Leguizamo, Paul Sorvino



    Cerita cinta paling tragis, Romeo and Juliet, sudah diadaptasi dalam berbagai bentuk dan versi. Namun, karya kontemporer dari sutradara bertangan dingin asal Australia, Baz Luhrmann (Moulin Rouge, The Great Gatsby) inilah yang paling menancap di dunia film modern. Berangkat dari budaya ala MTV, Luhrmann merancang latar cerita di area Verona Beach, New York dan perseteruan klan Capulet versus Montague diterjemahkan sebagai persaingan antar geng serupa mafia.
    Leo dan Claire menampilkan chemistry luar biasa sebagai bad boy dan innocent girl yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama lalu rela menantang dunia demi keabadian hubungan mereka. Ehm, kalau ingin lihat cowok-cowok macho, sepupu-sepupu Romeo dan Juliet juga boleh banget dilirik, lo! If you really into those kind of rebellious kind of guy.
    Meskipun saya bukan penggemar Leo, tetapi film ini punya magnet lain, yaitu soundtrack yang keren! Lovefool dari The Cardigans yang digadang-gadang sebagai lagu tema utama memang paling melejit. But, my heart goes to The Wannadies’s, You and Me Song.

    10 Things I Hate About You
    Tahun rilis : 1999
    Sutradara : Gil Junger
    Pemeran : Julia Stiles, Heath Ledger, Joseph Gordon-Levitt, Larisa Oleynik



    Masih memegang tempat sebagai teen flick favorit saya, adaptasi dari The Taming of the Shrew ini dipandang sebagai salah satu film romantis remaja era 90-an dengan akting protagonis yang kuat tanpa meninggalkan kesegaran jiwa muda.
    Bianca (Larisa Oleynik) adalah gadis populer yang digandrungi banyak cowok di SMA Padua. Tak terkecuali si anak baru culun, Cameron (Joseph Gordon-Levitt, dari dulu mainnya jadi tokoh hopeless romantic hehehe). Namun, belum ada yang berhasil menaklukkan Bianca, karena sang ayah overprotektif mengajukan sebuah syarat berat : Bianca boleh pacaran kalau Kat (Julia Stiles, one of her best acts)s, kakak perempuannya yang kritis dan judes, juga punya pasangan.
    Terpilihlah Patrick (Heath Ledger), bad boy dengan reputasi tersohor, serigala jantan yang on par sangarnya dengan Kat, si macan betina. Semula hanya mendekati Kat atas dasar bayaran, Patrick dan Kat benar-benar jatuh cinta, membuat semuanya rumit.
    Julia Stiles dan Heath Ledger adalah daya tarik utama film ini. Pasangan yang sama-sama keras, sekaligus menunjukkan kompatibilitas tinggi ini, tak ayal berperan besar mendongkrak popularitas film. Bagian favorit saya adalah ketika Julia membacakan puisi yang jadi judul film ini ’10 Things I Hate about You’ sebagai interpretasi dari soneta Shakespeare. Sesuai karakter Kat yang blunt, namun sangat penyayang terhadap orang-orang istimewa dalam hidupnya.


    2. Get together, friends forever
    Siapa sih yang bikin kita bertahan pada masa-masa sulit sebagai seorang abege? Tentu saja sahabat-sahabat tersayang, geng pertemanan yang lama-kelamaan mulai bertransformasi sebagai saudara. Melalui kekonyolan, kebahagiaan, dan kesedihan bersama; seperti yang dialami geng cowok dan cewek pada dua film ini.

    American Pie
    Tahun rilis : 1999
    Sutradara : Paul Weitz & Chris Weitz
    Pemeran : Jason Biggs, Chris Klein, Thomas Ian Nicholas, Eddie Kaye Thomas, Seann William Scott



    Menjelang kelulusan mereka dari SMA, kuartet cowok Jim (Jason Biggs), Oz (Chris Klein), Kevin (Thomas Ian Nicholas) dan Finch (Eddie Kaye Thomas) membuat sebuah ikrar. Keperjakaan mereka harus lenyap di hari prom night digelar. Masalahnya, kecuali Kevin, tidak ada yang sedang memiliki pacar ataupun gebetan potensial untuk misi birahi ini. Belum lagi, ada Stifler (Seann William Scott) yang terus “merongrong” mental mereka untuk segera man up dan lepas dari status jomblo ngenes. Ternyata, melalui berbagai kejadian memalukan, geng perjaka ini belajar banyak tentang arti seks yang tak hanya hubungan badan semata.
    Film ini mengangkat topik yang lumayan bikin panas dingin, ya. Bisa banget abege yang menonton jadi salah kaprah dan berpikir kalau sex defines your awesomeness. Saya dulu menonton ini bersama geng dan malah kita ngakak parah, apalagi lihat adegan Jim yang sexually awkward, termasuk adegan mastur dengan pai apel (yang kemudian jadi asal judul film ini).
    Setelah American Pie, beberapa film yang melanjutkan perjalanan geng ini pun dirilis dalam waktu berbeda, mulai di masa kuliah, ketika Jim akan menikah, dan reuni setelah belasan tahun mereka resmi menjadi pria dewasa. Benang merahnya masih sama, kekonyolan dan kekompakan mereka yang enggak ada matinya.

    Strike!
    Tahun rilis : 1998
    Sutradara : Sarah Kernochan
    Pemeran : Gaby Hoffmann. Kirsten Dunst, Monica Keena, Heather Matarazzo, Merrit Weaver



    Beralih ke film tentang geng cewek. Sebenarnya ada beberapa film yang mengangkat persahabatan cewek, tetapi saya kesengsem sama film ini karena ada histori ketika saya dan geng SMA dulu menonton film ini di bioskop.
    Berlatar di tahun 1963, lima orang siswi sekolah swasta khusus perempuan, bersatu memberontak dengan cara mereka sendiri. Ada Odie (Gaby Hoffmann), Verena (Kirsten Dunst), Tinka (Monica Keena), Tweety (Heather Matarazzo), dan Momo (Merrit Weaver); menamakan diri mereka D.A.R. (Daughters of the American Ravioli). Masing-masing gadis memiliki mimpi dan kegelisahan sendiri, ingin keluar dari kungkungan aturan konservatif yang memusingkan.
    Puncaknya, D.A.R. menyabotase sebuah acara yang dimaksudkan sebagai penanda bergabungnya sekolah mereka dengan sebuah sekolah swasta khusus laki-laki. Hasilnya tidak terduga, namun D.A.R. gigih memperjuangkan suara mereka dan berhasil menunjukkan bahwa girls can start a riot!
    Film ini juga dibintangi oleh beberapa artis remaja yang populer pada era 90-an akhir, seperti Rachel Leigh Cook, Matthew Lawrence, Vincent Kartheiser, dan Hayden Christensen (yang perannya masih kecil dibandingkan pemeran lain). Tema yang diangkat, meski berlatar jadul, masih membahas hal-hal yang relevan hingga beberapa dekade ke depan, seperti losing your virginity, mengatasi rasa tidak percaya diri, coba-coba menentang aturan, dan seberapa keras kita mempertahankan apa yang kita anggap benar.


    3. Which witch are you : B*tchy or Silly?
    Masuk ke tema yang berbau fantasi, ngomongin dunia sihir dan remaja enggak ada habisnya. Namun, sebelum Harry Potter franchise mendobrak tema magic and teenagers di dekade selanjutnya, para penyihir abege di era 90-an didominasi oleh para cewek SMA dengan intrik-intrik yang tak jauh berbeda dengan dunia manusia : rebutin perhatian cowok dan trying hard to fit in.

    The Craft
    Tahun rilis : 1996
    Sutradara : Andrew Fleming
    Pemeran : Robin Tunney, Neve Campbell, Fairuza Balk, Rachel True



    Siswi baru, Sarah (Robin Tunney), memasuki sebuah SMA di Los Angeles setelah masa lalu yang penuh problematika. Alih-alih berteman dengan remaja “normal”, sisi pemberontak membawanya bergabung dengan tiga gadis yang dijuluki geng penyihir : Bonnie (Neve Campbell), Nancy (Fairuza Balk), dan Rochelle (Rachel True). Ternyata, julukan “penyihir” berubah menjadi nyata. Keempat cewek ini meluncurkan mantra masing-masing demi ambisi pribadi. Yang tak mereka tahu, ilmu hitam menguasai dan membangkitkan monster yang menghancurkan hidup mereka.
    Film-film horor dan thriller remaja punya pasar tersendiri di era 90-an. Film ini yang saya pilih, bukan film-film pembunuh sadis atau setan alas lainnya, karena tema witchcraft ini menarik untuk digali. Dengan promosi yang tergolong tidak heboh, film ini mampu meraih pendapatan nyaris empat kali lipat dari anggaran produksinya! Such a sleeper hit!

    Sabrina the Teenage Witch
    Tahun tayang musim pertama : 1996
    Total musim : 7
    Kreator : Nell Scovell
    Pemeran : Melissa Joan Hart, Caroline Rhea, Beth Broderick, Nate Richert



    Diangkat dari komik yang satu semesta dengan komik favorit Asti, Archie Comics, sitkom ini begitu menghadirkan kekonyolan seorang penyihir remaja yang tengah memantapkan ilmunya. Sabrina (Melissa Joan Hart) mengetahui dirinya punya kekuatan sihir di usia enam belas tahun. Tinggal bersama dua bibi penyihirnya, Hilda (Caroline Rhea) dan Zelda (Beth Broderick) yang umurnya sudah menyentuh lima abad! Didampingi oleh si kucing hitam nan jahil dan sarkastik, Salem, Sabrina menjalani masa muda untuk mengasah kemampuan sihir sekaligus mempertahankan cintanya dengan cowok manusia, Harvey (Nate Richert).
    Ketertarikan saya terhadap sitkom ini didasari dua hal utama : latar dari semesta komik populer dan Salem yang jadi pentolan punchline pada adegan yang diperaninya. Sabrina digambarkan semodel cewek abege masa kini yang lebih dipusingin soal pacaran ketimbang hafalin mantra. Kalau aja enggak ada Salem yang galak, mungkin kelakuannya makin menjadi-jadi hahaha. Kisah cinta Sabrina mayoritas berputar dengan hubungan putus-sambung dengan Harvey (yang ternyata emang soul mate-nya).
    Sitkom ini berawal dari film berjudul sama dan juga diperankan oleh Melissa Joan Hart. Siapa tahu kamu mau nonton juga sekaligus lihat Ryan Reynolds dua dekade lalu yang masih kinyis-kinyis, walaupun gaya tengil-tengil charming-nya udah nongol.


    4. From plain girl to ‘it’ girl
    Formula standar girl-next-door always win, menjadi pakem utama banyak film romantis remaja. Biasanya tokoh Plain Jane ini menyimpan karakter yang lebih cerdas, berperasaan, dan setelah melalui sebuah transformasi, sukses mengalahkan tokoh queen bee atau cewek populer yang hanya mengandalkan tampang. Dua tayangan super sukses ini adalah contohnya.

    She’s All That
    Tahun rilis : 1999
    Sutradara : Robert Iscove
    Pemeran : Rachel Leigh Cook, Freddie Prinze, Jr., Jodi Lynn O’Keefe, Paul Walker



    Putus dari pacar queen bee-nya, Taylor (Jodi Lynn O’Keefe) kurang dari dua bulan sebelum prom night, membuat Zack (Freddie Prinze, Jr.) kesal berat. Popularitasnya sebagai cowok nomor satu di SMA serta merta tercoreng. Terprovokasi oleh taruhan dari sahabatnya Dean (Paul Walker), Zack menyetujui untuk mendekati Laney (Rachel Leigh Cook), si kikuk dari jurusan Seni, untuk diubah menjadi prom queen menyaingi Taylor. Seiring kedekatan mereka dan Laney yang ternyata menyimpan kecantikan luar dalam, Zack beralih memperjuangkan cintanya untuk Laney, meskipun diam-diam Dean dan Taylor berusaha menjegal.
    Dengan premis klise dan alur cerita yang mudah ditebak, Freddie Prinze, Jr. menyelamatkan film ini dengan sangat gemilang. Kalau boleh diganti judulnya menjadi He’s All That, karena pesona Mas Ganteng ini membuat film mengalir dengan natural. Sebagai cowok populer, tipe jock, yang biasanya belagu dan sok kecakepan, justru karakter Zack disajikan manis dan romantis. Satu senyum sejuta watt dilempar olehnya, langsung membuat semua dialog lawan mainnya menguap di udara hahaha. And yes, it’s the late Paul Walker from Fast and Furious franchise who act like a real jock.

    Dawson’s Creek
    Tahun tayang musim pertama : 1998
    Total musim : 6
    Kreator : Kevin Williamson
    Pemeran : James van der Beek, Katie Holmes, Joshua Jackson, Michelle Williams



    Kedatangan cewek kota besar Jen (Michelle Williams) di Capeside membuat dunia Dawson (James van der Beek) jungkir balik. Cinta monyet yang dirasakan cowok kutu buku penggemar film ini berubah menjadi lebih dalam seiring hari berganti. Padahal, sahabat karibnya, Joey (Katie Holmes) diam-diam menyimpan perasaan untuk Dawson sejak lama. Hingga pada suatu malam, Joey mengikuti kontes homecoming, menjalani make over yang membuat kecantikannya bersinar terang. Tak hanya mata Dawson yang terbelalak dan terpesona, Pacey (Joshua Jackson), cowok bengal yang selama ini mengusilinya, ikut jatuh cinta.
    Menutup era 90-an, serial ini bisa dibilang menjelma menjadi sebuah cult di area romansa remaja dan dewasa muda. Jujur, saya tidak menyangka, Kevin Williamson yang sebelumnya dikenal bertangan dingin menghadirkan film-film thriller seperti I Know What You Did Last Summer, Scream, dan Halloween H20, mampu membuat serial semanis dan senelangsa ini. Namun jujur saja, saya paling menikmati musim pertamanya, ketika semua tokoh masih berakting segar dan malu-malu, plus geregetan melihat Joey yang tak berani juga mengungkapkan perasaannya pada Dawson.


    5. Savior of the world
    Nah, masuk ke genre fantasy-action-thriller, saya akan ajukan satu film dan satu serial yang berhasil memompa adrenalin setiap menyaksikannya. Ketika dunia kita terancam bahaya, baik oleh serangan alien dari luar angkasa maupun Iblis dimensi berbeda, selalu ada jiwa-jiwa pemberani yang siap menumpas.

    The Faculty
    Tahun rilis : 1998
    Sutradara : Robert Rodriguez
    Pemeran : Elijah Wood, Josh Hartnett, Shawn Hatosy, Jordana Brewster, Clea Duvall



    Sekelompok siswa SMA Herrington High, Ohio, tak menyangka, sekolah mereka berada di bawah kendali bangsa alien. Casey (Elijah Wood), Zeke (Josh Hartnett), Stan (Shawn Hatosy), Delilah (Jordana Brewster), dan Stokely (Clea Duvall); menyingkap tabir guru-guru mereka terinfeksi oleh makhluk aneh dan keji dari luar angkasa. Dengan narkoba buatan Zeke yang mampu menjadi penangkal, mereka menantang maut untuk menghabisi sang ratu alien, yang bersembunyi di balik kedok salah satu orang terdekat mereka.
    Film ini berisikan sederet nama besar, baik teenage sensation yang pada masa dewasa pun masih berjaya dan aktor-aktris yang sudah lebih dulu populer seperti Salma Hayek, Famke Jansenn, dan Robert Patrick sebagai guru-guru Herrington High. Kepiawaian Robert Rodriguez (From Dusk Till Dawn, trilogi Desperado, Sin City) dalam mengolah ketegangan dan keterlibatan Kevin Williamson si Raja Thriller Remaja dalam screenplay, mengasah area teknik film ini menjadi lebih dari sekadar parade bintang remaja biasa. Saya menyukai geng penyelamat dunia ini terdiri atas berbagai lapisan dalam ekosistem SMA, mulai dari si kutu buku, si outcast, si atlet, si ambisius, sampai si anak baru. Anyone can be the hero and save the world today.

    Buffy the Vampire Slayer
    Tahun tayang musim pertama : 1997
    Total musim : 7
    Kreator : Joss Whedon
    Pemeran : Sarah Michelle Gellar, Nicholas Brendon, Alyson Hannigan, Charisma Carpenter, Anthony Stewart Head



    Terpilih menjadi seorang Slayer, masa remaja Buffy (Sarah Michelle Gellar) berubah dalam sekejap. Tak ada waktu untuk mencari teman kencan, karena malam hari ia harus menumpas iblis, vampir, dan segala kekuatan hitam dengan gagah berani. Dibantu oleh mentornya, Giles (Anthony Stewart Head), serta Scooby Gang : Xander (Nicholas Brendon), Willow (Alyson Hannigan), dan Cordelia (Charisma Carpenter); Buffy menjadi pendekar supranatural yang bersembunyi di balik make up dan gaya stylish saat hari terang.
    Jagoan remaja cewek paling keren pada masanya, pasti tak ada yang menampik kalau Buffy merebut tahta ini. Bahkan, saya sendiri mengagumi, gaya Buffy yang edgy terlihat lebih keren ketimbang serial remaja lain yang terlalu bubbly dan warna-warni. Jauh sebelum Bella Swan pacaran dengan Edward Cullen, Buffy sudah terdepan dalam soal prestasi berhubungan mesra dengan cowok vampir, Angel. Kisah si vampir terkutuk ganteng bin macho yang juga menarik banyak perhatian fans, akhirnya menjadi sebuah serial terpisah alias spin-off dengan judul seperti namanya, Angel.


    Masih banyak film dan serial remaja yang begitu berkesan di era 90-an. Walaupun sempat sembunyi-sembunyi nonton, karena konten beberapa film dan serial yang tergolong “berani”, atau dicela karena dianggap isi cerita yang “dangkal”, saya tidak menyesal pernah menonton dan menyukai teen flick. Ragam tontonan membantu saya berimajinasi lebih luas, apalagi saat membuat cerita fiksi. Saya jadi kangen ingin menonton kembali beberapa judul di atas, sambil cekikikan melihat tampang mulus beberapa seleb di masa culunnya.

    Asti juga ikutan share apa American teen flick kesayangannya. Kamu bisa lihat referensi judul-judul lain yang sayang kalau dilewatkan.

    Kalau kamu bagaimana? Apa American teen flick favoritmu? Share di kolom Komentar, dong!




    Continue Reading



    Halo, Kawans! Maaf ya, posting Back to the 90’s Battle minggu ini super telat. Ada beberapa kesibukan dan agenda liburan mendadak yang bikin saya tertunda terus mengetik ini.

    Kali ini, saya dan Asti akan membahas mengenai musik di era 90-an. Untuk membuatnya spesifik, kami akan mengupas sesuatu yang sangat memorable di telinga anak muda masa kita SD sampai SMA dulu : British invasion in the rock music scene!

    Sebenarnya, Inggris sudah terkenal sebagai negara kolonialis yang menguasai banyak sekali negara di masa peperangan dahulu. Nah, di industri musik, “serangan” juga tanpa ampun dilancarkan, terutama terhadap negara adidaya, Amerika Serikat.

    British invasion di bidang musik dikenal pertama kali di era 60-an. Waktu itu, beberapa band rock n roll asal negeri Ratu Elizabeth ini mengguncang dunia, bahkan mencatatkan diri menjadi legenda musik hingga kini. Siapa yang tak kenal The Rolling Stones dan The Beatles? Dua band dewa ini hingga sekarang masih menjadi inspirasi bermusik dari generasi ke generasi.

    Rupanya, di era 80-an, invasi ini kembali terjadi, dan dinamakan dengan second British invasion. Saat tren glam rock dan musik dance sedang digilai, masuklah band-band yang kemudian kembali menjadi nama-nama super beken. Sebutlah U2, The Police, Duran Duran, Depeche Mode, Joy Division, dan sederet nama lainnya.

    Pergerakan ini terus berlangsung hingga di akhir 80-an, menyeruaklah fenomena Madchester. Beberapa band indie asal kota Manchester, Inggris, memperkenalkan a new kind of sound, mendobrak tren musik di Inggris yang saat itu dikuasai musik glam rock. Nama-nama The Stone Roses, James, The Charlatans, dan Happy Mondays, menjadi raja-raja pertama, eyang dari Britpop sebelum Gallagher bersaudara meledakkan nama Britpop ke seantero dunia.

    Nah, ternyata serbuan ini tak menyurut di era 90-an. Malah, tidak hanya musik rock saja yang jadi sasaran, namun area musik pop, rock bahkan musik dansa secara signifikan mulai mengalami perubahan peta pula. Saluran musik terkemuka, MTV, menjadi ujung tombak tersebarnya pengaruh Inggris dalam dunia musik waktu itu.

    Apa saja serangan-serangan maut dari balik bendera Union Jack ini?

    Pertama, ada genre britpop. Genre musik yang satu ini sebenarnya adalah sempalan dari musik alternatif dan indie rock. Encyclopedia Brittanica mendefinisikan brit pop sebagai pergerakan musik rock dari Inggris di era 90-an dengan ciri khas petikan gitar melodius ala musik The Beatles. Dalam definisi itu pula, disebutkan tiga band yang termasuk jadi nama-nama teratas dalam brit pop, yaitu Oasis, Blur, dan Pulp. Meskipun, akhirnya dunia pesohor lebih sering diributkan oleh rivalitas dua band yang disebut pertama.

    Blur
    pic : nme.com

    Oasis
    pic : nme.com

    Pulp
    pic : nme.com


    Perseteruan Oasis dan Blur mulai terlihat kentara ketika kedua band ini mengeluarkan single di waktu bersamaan, sehingga saling bersaing di tangga lagu. Sebut saja lagu Roll with It (Oasis) yang berduel dengan Country House (Blur). Keduanya disebut-sebut sebagai perwakilan dari sisi utara dan sisi selatan Inggris, dengan sound berbeda. Tabloid-tabloid di Inggris pada era 90-an jadi dipenuhi oleh ajang adu populer keduanya.

    Di Inggris sendiri, Blur mengalahkan Oasis dalam hal angka penjualan album kala itu. Namun, Oasis yang lebih cerdik, berhasil melakukan ekspansi ke Negeri Paman Sam, America Serikat dan meraup lebih banyak popularitas. Teringat pada album fenomenal (What’s The Story) Morning Glory? di tahun 1995, yang lagu-lagunya tak absen tayang di saluran MTV. Setidaknya ada enam lagu yang melejit dari album tersebut : Roll with It, Wonderwall, Don’t Look Back in Anger, Some Might Say, Morning Glory, dan Champagne Supernova.

    Saya sendiri, tidak terlalu ambil pusing oleh perseteruan dua klan Britpop tersebut. Lagu-lagu mereka sama saja enaknya, terlepas dari gontok-gontokan dan sederet perilaku ala bad boy yang kerap ditunjukkan oleh para frontman, Liam dan Noel Gallagher versus Damon Albarn dan Graham Coxon.

    Tak sembarangan jika saya bilang, britpop merupakan serangan terdahsyat Inggris di era 90-an dalam kancah musik rock. Rasanya, dulu waktu saya ABG, cowok dengan rambut berponi ala Gallagher brothers dan Damon Albarn bertebaran dimana-mana. Apalagi dulu para penggila Britpop ini rajin nongkrong di gigs band-band lokal yang membawakan lagu-lagu dari ranah Britania. Salah satunya yang populer di Jakarta, adalah Poster Cafe.

    Jika dilanjutkan, ada pula masa dan aliran musik kedua yang dikatakan sebagai post britpop. Di sini, band-band Inggris mulai mengawinkan berbagai sound unik yang membuat musik rock semakin enak didengar, tak terkecuali musik alternatif dan grunge ala Amerika. Nah, kalau mau diadu, saya sebenarnya lebih suka dengan aliran ini.

    Sebut saja, Radiohead, The Verve, dan Stereophonics, terasa tidak semendayu britpop. Genre ini pula yang nantinya menjadi cikal bakal band-band Inggris pasca milenium seperti Coldplay, Artic Monkeys, Kaiser Chiefs, Bloc Party, dan sejenisnya.

    Radiohead
    pic : spin.com

    The Verve
    pic : allmusic.com

    Stereophonics
    pic : nme.com


    Sebagai anak nongkrong MTV, saya dan mungkin juga kamu, tentu tahu dengan sebuah program yang wajib ditonton remaja gaul pada zamannya : MTV Alternative Nation. Saya juga turut membeli kedua album kompilasinya.

    MTV Alternative Nation album volume 1
    pic : discogs

    MTV Alternative Nation album volume 2
    pic : musik-sammler.de


    Bisa dilihat, isi album ini memang masih menggabungkan musik alternatif dari Inggris dan Amerika. Namun, sebagai penyimak peta musik rock era 90-an, memang band-band Britania Raya punya ciri khas yang lebih menghipnotis.

    Tidak percaya?

    Saya akan masuk ke pembahasan serangan ketiga, yaitu musik elektronika. Jika di era 80-an, ada Duran Duran, Pet Shop Boys, dan New Order yang mengusung sound elektronik dalam musiknya, maka era 90-an mengenal sebuah genre bernama trip hop.

    Dalam trip hop, unsur utama musik adalah hip hop dan elektronika. Dua band asal Inggris, Massive Attack dan Portishead menjadi penggedor di garis depan untuk genre ini. Saya ingat betul, bahkan Melly Goeslaw yang dulu masih aktif di band Potret, menyebutkan Portishead sebagai salah satu pengaruh bermusiknya. Ini yang kemudian saya rasa menjadi inspirasi salah satu lagu Potret yang berjudul Diam.

    Massive Attack
    pic : discogs

    Portishead
    pic : discogs


    Radiohead pun sempat mencicipi elektronika dalam album mereka, OK Computer dan Kid A. Sebuah terobosan menarik, namun mendapatkan kritik pula dari beberapa pengamat musik. Saya termasuk menikmati eksperimen ini, karena ada warna berbeda yang membuat lagu-lagu Radiohead semakin variatif.

    Untuk musik electronic dance, tentu pecinta perdugeman era 90-an tahu tiga nama besar berikut : Prodigy, The Chemical Brothers, dan Fatboy Slim. Tak dipungkiri, tiga nama tersebut adalah penguasa lantai dansa dengan beats yang menghentak, namun tidak bikin pusing kepala alias godek-godek enggak jelas hahaha.

    The Chemical Brothers
    pic : getty images
    Prodigy
    pic : reuters
    Fatboy Slim
    pic : fatboyslim.net


    Tak lengkap jika saya membahas ini itu, tanpa membocorkan playlist seri British Invasion ini. Kali ini, saya akan berikan daftar yang bukan berisi lagu-lagu standar, yang mungkin kalau kamu lihat, bakalan seperti udah tebak apa isinya. Lagu-lagu ini mungkin pernah kamu dengar, pernah kamu suka, namun saya rasa sudah banyak yang mulai melupakannya.

    Inilah tujuh lagu ‘terserang Inggris’ pilihan Mamah Merah :


    1. Fake Plastic Trees – Radiohead
    Oasis dan Blur boleh saja disebut sebagai raja diraja musik rock Inggris, namun selera saya tak bisa berpaling dari band asal Oxfordshire ini. Keberanian mereka bereksperimen menarik perhatian saya dan jujur saja, keunikan vokal Thom Yorke yang macam hidup dalam alamnya sendiri, really dope!
    Jika kebanyakan orang akan mengingat Radiohead dari tembang Creep dan High and Dry, lagu paling memorable versi saya adalah lagu mereka yang satu ini. 



    Apalagi, jika perhatikan baik-baik, video klip lagu ini yang fenomenal, saat Thom Yorke, sang vokalis duduk di troli sebuah supermarket. Cuplikan video Fake Plastic Trees juga menjadi salah satu opening title program MTV (MTV Fresh, tepatnya, kalau ingatan saya belum error, ya!). Kabarnya, lagu dari album The Bends ini dibuat Yorke dalam kondisi mental yang sangat tidak stabil dan prosesnya mengalir begitu saja. Well, I must say, coming from a screwed mind, you did a very good job making this kind of music, Sir.


    2. The Everlasting – Manic Street Preachers
    Saya mengenal Manic Street Preachers pertama kali waktu menemukan salah satu lagu mereka A Design for Life ada di album MTV Alternative Nation volume pertama. Kemudian, begitu masuk ke album berikutnya, saya menyebut band asal Wales ini sebagai pembuat judul lagu sepanjang jalan kenangan. Mungkin karena judul albumnya saja panjang : This Is My Truth Tell Me Yours. Plus, dua lagu lainnya yang judulnya mirip artikel viral jaman now, If You Tolerate This And Your Children Will Be Next dan You Stole The Sun From My Heart.



    Tapi, melodi dan lirik dalem ala Manic Street Preachers memang sukses mengambil hati saya. Cinta yang sama akhirnya tumbuh kembali di tahun 2004, ketika saya berkenalan dengan band Keane, yang saya sering sandingkan di hati bersama Manic Street Preachers.


    3. Govinda – Kula Shaker
    Hayo pasti kamu lupa deh, pernah ada lagu berlirik India yang enggak bikin kamu joget-joget di balik pohon atau nari hujan-hujanan? Ya, band yang satu ini nekat membuat lagu yang liriknya lebih parah pengulangannya dari lagu anak-anak. Tapi, apa mau dikata, nada dan liriknya sangat catchy. Jadilah mudah menempel pada memori and delightedly stuck in our head.



    Kula Shaker memang menempatkan unsur India dan mengadopsi konsep spiritualitas dalam band. Dari namanya saja, yang diambil dari salah satu raja India di abad kedelapan, Kulasekhara, sudah terlihat betapa kentalnya nuansa negeri Asia Selatan itu bagi Crispian Mills, dkk. Suara sitar, tamborin, dan tabla setia mengisi musik Kula Shaker. Sayangnya, kritikus kurang menyukai Kula Shaker dan saya lihat, setelah album perdana mereka, K di tahun 1996, Kula Shaker seakan tenggelam oleh band-band lain yang lebih kreatif meramu musik mereka.


    4. Glory Box – Portishead
    This song sounds like a great temptation! Diambil dari album perdana mereka berjudul Dummy, vokal Beth Gibbons begitu menggoda, seperti menyuarakan lirik seorang wanita yang ingin benar-benar dicintai, bukan sekadar jadi mainan belaka. 



    Lagu ini termasuk populer karena iramanya yang khas, digunakan sebagai latar musik pada film, serial televisi, dan iklan. Iklan yang dulu sering diputar adalah denim ternama, Levi’s, dengan plot seorang siswa sekolah dasar yang melihat seorang pria bercelana denim keren, mendapatkan pesan rahasia dari seorang wanita (yang rupanya adalah guru sang siswa).



    Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, genre yang diusung Portishead, yaitu trip hop, memang tidak biasa. Like a fresh air in the music scene, keistimewaan aliran musik ini membuat Portishead wajib didengarkan bagi siapa saja yang ingin isi playlist lebih berwarna dan bukan yang standar saja.


    5. Three Lions – Lightning Seeds
    Oke, Inggris dan sepakbola seperti anak kembar siam yang sulit dipisahkan. Maka, tak salah jika saya harus memasukkan lagu yang satu ini ke dalam playlist hari ini. Band ini adalah salah satu favorit suami saya dan sering saya dengar di radio mobil hingga sekarang. Selain karena berasal dari kota Inggris favorit saya, Liverpool, lagu ini mengungkapkan doa, harapan, dan semangat para pendukung kesebelasan Inggris (yang hingga kini belum berhasil memboyong kembali Piala Dunia ke ranah Britania).



    Dengan lirik yang turut disusun oleh duo komedian Inggris, David Baddiel dan Frank Skinner, lagu Three Lions dibuat untuk menyambut Piala Eropa 1996 yang memang digelar di Inggris waktu itu. Sayang, meskipun menjadi tuan rumah, gelar juara masih belum beruntung diraih dan masih berlanjut ke ajang internasional lainnya. Setidaknya, lagu ini masih terus populer, apalagi dengan jargon andalan football’s coming home, yang semoga saja bisa terwujud dalam waktu dekat.


    6. Me and You Versus The World - Space
    Tak banyak yang tahu band satu ini. Memang, dari luar band yang berkiblat pada The Who ini terlihat biasa saja. Frontman-nya bukan tipe bad boy dengan wajah menarik. Melodi lagunya pun campur aduk dengan berbagai sound. Namun, apa yang jadi kekuatan band ini adalah ide lagu yang tidak biasa (seperti tentang sakit jiwa dan serial killer) plus lirik yang seringkali berbau dark humor. Katanya sih, Tommy Scott, sang penulis lagu sekaligus vokalis utama band ini banyak terinspirasi dari sutradara Quentin Tarantino dan kartun Looney Tunes dalam membuat lagu-lagunya.



    Datang dari album Spiders, saya memandang lagu ini sebagai bentrokan antara suara hati Bonnie and Clyde campur Romeo and Juliet, tetapi dengan gaya lebih tengil dan kocak. Mungkin, kalau kamu lagi pacaran backstreet atau nekat mau kawin lari menentang restu, bisa makin nekat kalau menghayati lagu ini hihihi.


    7. Block Rockin’ Beats – The Chemical Brothers
    Sebagai penutup daftar, saya persembahkan tembang yang paling nendang soal serangan Britania Raya. Sempat menjadi ringtone di ponsel saya, betotan bas, hentakan drum, dan suara towet towet dalam lagu ini memang sangat berkesan. Rasanya pengin setel lagu ini dalam volume yang bikin runtuh atap rumah, kalau kepala lagi puyeng sama ulah ninjaboys, wakwaw! Meskipun saya masih enggak bisa lancar ngomong ‘back with another one of those’ tanpa kesrimpet di depan kata ‘block rockin beats’ hehehe.



    Tapi, kejeniusan Tom Rowlands dan Ed Simons memang luar biasa. Sampai Noel Gallagher, pentolan Oasis, yang juga sama-sama berasal dari kota asal mereka, Manchester, ikut berkolaborasi dalam beberapa tembang, seperti Setting Sun dan Let Forever Be. Belum sah begajulan di era 90-an kalau belum bergoyang dengan lagu peraih Grammy 1998 kategori Rock Instrumental ini!


    Wow! Memang tak ada habisnya kalau membahas soal musik 90-an. Apalagi, kalau mendengar musik masa kini yang mulai terdengar membosankan di telinga, kembali ke playlist nostalgia ini adalah penyegaran yang oke banget dicoba.

    Penasaran sama pilihan lagu-lagu brit invasion ala Asti? Baca di post-nya yang satu ini!

    Dan saya juga sedang membuat serial romance di Wattpad berjudul Bittersweet Love Rhapsody yang menggunakan sederet lagu-lagu 90's, termasuk british invasion songs. Mampir baca, vote, dan comment sekalian boleh lho!

    Kamu sendiri, apakah dulu sempat tergila-gila dengan salah satu band yang saya bahas di atas? Atau ada pilihan favoritmu sendiri yang masih susah move on darinya? Share di kolom Komentar, yuks!

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Who's Winda?

    My photo
    winda reds
    silly geeky newbie writer | a big fan of the 90's | can't resist cute cats, British accents and guys with geeky glasses
    View my complete profile

    Back to the 90's Battle

    Back to the 90's Battle
    Karena era 90-an terlalu manis untuk dilupakan

    Medsos Mamah Merah

    • facebook
    • instagram
    • twitter
    • linkedin
    • wattpad
    • storial

    Labels

    90sbattle backto90s books comics fiction movies music non fiction TV webtoon winda says

    Blog Archive

    • April 2020 (1)
    • September 2018 (2)
    • August 2018 (2)
    • July 2018 (3)
    • June 2018 (3)
    • May 2018 (3)
    • April 2018 (5)
    • March 2018 (4)
    • February 2018 (5)

    Popular Posts

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Most Popular

    • Tujuh Komik Jepang Ini Bikin Masa Kecil Saya Jadi Super Bahagia!
    • Allah Selalu Ada Untukku - Buku Islami Anak yang Menyentuh dan Sedap Dipandang

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top